Pesan Misterius

957 Words
Nadira Hari itu langit begitu cerah, tapi hatiku justru seperti diguyur hujan deras yang tak kunjung reda. Aku sedang menyapu ruang tamu ketika suara notifikasi dari ponselku terdengar dua kali berturut-turut. Kupikir hanya pesan dari grup wali murid, atau mungkin pengingat jadwal lomba Zahwa. Tapi saat kubuka pesan itu, jari-jariku langsung membeku. Nomor tak dikenal. Dan isinya… dua buah foto. Foto pertama: Damar duduk di sofa sebuah ruangan asing. Tangannya merangkul pinggang seorang perempuan muda yang mengenakan sweater tipis dan celana pendek. Wajahnya jelas. Senyumnya khas. Itu Kalya—polwan muda yang sering disebut-sebut teman kantor Damar karena kecantikannya yang menonjol. Foto kedua lebih menyayat: mereka berciuman. Penuh gairah. Di balkon yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada pesan. Hanya foto. Tanganku bergetar saat memegang ponsel. Aku terduduk di lantai, tak mampu berkata apa-apa. Dunia seakan memutar lambat. Suara jam dinding terdengar keras. Nafasku tercekat. Aku menatap dua foto itu berulang-ulang, berharap bahwa ada kesalahan. Mungkin editan. Mungkin jebakan. Mungkin hanya... mimpi buruk. Tapi tidak. Itu Damar. Itu benar-benar suamiku. *** Aku tidak menjerit. Tidak mengamuk. Tidak melempar ponsel seperti di sinetron-sinetron. Aku hanya diam. Mata ini tak bisa menahan airnya. Tangis itu turun perlahan, seakan tak mau terburu-buru. Setetes. Dua tetes. Lalu mengalir deras, membasahi jilbab dan bahuku. Hatiku hancur. Tapi aku diam. Zahwa sedang tidur siang di kamarnya. Ia tak boleh tahu. Ia masih kecil. Ia tak perlu tahu ibunya baru saja dihantam kenyataan paling pahit. Aku berdiri pelan, mengambil air wudu dengan tangan gemetar. Airnya terasa lebih dingin dari biasanya. Seolah ikut merasakan luka yang kini menyayat di d**a. Aku membuka lemari kecil di ruang tengah. Mengambil mushaf Al-Qur’an yang sudah lama tak kubuka. Kubuka halaman tengahnya. Jemariku menyentuh lembut huruf-huruf Arab yang mulai samar oleh usia kertas. “Ya Allah…,” bisikku. Aku mulai membaca, perlahan. Satu ayat. Dua ayat. Sampai tangisku kembali pecah saat sampai di ayat yang berbunyi: “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) Kata “sabar” menusukku dalam. Apakah aku terlalu sabar? Apakah kesabaran ini membuat Damar merasa bebas? Malam harinya, aku menulis surat. Bukan untuk Damar. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Aku mengambil buku tulis kosong dari laci. Sampulnya biru. Kubuka halaman pertama, lalu kutulis: Untuk Nadira… Kalau kamu membaca surat ini suatu hari nanti, mungkin kamu sedang hancur. Tapi ingat, kamu tidak pernah sendiri. Kamu perempuan kuat. Kamu ibu yang baik. Kamu istri yang sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya teman, sahabat, dan penjaga rumah. Jika hatimu retak, jangan merasa itu salahmu. Jangan langsung menyalahkan dirimu. Lelaki yang berkhianat bukan karena kamu kurang. Tapi karena dia tidak cukup kuat menjaga amanah. Nadira… kamu masih punya Allah. Masih punya Zahwa. Masih punya cinta yang tak akan pernah berpaling. Jangan hancur. Jangan menyerah. Jangan bunuh dirimu sendiri dengan menyalahkan diri. Menangislah jika perlu. Tapi setelah itu, berdirilah. Karena kamu pantas untuk bahagia. Aku menutup buku itu perlahan, menaruhnya di bawah bantal. Mataku sembab, tapi aku merasa sedikit lebih tenang. Seolah surat itu menjadi pelukan hangat bagi diriku sendiri yang sedang sekarat. Besoknya, aku menatap Damar saat ia pulang. Wajahnya biasa saja. Tak menunjukkan tanda-tanda panik. Ia bahkan mencium kening Zahwa seperti biasa, lalu duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Aku berdiri di dapur, memperhatikannya diam-diam. Rasanya seperti sedang menyaksikan seorang aktor di panggung. Wajah tenangnya palsu. Senyumnya pada Zahwa membuatku ingin berteriak. Ingin rasanya kutunjukkan dua foto itu padanya. Ingin kutanya siapa Kalya baginya. Tapi lidahku kelu. Hatiku terlalu sesak untuk bicara. Aku terlalu takut... akan jawaban yang kutahu akan menyakitkan. Jadi aku diam. Aku hanya bicara pada Tuhan di dalam hati: “Kalau ini ujian-Mu, aku akan terima. Tapi beri aku kekuatan, Ya Rabb. Jangan biarkan anakku tumbuh dalam rumah yang penuh kepalsuan.” *** Hari-hari selanjutnya, aku semakin sering membaca Al-Qur’an. Setiap pagi setelah subuh, aku mengulang-ulang surat Yusuf, surat tentang cinta dan pengkhianatan. Tentang sabar dan pertolongan Tuhan. Aku menghafal potongan ayat ini: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Yusuf: 100) Hatiku mulai menemukan pijakan kecil. Meski luka itu belum sembuh, setidaknya aku punya tempat untuk bersandar. Aku juga mulai menulis surat-surat lain untuk diri sendiri. Kadang satu paragraf. Kadang dua halaman. Setiap malam, saat Damar tertidur, aku menulis. Diam-diam. Dengan air mata, tapi juga dengan kekuatan yang mulai kutemukan kembali. Suatu malam, Damar pulang lebih larut dari biasanya. Aku duduk di ruang tengah, pura-pura membaca buku, padahal di dadaku ada ratusan pertanyaan yang ingin kutumpahkan. Ia membuka sepatu, meletakkan tasnya, lalu duduk di sofa dengan ekspresi lelah. Aku menatapnya dari sudut ruangan. Dalam hati ini berbisik: “Kalau aku tanya malam ini, apakah kamu akan jujur? Atau justru akan menyalahkanku? Apakah aku siap mendengar kamu bilang sudah tidak cinta?” Tapi tetap… aku diam. “Zahwa sudah tidur?” tanyanya. “Iya,” jawabku pelan. Ia hanya mengangguk, lalu menyalakan TV. Wajahnya lelah, tapi bukan lelah karena kerja. Lelah yang lain. Lelah menyembunyikan dosa. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa diam. Tapi malam ini… aku memilih menyimpan semua. Bukan karena lemah, tapi karena aku sedang mempersiapkan diri. Agar saat aku bicara nanti… aku bicara dengan tenang, bukan dengan amarah. Keesokan harinya, aku menghapus foto-foto itu dari ponsel. Bukan karena ingin melupakan, tapi karena aku telah menyimpannya di dalam hati. Jejak luka itu tak perlu kulihat berulang-ulang. Biarlah luka itu membentuk parut. Dan dari parut itulah… aku akan belajar bangkit. *** Pukul sebelas siang, sebuah paket datang. Sebuah amplop coklat tanpa nama pengirim. Di dalamnya, hanya selembar kertas bertuliskan tangan: “Kalau kamu tetap diam, kamu yang akan disalahkan nanti. Bukalah matamu, Nadira. Ini baru permulaan.” Aku terdiam, menggenggam amplop itu erat-erat. Ada sesuatu yang lebih besar sedang menantiku. Dan aku tahu… waktuku untuk diam tidak akan lama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD