Gavin membawa Vero masuk ke dalam vila dengan kondisi tubuh mereka yang masih basah kuyup dan meneteskan air ke atas lantai kayu jati yang hangat karena ada pemanas di bawahnya.
Tanpa menurunkan Vero dari gendongannya, Gavin langsung berjalan menuju kamar utama yang dilapisi karpet bulu super tebal.
Begitu sampai di samping ranjang, Gavin merebahkan tubuh Vero dengan sangat hati-hati, seolah wanita di bawahnya ini adalah barang pecah belah yang paling berharga.
Vero langsung menarik selimut tebal sampai sebatas d**a, menyembunyikan tubuhnya yang mulai merinding karena AC kamar yang bertabrakan dengan sisa air hangat dari jacuzzi tadi.
Vero menatap Gavin yang sekarang lagi berdiri di sisi ranjang, mengeringkan rambut hitamnya pakai selembar handuk kecil dengan gerakan santai.
Otot-otot perutnya yang six-pack bener-bener bikin salah fokus, apalagi ada sisa air yang mengalir pelan di sana.
"Om, pakai baju dulu gih. Nanti masuk angin tahu rasa," cicit Vero sambil menopang dagunya di atas bantal, menatap Gavin dengan mata sayunya yang masih kelihatan manja.
Gavin menoleh, menaruh handuknya di atas kursi lalu berjalan merangkak naik ke atas kasur, mendekati Vero.
"Masuk angin? Kamu lupa kalau saya punya penghangat alami di sini, hm?" goda Gavin sambil menyusupkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama, langsung memeluk pinggang Vero dari samping.
Vero terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di d**a Gavin yang bidang. "Bisa aja ngelesnya kayak bajaj. Tapi serius, Om, soal kesepakatan kita tadi ... pas balik ke Jakarta nanti, mekanismenya gimana? Aku gak mau ya kalau tiba-tiba digerebek atau ada gosip aneh-aneh di kantor lama aku."
Gavin mengusap rambut panjang Vero yang masih agak lembap dengan jemarinya yang panjang. "Kamu gak usah mikirin kantor lama kamu lagi, Vero. Begitu kita mendarat di Soekarno-Hatta, surat resign kamu udah bakal diurus sama tim saya. Kamu gak perlu balik ke sana lagi cuma buat ambil barang atau pamitan."
Vero agak tersentak, mendongak menatap rahang tegas Gavin. "Wah, gerak cepat banget ya? Gak pakai nunggu one month notice nih?"
"Buat apa? Menghabiskan waktu kamu aja," jawab Gavin santai, terdengar sangat dominan dan gak terbantahkan. "Saya udah siapin satu unit apartemen di daerah pakubuwono. Fasilitasnya lengkap, ada private lift, dan keamanannya nomor satu. Jadi, kamu gak perlu khawatir soal privasi atau gosip murahan. Orang luar gak akan ada yang tahu kalau kamu tinggal di sana."
Mendengar kata 'Pakubuwono', mata Vero langsung berbinar.
Itu kan salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan yang harga sewa apartemennya bisa bikin ginjal menjerit.
Liburan nekatnya ke Islandia bener-bener mengubah garis takdirnya secara ekstrem.
Dari anak kosan yang makannya mie instan di akhir bulan, sekarang langsung lompat jadi penghuni luxury apartment.
Sebenarnya Vero anak konglomerat, tapi ia memilih hidup sederhana, darimana lagi ia bisa dapat duit buat liburan kalau bukan dari abangnya.
"Terus, tugas aku di sana ngapain aja, Om? Masa cuma diam doang kayak pajangan?" tanya Vero lagi, agak penasaran dengan 'jobdesk' barunya sebagai wanita simpanan sang CEO.
Gavin tersenyum tipis, sebuah senyuman nakal yang langsung bikin Vero tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Gavin menunduk, mengecup bibir Vero sekilas sebelum berbisik di depan wajahnya. "Tugas kamu cuma satu, Vero. Menyenangkan saya setiap kali saya datang. Menyambut saya setelah lelah kerja seharian, dan ... selalu pasrah kayak gini di bawah saya."
Tangan Gavin di bawah selimut mulai beraksi lagi.
Telapak tangannya yang hangat merayap turun, mengusap pinggul polos Vero yang sensitif, memicu sensasi gelitik yang langsung bikin perut Vero mules.
"Ih, Om Gavin! Pikiran kamu isinya itu terus ya!" protes Vero sambil mencoba menahan tangan Gavin, tapi kekuatannya jelas gak sebanding. Malah, sentuhan pria matang itu lambat laun bikin tubuh Vero kembali merespons dengan cepat. Sisa gairah dari jacuzzi tadi kayak belum sepenuhnya padam, dan sekarang langsung tersulut lagi cuma karena remasan pelan dari Gavin.
"Kenapa? Kamu gak suka sama jobdesk-nya?" tantang Gavin, sebelah alisnya terangkat seksi.
Gavin memajukan tubuhnya, mengunci pergerakan Vero sampai wanita itu benar-benar terhimpit di antara kasur empuk dan tubuh besarnya.
"B-bukan gak suka," cicit Vero, napasnya mulai putus-putus saat bibir Gavin mulai menjelajahi area sensitif di bawah telinganya, memberikan hisapan-hisapan kecil yang dipastikan bakal meninggalkan tanda baru lagi di sana. "Cuma ... Om bener-bener gak ada capeknya, ya. Padahal tadi di luar udah ... ahh..."
Vero gak bisa melanjutkan kalimatnya karena Gavin langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut dari sebelumnya.
Lidah Gavin menyelinap masuk, mengajak lidah Vero bermain dalam irama yang memabukkan, mengunci semua protes yang ingin wanita itu sampaikan.
Di balik dinding kaca vila yang memperlihatkan pemandangan laut Islandia yang gelap gulita, malam itu kembali menjadi saksi bisu bagaimana Vero bener-bener bertekuk lutut di bawah kendali seorang Gavin Lorenso.
Setiap sentuhan Gavin terasa sangat matang dan terarah, tahu betul bagian mana yang bisa bikin Vero mendesah pasrah sampai mencengkeram sprei kasur dengan kencang.
"Enak, Om ... nghh ... teruskan," desah Vero tanpa sadar di sela-sela gairah yang membakar tubuhnya.
Panggilan itu seolah jadi bahan bakar utama yang bikin Gavin makin gencar memanjakan tubuh mungil di bawahnya.
Malam di Islandia bener-bener terasa sangat panjang bagi mereka berdua.
Di dalam kamar yang hangat dan dipenuhi wangi erotis itu, mereka berdua kembali tenggelam dalam permainan panas yang penuh peluh, mengesampingkan fakta bahwa beberapa hari lagi mereka harus kembali ke realitas Jakarta yang super sibuk.
Tapi, buat sekarang, di atas ranjang vila mewah ini, dunia cuma milik Gavin dan Veronika.