Rumah besar keluarga Narendra tampak lebih hidup dari biasanya.
Lampu-lampu menyala terang, pelayan berlalu-lalang, dan suasana yang biasanya hening—menakutkan, kali ini cukup ramai karena kedatangan dua manusia yang saat ini duduk di ruang tengah.
“Ah lelah sekali.” seorang wanita bergaun peach duduk santai di sofa panjang. Tubuhnya bersandar manja pada d**a bidang pria di sebelahnya. Pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya dan pria yang saat ini seharusnya dia beri selamat sebagai menantu tertua keluarga Narendra.
Siapa lagi kalau bukan ... Jodi Diningrat.
“Kenapa Laya belum datang juga?”
Khalila Raina Narendra, saudara tiri Laya beda ibu itu bermain-main di kancing jas Jodi sembari mendesah pelan. Sejak kecil, hubungan Lila dengan Laya memang tidak begitu akur. Entah karena beda ibu atau memang sudah tertanam di pikiran Lila jika Laya itu selayaknya pelayan keluarga Narendra.
“Harusnya dia sudah datang beberapa jam yang lalu. Iya ‘kan Mas?” Lila melanjutkan dan Jodi tidak langsung menjawab. Tatapannya seperti kosong menyapu ruangan dan entah memikirkan apa. Mungkin sedikitnya merasa bersalah pada Laya.
Khalila mengangkat wajah. Menatap Jodi dengan raut wajah berubah kesal. “Kamu masih memikirkan dia?”
Jodi menyeringai. “Mana mungkin, Lila. Aku hanya bertanya-tanya, apakah mungkin seorang Zelaya mau tinggal berdua dengan pengawal?”
Ya, cerita itu sudah sampai ke telinga Jodi beberapa menit setelah Laya memutuskan meninggalkan rumah karena membela suami pengawalnya. Lalu tak disangka, keputusan Laya itu berlanjut sampai sekarang. Patah hati boleh saja, tapi apakah sampai membuat Laya si perfeksionis itu turun selera?
Jodi menghela napas. Jika saja Laya bukan anak tiri Sekar dan Khalila sebagai pewaris utama keluarga Narendra menaruh perasaan padanya, tentu dia akan melanjutkan pernikahan karena Laya adalah wanita yang sangat sempurna untuk dijadikan istri.
Wanita itu pintar, cantik, patuh, dan siapa pun pasti tertarik.
Khalila tersenyum miring. Ada rasa tidak percaya tapi ia memilih tidak memperpanjang. “Setelah kamu tinggalkan, mungkin saudariku menjadi sedikit tidak waras.” Seperti tidak memiliki hubungan darah, setelahnya Lila justru melanjutkan. “dan jika Laya tahu kita bersama, pasti tinggal memasukkan wanita itu ke rumah sakit jiwa.”
Jodi tidak membalas.
Dia memilih mengecup puncak kepala Khalila dan menikmati heningnya rumah keluarga Narendra yang 1 tahun lagi akan menjadi rumahnya. Tentu tidak bisa sekarang karena bagaimana pun, semua orang tahu bahwa dirinya adalah calon suami Zelaya.
Di sudut lain ruangan
Sekar berdiri dengan ekspresi yang semakin menakutkan. Tangannya terlipat di d**a dan matanya sesekali melirik ke arah pintu utama.
Kosong.
Masih saja kosong padahal sudah seharian dia menunggu Zelaya sejak kabar kepulangan Jodi “dibocorkan” dengan sengaja. Entah apa yang Laya pikirkan sampai kabar ini seolah tak penting lagi padahal dia melihat sendiri bagaimana frustrasinya Laya saat Jodi tinggal pergi.
Sekar berdecak pelan. “Gadis ini ... semakin keras kepala saja.”
Sekar meninggalkan pijakan. Berjalan menuju ruang tengah di mana putri kebanggaannya sedang berpelukan dengan Jodi Diningrat. Bagus pria itu memiliki status yang setara. Pewaris tunggal keluarga Diningrat juga. Jika tidak, mana mungkin dia membiarkan putrinya menjadi selingkuhan.
Khalila mendekati Sekar dengan anggun. “Dia belum datang juga, Bu?”
Sekar mengangguk. “Kamu lihat sendiri, Lila. Bahkan tidak ada tanda-tanda Laya akan datang.”
“Sepertinya selera Laya memang turun drastis.” Lila mendesah pelan. “padahal aku sudah menebak dia langsung lari ke sini sembari menangis histeris.”
“Harusnya begitu kalau Laya memang mencintai Jodi.”
Jodi yang menjadi topik pembicaraan tiba-tiba menegang. Dia dan Laya sudah menjalin hubungan selama 2 tahun dan dia tahu bagaimana Laya mencintainya meski selama ini Laya konsisten membatasi kontak fisik. Sekedar berpegangan tangan dan memeluk saja dan apakah benar yang Sekar katakan bahwa sebenarnya Laya tidak cinta? Jadi itu penyebab Laya tidak pernah percaya?
Mendadak d**a Jodi terasa panas. Harga dirinya sebagai pria yang dikejar-kejar wanita tentu tersentil keras.
“Apa mungkin pengawal itu lebih menarik dan sudah membuat Laya jatuh cinta?” Lila menerka lagi. “tapi apa bagusnya, Bu? Pengawal tetap saja pengawal. Miskin, rendahan.”
Sekar tak menyela. Diamnya menerawang jauh—mencoba menebak penyebab Laya tidak goyah.
“Laya tidak akan semudah ini melepaskan apalagi Jodi sudah membuat Laya malu di depan banyak orang.” Sekar mendesah. “dia bukan tipe yang hanya diam tanpa membalas.”
Khalila menyela, “Tapi Ibu lupa seberapa tinggi harga diri Laya.”
Hening sejenak.
Khalila melirik ke arah pintu, lalu kembali ke ibunya lagi. “Jadi bagaimana? Rencana yang kita susun tetap gagal kalau Laya tidak pulang.”
Mata Sekar seketika berkilat. Senyum yang menyimpan bahaya mulai nampak. “Belum gagal, Lila karena kalau Laya tidak datang,” lirihnya pelan, “maka kalian yang akan mendatanginya.”
Khalila memutar mata. Meski ini menyebalkan, tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan.
“Baik, Ibu tinggal menunjuk tempatnya dan kami akan membuat Laya tak berkutik di sana.”
**
Sore menjelang malam, Laya berdiri di ambang pintu sembari menatap Taram yang baru kali ini dia lihat mengotak-atik ponselnya. Entah apa yang pria itu lihat sampai begitu fokus dan tak sedikit pun melihat keberadaannya.
Laya memutuskan mendekat. Sedikit canggung sebenarnya dengan niatan mengajak Taram makan di luar tapi mengingat selama seminggu terakhir Taram mengurusnya dengan begitu sempurna, dia pun berkata, “Taram, ayo makan di luar.”
“Makan di luar?” Taram yang belum mengalihkan pandangan dari layar kecil itu mengulang kemudian menjawab dengan sarkas. “Tidak.”
Laya langsung mengerutkan kening. “Kenapa tidak? Aku yang akan membayar.”
Fokus Taram sebentar teralihkan. Kalimat Laya yang terakhir sedikit menyentil harga dirinya namun dia bisa apa? Saat ini identitasnya masih pengawal yang tidak punya pekerjaan dan bergantung pada Laya. Selain itu, tidak mungkin juga dia berada di tengah keramaian mengingat Devan baru saja mengirim pesan bahwa anak buah kakeknya mulai bergerak.
“Lebih nyaman makan di rumah, Laya.” Ya, hanya alasan itu yang Taram punya dan Laya yang tidak mau memaksa, pun mengambil jalan tengah.
“Baik, kalau begitu pesan makanannya saja.”
Laya mengambil ponsel tapi Taram malah protes. “Tidak usah, Lay. Aku masak saja. Lebih jelas bahannya.”
Laya langsung menggeleng cepat. “Tapi lebih lama sedang aku sudah lapar.”
Taram lalu menyerah. “Terserah kau saja.”
Tak lama makanan pun datang.
Meja ruang tengah yang sebelumnya kosong, kini penuh dengan berbagai kotak makanan. Aroma steik yang menggoda, bercampur dengan wangi pizza dan burger yang baru dibuka, langsung menyeruak memenuhi ruangan.
Laya refleks mengambil posisi kemudian menyalakan televisi. Sedang Taram menatap ke arah Laya kemudian ke meja yang penuh makanan. Pria kaku itu mendesis pelan.
“Kamu pesan sebanyak ini?”
“Ya? Kenapa?”
“Kamu kuat menghabiskan sendiri?”
“Kenapa sendiri? Aku membeli makanan untuk kita habiskan berdua.” Laya menoleh ke arah Taram kemudian menyipitkan matanya yang berbinar-binar. “jangan bilang kamu tidak mau makan karena kamu menganggap semua makanan ini tidak sehat.”
Taram berdeham pelan. Ya, sejujurnya dia memang jarang makan makanan seperti itu tapi bagaimana menjelaskan. “Tidak juga. Aku hanya ... tidak biasa.”
Laya mengerjap. Mendadak burger yang dia kunyah sulit ditelan. Selama ini dia kadang mengeluh karena hidupnya yang serba dalam tekanan dan sekarang, dia malah bertemu Taram yang soal makan burger saja tidak biasa.
Laya meletakkan burger di tangan kemudian memegang bahu Taram. “Mulai sekarang, jangan merasa sungkan jika kamu ingin sesuatu. Baju, makanan atau apa pun itu dan aku akan membelikannya.”
Taram hampir tergelak. Tidak heran juga dengan respons Zelaya yang menganggap dia kekurangan dan lagi, tingkah tulus gadis ini berhasil membuat dadanya berdesir.
Laya adalah satu-satunya orang Narendra yang tidak memandang rendah orang lain. Gadis itu selalu tulus, selalu rendah hati dan baik. Suatu hari nanti, b******n bernama Jodi itu pasti menyesal karena membuang berlian secantik ini.
“Sekarang ayo makan dan habiskan semuanya.”
Taram menurut saja. Dia mengambil burger kemudian lahap menggigitnya sembari menatap senyum Laya. Wanita yang satu ini memang sangat tahu bagaimana menarik perhatiannya dan suatu hari nanti, apa yang akan terjadi jika identitasnya sebagai komisaris Mataram Company terbongkar? Apakah gadis ini masih mau duduk dengannya dan tertawa lepas tanpa jarak? Atau masihkah Laya mau memakai baju tidur gambar kartun kepala beruang itu di depannya?
“Eh!” Laya menyingkirkan anak rambutnya yang jatuh tergerai dan hampir menyentuh saus. Ternyata ikatan jedainya lepas dan dia pun beranjak. Hendak mencuci tangan kemudian merapikan rambutnya tapi tarikan tangan Taram membuatnya kembali terduduk di sana.
“Biar aku,” ucap pria kaku itu dan seperkian detik, tubuh Laya telah menjadi batu.
Bagaimana tidak, tindakan Taram kali ini bukan lagi mengikat rambut Laya dari belakang tapi dari depan yang mana posisi keduanya menjadi sangat dekat. Laya bahkan bisa menghirup aroma tubuh Taram lebih jelas dari biasanya. Aroma parfum menyegarkan yang sempat membuat Laya curiga soal harganya tapi Taram mengatakan parfum murah.
Laya menggigit bibir pelan. Gerak tangan Taram yang menyatukan rambutnya bisa dipercepat sedikit tidak? Dia takut pingsan jika terus-terusan dikurung tubuh besar Taram seperti ini. Belum posisi wajah Taram yang berada cukup dekat. Membuatnya komat-kamit berdoa semoga saja detak jantungnya tidak sampai terdengar.
“Sudah.”
Taram menjauh setelah sebentar melihat pipi Laya yang memerah. Memang salahnya mengurung Laya di posisi tadi, tapi gerakannya refleks tanpa bisa dicegah.
Laya tersenyum kilas. Berusaha memutus kontak mata kemudian berkata, “Terima kasih.”
Taram hanya mengangguk kecil dan suasana kembali hangat seperti tadi.
Nyaman, sederhana dan indah selayaknya pasangan muda yang jatuh cinta. Seolah tidak ada dunia luar dan hanya mereka berdua. Lalu ....
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu memecah semuanya. Laya dan Taram sama-sama menoleh dan takut kejadian kemarin terulang lagi, Laya spontan memegang lengan Taram kemudian menggeleng pelan. “Jangan. Biarkan saja.”
“Tidak apa-apa. Kamu melihat sendiri jika aku bisa melindungi diri.”
“Tapi—“
Taram mengusap pipi Laya yang masih memerah kemudian bangkit dari duduknya. Tanpa ragu membuka pintu dan begitu melihat tamu yang datang, tatapannya langsung berubah.
Bukan Taram tidak tahu sosok lelaki yang berdiri di depannya sekarang. Tentu dia masih ingat karena wajah pria itu lah yang bersanding dengan foto Laya di pelaminan.
Jodi Diningrat.
“Apa aku mengganggu kalian?”