Air di dalam jacuzzi itu seolah ikut bergolak seiring dengan gerakan mereka yang makin intens.
Vero bener-bener gak bisa mikir apa-apa lagi. Ucapan Gavin tentang Jakarta, tentang jadi wanitanya, dan tentang pindah ke apartemen mewah pria itu mendadak menguap begitu saja dari otaknya, digantikan oleh sensasi kenikmatan luar biasa yang menghantam seluruh saraf tubuhnya.
Setiap kali gelombang air hangat menerpa punggung polosnya, sentuhan kulit Gavin di bawah air terasa berkali-kali lipat lebih panas.
Vero mencengkeram bahu kokoh Gavin seerat mungkin, menenggelamkan kuku-kukunya di sana saat Gavin menaikkan ritme permainan mereka dengan d******i yang bener-bener bikin pasrah.
"Om ... ah ... pelan-pelan, Om," racih Vero dengan suara yang terputus-putus. Matanya terpejam erat, kepalanya mendongak ke belakang menikmati setiap sentuhan matang yang Gavin berikan.
Panggilan ‘Om’ itu meluncur begitu saja dari bibirnya, terdengar sangat seksi di antara deburan ombak laut lepas di bawah tebing.
Gavin gak membalas dengan kata-kata. Pria itu justru makin mempererat pelukannya di pinggang Vero, mengangkat tubuh mungil wanita itu sedikit lebih tinggi di dalam air sebelum menghentaknya kembali dengan dalam.
Seringai puas tercetak di wajah tampannya saat mendengar desahan manja Vero yang bersahut-salaman dengan suara angin malam yang mulai berembun.
Langit Islandia di atas mereka sudah benar-benar berubah gelap, digantikan oleh hamparan bintang-bintang kecil yang mulai bermunculan.
Tapi, bagi Vero, dunianya saat ini cuma berputar di sekitar Gavin Lorenso.
Tepat saat malam benar-benar jatuh, mereka berdua mencapai puncak gairah bersama-sama.
Vero memekik pelan, tubuhnya gemetar hebat di dalam pelukan Gavin sembari menyandarkan kepalanya yang lemas di d**a bidang pria itu.
Napasnya memburu cepat, membuang karbondioksida yang terasa panas ke kulit d**a Gavin yang basah.
Gavin mengecup bahu polos Vero yang terekspos di atas permukaan air, lalu mengusap punggung wanita itu dengan lembut untuk menenangkan detak jantung mereka yang sama-sama marathon.
"Gimana? Masih pusing mikirin tawaran saya yang tadi?" bisik Gavin lembut tepat di telinga Vero, suaranya yang berat terdengar sangat intim di tengah keheningan malam tebing Islandia.
Vero membuka matanya perlahan. Sisa-sisa gairah masih membuat pandangannya agak sayu.
Vero menatap hamparan laut gelap di depan mereka, lalu beralih menatap wajah Gavin yang sedang tersenyum tipis, menanti jawabannya.
Vero menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin malam mengisi paru-parunya sebelum menjawab. "Om bener-bener tahu cara mengintimidasi orang ya. Di dalam ruang rapat pake saham, di dalam jacuzzi pake gairah."
Gavin terkekeh rendah, suara tawa seksi yang selalu berhasil bikin perut Vero geli. "Itu namanya memanfaatkan peluang, Vero. Jadi, gimana? Kamu mau ikut saya balik ke Jakarta sebagai wanita saya?"
Vero terdiam sejenak. Menjadi wanita seorang Gavin Lorenso jelas bukan hal yang biasa.
Kehidupan lamanya yang membosankan di Jakarta, pergi pagi pulang petang, dikejar deadline bos, dan tinggal di kos-kosan sempit, bakal langsung berubah 180 derajat.
Dia bakal punya fasilitas mewah, apartemen berkelas, dan pria matang paling berkarisma ini di sisinya.
Tapi di sisi lain, Vero juga tahu konsekuensinya. Hubungan seperti ini jelas gak akan punya status resmi di mata hukum atau masyarakat. Dia bakal jadi rahasia terindah yang Gavin miliki.
"Kalau aku bilang iya ... Om janji gak bakal bosan sama aku dalam waktu sebulan?" tanya Vero dengan nada santai tapi ada sedikit keraguan yang terselip di matanya.
Gavin menarik dagu Vero, memaksa wanita itu buat menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang hitam pekat. "Saya gak pernah main-main sama apa yang udah saya pilih, Veronika. Kalau saya bilang saya mau kamu, artinya saya bakal mengikat kamu sampai saya sendiri yang mutusin buat berhenti. Dan, melihat gimana kamu bener-bener candu buat saya sekarang ... rasanya waktu sebulan itu terlalu singkat."
Mendengar jawaban tegas tanpa keraguan dari Gavin, benteng pertahanan terakhir di dalam diri Vero runtuh sepenuhnya.
Lagipula, siapa juga wanita yang bisa menolak pesona seorang Gavin Lorenso di tengah atmosfer Islandia yang sewidtis ini?
Vero mengulas senyum manis, senyuman paling cantik yang membuat mata Gavin kembali menggelap. "Oke. Deal, Om Gavin. Aku ikut Om ke Jakarta."
Gavin tersenyum puas, sebuah senyuman penuh kemenangan dari seorang predator yang berhasil mendapatkan mangsa terbaiknya.
Gavin langsung mencondongkan tubuhnya, mematuk bibir Vero dengan ciuman lembut yang penuh dengan kepemilikan.
"Pilihan yang cerdas, sayang," bisik Gavin di sela-sela ciuman mereka.
Pria itu kemudian berdiri, mengangkat tubuh Vero dengan mudah dari dalam air jacuzzi yang mulai mendingin karena angin malam. "Sekarang, ayo masuk ke dalam. Udara luar mulai gak bagus buat kulit kamu. Dan, kita masih harus merayakan kesepakatan baru kita ini di atas kasur yang lebih hangat."
Vero cuma bisa tertawa manja sambil mengalungkan kakinya di pinggang Gavin saat pria itu menggendongnya masuk ke dalam vila kaca yang mewah.
Liburan healing yang awalnya melankolis, sekarang resmi berubah jadi babak baru kehidupannya yang penuh dengan kemewahan dan gairah panas bersama sang Om tampan.