Tak Lagi Bisa Menahan

1019 Words
Hari itu Nadira menatapku dengan cara yang berbeda. Bukan seperti istri yang menunggu suami pulang. Tapi seperti seseorang yang sedang menahan luka yang sudah terlalu lama dipendam. Tatapan itu dingin. Sunyi. Dan jujur saja... membuatku risih. Aku baru saja meletakkan seragam di gantungan saat dia memanggilku pelan. “Mas... bisa bicara sebentar?” Aku mengangguk malas. Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Wajahnya sudah menyimpan terlalu banyak pertanyaan yang tertahan. Dan entah kenapa, malam ini aku tidak sedang dalam mood untuk berakting manis. Kami duduk di meja makan. Tanpa makanan. Tanpa minuman. Hanya dua orang yang saling berhadapan seperti dua orang asing yang sedang menunggu putusan hakim. Nadira menarik napas dalam-dalam. Suaranya pelan, tapi mantap. “Aku dapat foto... dari orang tak dikenal. Isinya... kamu dan Kalya. Di tempat yang bukan kantor.” Aku menghela napas keras. Tidak marah, tidak kaget. Hanya muak. Karena ini sebetulnya bukan masalah besar kalau dia tidak memperbesarnya. “Terus?” tanyaku malas. Dia terdiam sejenak. Wajahnya pucat. Tapi sorot matanya tetap mengunci mataku. “Aku cuma mau tahu... kenapa?” Dan di situlah kesabaranku habis. “Kenapa? Serius nanya itu, Dira?” "Ya." Aku tertawa sinis. “Karena aku capek. Itu aja jawabannya. Capek dengan semua yang kamu jadiin ‘rumah’ ini.” Matanya membesar, tapi aku tak berhenti. “Kamu pikir aku nggak nyadar? Tiap hari ketemu kamu dengan wajah itu-itu aja. Gaya ngomong yang itu-itu aja. Hidup yang muter di dapur, baju, anak." Suaraku berapi-api, hingga kulihat matanya berkaca-kaca. "Astagfirullah, Mas." "Kamu bahkan udah kayak bayangan, Nadira. Nggak ada semangat. Nggak ada gairah. Kamu cuma... ada. Ngejalanin, tapi nggak pernah ngasih napas.” Dia menggigit bibir, mencoba menahan air mata. Tapi aku tak peduli. “Aku butuh hidup. Butuh merasa jadi laki-laki lagi. Dan Kalya... dia ngasih itu. Dia bikin aku merasa dihargai, diinginkan. Bukan cuma jadi mesin ATM atau tukang antar ke pasar.” Nadira menunduk. Tapi kemudian ia berkata pelan, “Jadi, kamu... sengaja? Bukan kecelakaan?” “Ya iya lah!” Suaraku meninggi. “Kamu pikir ini cuma kebablasan? Nggak, Dira. Aku sadar penuh. Dan jujur aja, aku nggak nyesel.” Dia menggigit bibirnya makin keras. Napasnya tersendat, tapi aku belum selesai. “Aku udah lama nahan. Bertahun-tahun nikah, kamu makin nggak bisa ngimbangin aku. Liat diri kamu sendiri, deh! Dari cara kamu berpakaian, cara kamu bicara, bahkan di ranjang pun kamu makin... hambar.” “Nggak semua istri bisa... seperti yang kamu mau,” katanya pelan, getir. “Oh, jadi sekarang salahku?” Aku tertawa dingin. “Kamu yang nggak berkembang, kamu yang stuck di zona nyaman, tapi aku yang harus terima? Aku yang harus terus pura-pura puas dengan hidup suami-istri yang isinya cuma rutinitas basi?” Dia tidak menjawab. Dan justru itu yang membuatku makin kesal. “Apa susahnya sih jadi istri yang... sedikit lebih terbuka? Sedikit lebih menarik? Jangan cuma jadi ibu, Dira. Aku nikah sama perempuan, bukan pembantu!” Air matanya akhirnya jatuh. Tapi entah kenapa, aku tidak merasa bersalah. Mungkin karena luka ini sudah mengakar. Mungkin karena aku sudah terlalu lama merasa sendirian di rumah sendiri. “Mas...” suaranya lirih, patah-patah. “Aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Tapi kalau ternyata kamu memang udah nggak cinta lagi, kenapa nggak bilang dari dulu?” Aku mendengus. “Karena aku masih punya anak di rumah ini. Karena aku masih... mikir soal Zahwa. Tapi sekarang, aku jujur: aku udah nggak bisa pura-pura. Nggak bisa.” “Jadi kamu mau pisah?” Pertanyaan itu mengudara seperti belati yang dilempar pelan. Aku tidak langsung menjawab. Tapi dalam hatiku, ada kelegaan aneh. Mungkin karena akhirnya semua ini keluar juga. “Kalau kamu nanya begitu... aku rasa itu jalan yang lebih baik,” kataku akhirnya. “Daripada terus hidup dalam kebohongan dan pura-pura.” Nadira menangis makin keras. Tapi tanpa suara. Tangis seorang perempuan yang sudah terlalu lama menahan. Aku tahu tangis seperti itu. Dan jujur... aku muak dengan perasaan bersalah. “Kalya bukan perempuan jahat.” Aku berkata, sedikit lebih pelan. “Dia cuma datang di waktu yang... pas. Pas aku butuh. Pas aku kosong. Dan dia isi ruang itu.” “Aku ini istrimu, Mas.” katanya dengan suara retak. “Bukan orang asing. Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu ngerasa kosong?” “Karena kamu nggak akan ngerti!” Aku membentak. “Karena kamu terlalu sibuk jadi versi sempurna dari apa yang kamu pikir. Padahal aku nggak butuh yang ‘sempurna’. Aku butuh yang hidup. Yang bisa diajak ngobrol, bercanda, tidur bareng tanpa berasa kayak robot!” Dia menunduk. Tangannya menggenggam roknya erat-erat. Aku tahu dia sedang mencoba tetap kuat. Tapi aku juga tahu... dia sedang hancur. Dan anehnya, aku tetap duduk di sana. Tidak mendekatinya dan memeluk. Karena hati ini... memang sudah tidak ada di sana lagi. “Aku minta maaf...” katanya dengan suara pelan sekali. “Maaf kalau selama ini aku nggak cukup buat kamu. Tapi kamu nggak pernah kasih tahu, Mas. Kamu cuma menjauh pelan-pelan, sampai aku bahkan nggak sadar kamu udah pergi.” Aku terdiam. Kata-katanya menamparku—tapi hanya sebentar. Karena egoku masih lebih besar dari rasa bersalah. “Aku nggak minta kamu ngerti sekarang,” kataku, dingin. “Tapi aku harap kamu bisa nerima. Karena aku... udah nggak bisa balik ke cara lama.” *** Malam itu Nadira tidur di kamar Zahwa. Aku tahu karena kulihat pintunya tertutup dan lampunya menyala dari bawah celah pintu. Aku duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah televisi yang tak menyala. Kupikir setelah semua keluar, aku akan merasa lega. Tapi ternyata... rasanya malah lebih berat. Bukan karena penyesalan. Tapi karena aku tahu... dari titik ini, semua akan berubah. Dan belum tentu lebih baik. Esok paginya, saat aku turun dari mobil di halaman kantor, sebuah amplop cokelat menungguku di loker pribadi. Tanpa nama. Tanpa tanda. Isinya: salinan laporan etik... lengkap dengan foto-foto Kalya dan aku di apartemen. Dan di balik lembaran terakhir, sebuah tulisan tangan: “Kalau atasan tak bisa menjaga kehormatan seragamnya, jangan salahkan anak buah kalau mereka kehilangan hormat.” Untuk pertama kalinya sejak semalam... dadaku terasa sesak. Seseorang mengawasi. Dan mungkin, semua ini... baru permulaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD