Malam itu terasa berbeda. Tidak ada percakapan hangat sebelum tidur, tidak ada obrolan absurd, ataupun kalimat pedas Taram yang kadang tidak setuju dengan pendapat Zelaya. Di dalam kamar, Laya sendirian. Berbaring di atas kasur dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Matanya terpejam, tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Ia bahkan belum mengganti posisi sejak tadi. Bukan karena sudah tertidur. Tapi karena tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sadar tangan Laya menyentuh bibirnya sendiri. Hangat itu masih terasa, bahkan kebas yang tertinggal justru membuatnya semakin tidak nyaman. “Aa bagaimana ini?” untuk pertama kalinya Laya frustrasi. Bukan karena tekanan sekar, bukan juga karena si berengsek Jodi Diningrat. Tapi karena ciumannya dengan Taram dan entah apa yang pria kaku itu p

