Apartemen Rahasia

1028 Words
Aku bahkan tak tahu sejak kapan batas itu benar-benar runtuh. Yang aku tahu, setiap kali aku menekan tombol lift menuju lantai empat belas, jantungku berdebar seperti pemuda SMA yang hendak bertemu kekasihnya diam-diam. Apartemen kecil ini seperti dimensi lain bagiku. Bukan markas, bukan rumah atau kantor. Di sinilah aku melepaskan topeng, seragam, dan semua beban yang terus menempel di pundak. Dan Kalya—ia adalah alasan utamanya. Sore ini, pintu apartemen terbuka pelan. Kalya muncul dengan sweater tipis warna peach yang menempel lembut di tubuhnya. Celana pendek jeans robek di bagian paha menambah aura “bebas” yang selalu membuat napasku tersentak. “Hei, Mas,” sapanya ceria, melempar kunci ke meja. “Sudah nunggu lama?” “Baru dua puluh menit,” jawabku sembari menyender di sofa. Kalya mendekat. Tubuhnya harum, seperti habis mandi. Wajahnya bersinar tanpa makeup berlebihan. Ia naik ke sofa, duduk di sampingku. Lalu menatapku sambil menyeringai. “Kangen?” Aku tak menjawab. Tanganku langsung menarik pinggangnya, membawanya ke pangkuan. Kalya tertawa kecil, tapi tidak menolak. Justru ia memeluk leherku erat, membiarkan wajah kami hanya berjarak sejengkal. “Kalau ketahuan kita kayak gini, kamu bakal nyesel nggak, Mas?” bisiknya. “Nggak tahu,” ujarku jujur. “Yang kupikir sekarang cuma satu: aku pengen kamu.” Lalu seperti biasa, sore itu berubah menjadi malam yang basah oleh keringat, kecupan, dan bisikan-bisikan yang hanya dimengerti dua orang yang terlalu lama menahan diri. Aku tak akan menggambarkan setiap detail yang kami lakukan di atas ranjang itu. Tapi yang jelas, setiap helaan napasnya, setiap lengkungan tubuhnya, setiap erangan tertahannya—itu semua membuatku merasa seperti lelaki sejati. Kalya bukan seperti Nadira yang diam dan canggung. Ia tahu bagaimana menyentuh, tahu kapan harus menatapku dengan mata berbinar, tahu cara membuatku merasa dibutuhkan dan diinginkan. Sore itu, setelah puas menaklukkan dan ditaklukkan olehnya, kami terbaring dalam diam. Keringat kami masih terasa di kulit. Udara kamar sejuk, tapi tubuhku tetap panas olehnya. Kalya memelukku dari samping. Napasnya mulai teratur dan bibirnya menyentuh bahuku. “Mas suka... kayak gini?” Aku mengangguk. “Kamu bukan cuma api, Kal. Kamu badai. Dan aku mau tenggelam di dalamnya.” Kalya tertawa pelan, lalu mencubit pinggangku. “Boleh juga puisinya, Pak Kapolsek.” Aku ikut tertawa. Tapi di dalam hati, aku tahu itu bukan sekadar puisi. Itu perasaan yang nyata. Kalya membuatku merasa muda, merasa hidup. Sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku bersama Nadira. Kadang aku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuatku seperti ini? Nadira bukan istri yang buruk. Ia setia, sabar, dan penuh perhatian. Tapi sejak aku naik jabatan menjadi Kapolsek, aku merasa jarak di antara kami makin jauh. Nadira terlalu sederhana. Ia tak bisa mengikuti cara berpikirku. Gaya hidupku, atau obrolan yang biasa kutemui dalam lingkaran baruku. Kalya beda. Ia berani bercanda, berani mengajak diskusi soal kasus-kasus, dan ia tak pernah takut menatap mataku saat bicara. Bahkan dalam banyak hal, ia justru membimbingku. Hubungan ini tak sehat, aku tahu. Tapi seperti candu, semakin kutelan, semakin aku butuh. *** Malam itu kami memesan makan dari luar. Kalya duduk di lantai, membuka bungkus nasi goreng, dan menyuapiku sambil tertawa-tawa. Kadang ia merebut sendokku, kadang ia mengusap sisa nasi dari bibirku dengan jari telunjuknya lalu menjilat sendiri. “Apa yang kamu lihat dari aku, Kal?” tanyaku tiba-tiba. Kalya menoleh, mengunyah cepat, lalu menjawab, “Mas laki-laki yang jelas. Tegas. Tapi di balik itu, Mas juga rapuh.” “Rapuh?” “Iya. Kamu haus dimengerti. Tapi nggak semua orang ngerti.” Aku diam. Jawabannya terlalu tepat. “Dan aku?” tanyaku lagi. Kalya mendekat. “Kamu bikin aku panas, Mas.” Kata-katanya seperti bara. Dan seperti biasa, aku tak tahan. Aku menarik tubuhnya ke atas pangkuanku, lalu membiarkan malam kembali menjadi milik kami. Pukul dua dini hari. Kalya tertidur dengan nyenyak. Aku duduk di pinggir ranjang, menatap wajahnya yang damai. Bahkan dalam tidur pun, ia masih terlihat menggoda. Bibirnya sedikit terbuka, dan rambut yang menyebar di bantal seperti aliran sungai. Aku bangkit pelan-pelan, memakai kaus dan celana panjang. Lalu berjalan ke balkon. Kota sunyi. Lampu jalan menyala kekuningan. Angin malam menyentuh wajahku seperti bisikan peringatan. Ini salah. Semua ini salah. Tapi kenapa hatiku tak merasa bersalah? Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Nadira masuk. “Mas, besok Zahwa ada lomba mewarnai di TK. Jangan lupa datang ya. Dia pengen banget Mas lihat.” Aku menutup pesan itu. Lama. Tak langsung kujawab. Lalu, aku mematikan ponsel. Dan menatap bulan yang nyaris purnama. Pagi datang cepat. Kalya bangun lebih dulu. Ia mengenakan kemeja putihku, kebesaran, tapi terlihat manis di tubuh mungilnya. Ia berdiri di dapur dan membuat dua cangkir kopi. “Kamu tidur nyenyak banget semalam,” katanya sambil menyodorkan cangkir. Aku mengambilnya. “Kamu juga.” Kami duduk berdampingan di balkon. Kalya menyender ke pundakku. Tangannya menggenggam jemariku. “Kalau suatu saat semuanya terbongkar... kamu akan tetap pegang tanganku?” Aku menoleh. “Apa kamu akan tetap bertahan?” “Kalau aku sudah jatuh, aku bakal jatuh total,” jawabnya lirih. “Kalau kamu yang lepaskan, baru aku pergi.” Aku menariknya ke pelukan. Di pelukanku, Kalya tertawa kecil. “Aku cinta kamu, Mas,” bisiknya. Aku tak langsung menjawab. Tapi pelukanku menguat. Dan dari dalam d**a, aku tahu, aku telah kehilangan kendali. *** Siang itu aku kembali ke kantor. Tapi sepanjang perjalanan, wajah Nadira dan Zahwa membayangi pikiranku. Aku merasa bersalah, tapi tidak cukup bersalah untuk berhenti. Tidak saat ini. Aku memarkir mobil dan hendak masuk ruangan saat seorang anggota mendekat dengan wajah ragu. “Pak... tadi pagi saya lihat mobil Bapak parkir di Tower Elang. Kebetulan saya lagi anter istri. Tapi saya liat juga... Polwan Kalya turun dari mobil Bapak.” Deg. Aku menahan napas. “Kamu lihat?” “Eeh... iya, Pak. Tapi mungkin saya salah...” Aku mengangguk pelan, menepuk bahunya. “Jaga rahasia, ya.” Anggota itu mengangguk gugup, lalu pergi. Tapi detik itu, aku tahu: rahasia ini tak akan selamanya aman. Dan mungkin... semuanya akan segera terbakar. Saat aku membuka pintu ruangan, ponselku kembali bergetar. Kali ini pesan dari nomor tak dikenal. “Saya tahu semua tentang apartemen dan Kalya. Hati-hati, Pak Kapolsek. Dunia ini sempit.” Tanganku gemetar. Dan untuk pertama kalinya sejak aku bermain api... aku takut terbakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD