Bab 12 - Jodi VS Taram

1360 Words
Laya mengangkat pandangan. Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Beberapa detik bahkan terasa jauh lebih panjang saat tatapan Laya menemukan Jodi Diningrat yang berdiri di depannya tanpa raut wajah bersalah. Pria berengsek yang meninggalkannya di hari pernikahan itu bahkan melempar senyum kilas seolah tidak terjadi apa-apa. Sungguh membuat perasaan bahagianya tadi seketika menjadi amarah ditambah munculnya sosok lain di samping Jodi dengan raut wajah yang dia tahu hannyalah pura-pura. Khalila Raina Narendra. Laya menatap keduanya bergantian. Sungguh kedatangan mereka adalah kejutan besar apalagi waktunya sangat pas—seolah disengaja. Khalila berdiri terlalu dekat dengan Jodi, terlalu nyaman, terlalu menunjukkan jika mereka adalah pasangan. Bukan calon ipar yang seharusnya saling menjaga jarak. Laya meredam tawa. Sekarang dia tahu jika tidak hanya statusnya sebagai anak tiri sekar yang menjadi alasan pria itu membatalkan pernikahan tetapi karena pewaris keluarga Narendra lah yang menjadi selingkuhan. “Perlu apa sampai kalian datang ke sini?” Sambutan Laya yang Taram tunggu, pun membuat Taram mengambil langkah maju. Jelas sekali menjadi batas agar pria berengsek itu tidak lebih jauh. Namun, keberadaan wanita muda yang Taram tahu sebagai putri kedua keluarga Narendra, malah mendorongnya dan berhasil mendekati Laya. “Aku sangat mengkhawatirkanmu, Laya.” Wanita memakai terusan berwarna biru itu tersenyum tipis nyaris menyedihkan seolah benar prihatin menatap kondisi Laya. Sedang Laya memilih diam dengan ekspresi tak terbaca. “aku sudah mendengar kejadian memalukan kemarin. Tentang Mas Jodi yang meninggalkanmu begitu saja dan sekarang—“ Belum sempat Khalila menyelesaikan kalimat beracunnya, Taram lebih dulu bergerak. Dalam satu langkah Taram menarik Laya ke arahnya dan memeluknya. Tangannya tiada ragu melingkar di bahu Laya. Posisinya jelas melindungi dari dua manusia jahat yang melihatnya dengan raut wajah terkejut. “Taram,” Laya yang juga terkejut dengan tindakan Taram pun sampai melihat pria itu dengan berdebar, sedang tatapan tajam Taram terus mengunci Jodi seolah mangsa. “Tidak ada yang perlu dijelaskan atau diperjelas,” katanya dingin. “Laya sudah menganggap kejadian kemarin sebagai mimpi sialan dan sebaiknya kalian pergi dari tempat ini sekarang!” Kalimat itu jatuh seperti tamparan yang membuat Jodi mengatupkan rahang. “Siapa kamu sampai berani mengusirku, Hah!?” Jodi maju selangkah. Sedang Lila memilih menonton saja karena dia tidak boleh seterang-terangan itu dengan statusnya sekarang. “kamu hanya pengawal rendahan yang berhasil menikahi Laya karena Laya terpaksa!” Tangan Taram terkepal. Hendak menghajar mulut sialan Jodi tapi tangan Laya malah menahannya. Gadis itu begitu saja melepaskan diri dari pelukannya dan melangkah mendekati Jodi yang terang-terangan menertawakannya. Apa Laya masih mencintai pria berengsek itu? Mendadak d**a Taram terasa panas. Kepalan tangannya pun semakin kuat. Rasa ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga tapi tiba-tiba .... Plak! Suara tamparan menggema memenuhi ruangan. Kuatnya tamparan tangan Laya bahkan membuat kepala Jodi terlempar ke samping dengan pipi memerah. Semua orang terdiam. Termasuk Lila yang menatap tindakan Laya dengan raut wajah tak percaya. Kenapa Laya malah bersikap sebaliknya? “Kamu pikir, kamu lebih baik dari dia?” Laya masih berdiri tegak. Dadanya kembang kempis saking murkanya dia melihat Jodi. “status, gelar, kekayaan dan semuanya yang kamu miliki tidak ada nilainya karena kamu pengecut, Jodi!” “Hahaha ...,” dan Jodi yang mendengar cacian Laya malah tertawa. Sebentar mengusap pipinya yang terasa kebas kemudian menatap Laya dengan kemarahan di kedua bola mata. Sungguh tak menyangka jika Laya akan memukulnya di depan pengawal rendahan itu. “Lalu kamu pikir, kamu siapa, Zelaya?” Tatapan Laya tidak goyah. Dia memang sudah biasa melihat pria itu marah dan mari lihat sifat aslinya sekarang. “Kamu hanya anak tiri keluarga Narendra! Kamu tidak ada nilainya karena selamanya kamu hanya menjadi pion mereka, kamu tidak ada bedanya dengan pelayan, Zelaya!” Bugh! Senyum Lila tadi berubah kaku. Bahkan Laya yang tidak menyadari pergerakan Taram sampai menutup mulut. Apalagi saat dia melihat Jodi tersungkur ke lantai dan sudut bibir pria itu mengeluarkan darah segar. “Taram?” Belum reda keterkejutan Laya, Taram yang berubah menakutkan itu masih menghampiri Jodi dan menyentak kerah kemeja Jodi yang mahal. Tanpa sedikit pun rasa takut di matanya, Taram hampir melayangkan tinju kedua jika saja Laya tidak memeluk tubuh Taram dan menariknya menjauh. “Jangan Taram, sudah ....” “Jangan membuka mulut lagi kalau isinya Cuma sampah!” Laya hampir menangis saat Taram sulit dikendalikan dan terakhir masih meneriaki Jodi yang setelah ini pasti akan membalas Taram dengan berbagai cara. Belum usaha Sekar yang pasti membuat hidup Taram terancam. “Kamu memukulku, pria sialan?” Jodi beranjak sembari menatap Taram dengan sorot tajam dan Laya pun berdiri di depan Taram dengan kedua tangan melindungi. Taram sudah melakukan banyak hal untuknya dan sekarang gilirannya. “Selangkah kamu mendekat, aku pastikan menghancurkan reputasimu, b******n!” “Hah? Kamu serius membela pria ini Laya?” Lila yang sejak tadi diam angkat suara. Tindakan Laya semakin di luar prediksi mereka. “jangan lupa siapa pria yang kamu bela itu, Laya. Dia hanya pengawal rendahan. Dia tidak punya status, gelar atau pekerjaan pun aku tebak pria itu tidak punya. Apakah kamu segila ini sekarang? Jangan karena ditinggalkan Mas Jodi seleramu jadi berubah 360 derajat.” “Kamu tidak perlu ikut campur.” “Justru aku harus ikut campur karena kamu adalah saudariku. Yang kamu lakukan ini bisa mempermalukan keluarga kita.” Jodi Diningrat meraih tangan Lila kemudian tertawa—menghina. “Dia hanya berpura-pura, Lila. Tentu saja dia masih mencintaiku dan pria ini—“ Cup! Suara Jodi menggantung di udara. Gagap tak bisa melanjutkan sepatah kata karena Laya yang dengannya tidak pernah melakukan kontak fisik, malah tanpa ragu mencium pengawalnya di bibir. Dada Laya bergemuruh. Panas rahang Taram begitu terasa di telapak tangan dan bibir tipis Taram yang gemetar kecil pun begitu nyata saat dia sentuh dan dia sesap. Setelah ini dia tidak tahu harus menghadapi Taram bagaimana tapi sungguh, Jodi Diningrat itu harus dia bungkam agar berhenti sekarang juga. Laya melepaskan bibir Taram yang beruntungnya diam tanpa membalas dan dia pun menatap Jodi dan Lila yang menatapnya dengan bola mata hampir keluar. “Sekarang apa? Masih belum cukup atau ingin melihat aku tidur dengan suamiku?” Jodi tertawa sebatas d**a. “Kamu benar-benar memalukan, Laya.” “Dan aku akan meminta Ibu untuk menyadarkanmu segera.” Keduanya pergi. Refleks membuat Laya menutup pintu apartemen kemudian menguncinya. Menyisakan suasana yang kembali sunyi tapi sisa emosi yang membara, belum sepenuhnya reda. Laya diam beberapa detik demi menetralkan deru napasnya yang belum stabil. Tangannya perlahan turun dari posisi mengepal. Setelah kekacauan tadi, masih ada kekacauan lain yang harus dia selesaikan dan dia sudah siap jika pada akhirnya pria kaku itu memaki tindakan yang sudah dia lakukan. Laya memutar tubuhnya kemudian mendekati Taram masih dengan kepala tertunduk. Sungguh dia tidak berani menatap wajah itu sekarang. “Taram ...,” panggilnya pelan. Sebentar menarik napas kemudian. “aku minta maaf. Tidak seharusnya aku—“ Laya menatap Taram sembari menggigit bibir pelan. Ia tidak berani menjelaskan lebih lanjut dan dia rasa, Taram cukup mengerti maksudnya. Beberapa detik hening. Tatapan mereka bertemu dan Laya tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah di sana. Yakni tatapan Taram yang lebih dalam, lebih dekat dan lebih berbahaya. Tanpa peringatan Taram bahkan melangkah maju ke arah Laya. Begitu saja merengkuh tengkuk Laya dan sebelum Laya sempat bereaksi, bibir keduanya sudah bertemu. Bukan seperti yang tadi. Bukan sekadar spontan dan menempel bibir lalu usai. Tapi kali ini lebih intens, lebih menekan dan lebih dalam. Laya sampai tidak sadar bahwa bibir tipis Taram yang sering kali melontarkan kalimat pedas itu sudah mengulum bibirnya seperti permen kapas. Refleks Laya mencengkeram kaos Taram. Berniat menghentikan tapi rengkuhan tangan pria itu terlalu menekan. Seolah Taram sedang melampiaskan semua emosi yang tertahan. Amarah, kekhawatiran, bahkan sesuatu yang lebih dalam. Beberapa detik terasa begitu panjang. Laya bahkan tidak punya ruang untuk mengambil napas. Dia yang seumur hidup belum pernah berada di situasi seperti sekarang, pun hanya bisa mendesis saat bibirnya terasa kebas. Taram melepaskan ciuman. Sadar bahwa dia telah hilang kendali dan gadis itu sudah dia buat lemas sampai tidak bisa berdiri. “Taram?” Tatapan Taram mengunci Laya. Begitu gelap, dalam, dan sulit dibaca. “Kalau itu yang kamu sebut ‘maaf,” ucapnya pelan dengan suara begitu berat. Laya bahkan tidak bisa berpaling walau sebentar. “maka aku membalasnya, Zelaya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD