Bab 3 - Keputusan Zelaya

947 Words
Beberapa menit kemudian. “Non Laya tidak boleh masuk.” Dua satpam yang berjaga di pintu gerbang mencegat Laya yang saat itu sudah sampai. Sudah dahinya berkeringat karena cemas, sekarang dia malah melihat Taram yang duduk berpangku lututnya. Pasrah menyembah di depan sekar yang menginjak tas punggung berwarna hitam. Wanita itu benar-benar keterlaluan. “Aku harus masuk agar Taram tidak dipukuli. Tolong sedikit saja mengerti karena bagaimana pun status kalian sama.” Laya menyela. Begitu saja melewati gerbang yang dibuat regang dan dia pun berpura-pura menerobos agar dua satpam tadi tidak Sekar hukum juga. “Nona berhenti,” suara Satpam yang bersandiwara mengejar, jelas membuat Sekar yang saat itu memang menunggu kedatangan Laya pun tersenyum menang. Ini adalah momen yang dia tunggu sejak dia tahu, bahwa Rika ketahuan menghubungi Laya diam-diam. “Akhirnya kamu datang juga, Zelaya.” Sekar tertawa, “lihat, suamimu sedang menunggu kamu pulang.” Laya melihat Taram yang menunduk pasrah. Tanpa sedikit pun mendongakkan kepala dan dia tahu, seperti apa Sekar mengancamnya. “Aku mohon lepaskan Taram, Bu. Dia tidak bersalah.” Sekar mengangguk. “Ya, Taram memang tidak bersalah. Tapi kamu lah yang membuat Taram harus menanggung hukuman.” Sekar melihat pengawal di sampingnya. “cambuk dia!” “Tidak! Aku mohon jangan!” Laya menyela. Menyatukan tangannya di depan Sekar yang saat itu menatap Laya penuh kepuasan. Air mata Laya lagi-lagi jatuh. “aku hanya meminta waktu, Bu. Tolong kasihani aku.” “Ibu sudah memberi kamu waktu, Laya. Ya, tidak apa-apa lagi pula kalian berdua tidak tinggal di rumah. Namun, siapa pun yang melakukan kesalahan sudah tentu akan diberi hukuman. Kamu tidak lupa hal dasar ini ‘kan?” Tidak hanya sekali dua kali, tentu Laya sudah tahu konsekuensinya karena dia besar di rumah ini juga. “Pegang dia!” Sekar memerintah dan salah seorang pengawal pun memegang Laya sedang satu pengawal lagi bersiap mencambuk Taram yang kuat mengepalkan tangan. “Aku mohon jangan lakukan. Jangan Ibu—“ Ctas! Badan cambuk itu mengayun, cukup keras menampar punggung Taram yang masih setia menunduk. Sedikit pun tidak bereaksi dan Laya yang saat itu terisak mulai memberontak kuat. Sungguh Taram tidak seharusnya menjadi korban sampai sejauh ini. “Cambuk lagi!” Titah Sekar menggema. Bersama badan cambuk yang mengudara dan saat itulah Laya berhasil lepas dari pegangan pengawal. Tanpa pikir panjang membungkuk di depan punggung Taram dan berhentilah ujung cambuk itu sebelum menyentuh punggungnya. “Laya!” kelopak mata Sekar membola. Iris pekatnya bahkan serasa ingin menelan Laya yang tanpa ragu berkata, “Jika Ibu tidak menghentikan ini sekarang, maka jangan harap aku mau menjadi pion—seperti yang Ibu inginkan.” Tidak ada keraguan di sana. Laya hanya tahu bahwa dia sudah menghentikan kekejaman Sekar dan di detik selanjutnya, Laya telah kehilangan keteguhannya. Di detik terakhir sebelum kegelapan itu datang, Laya bisa merasakan bagaimana tubuhnya direngkuh dengan begitu erat. ‘Aku lelah, Ibu. Aku lelah’ ** Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena matahari yang masuk melalui jendela besar, atau suara kendaraan yang samar terdengar dari bawah—melainkan karena untuk pertama kalinya, Zelaya membuka mata di depan orang asing. Bukan orang asing juga sebenarnya karena selama 1 bulan ini dia sering kali berinteraksi dengan Taram saat pria itu menjaga ayahnya. “Nona sudah bangun?” Wajah itu muncul di depan Zelaya. Terlihat tenang namun tetap kaku seperti biasa. Zelaya mengangguk. Bangkit kemudian beringsut ke tempat tidur dengan helaan napas berat. “Jangan memanggilku Nona lagi, Taram. Kita sudah tidak terikat pekerjaan dan—“ “Sebaiknya Nona cuci muka dulu. Biar saya menyiapkan sarapan.” Taram menyela begitu saja. Bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan Laya yang sebentar menekan pelipisnya. Ia ingat saat membuka mata di klinik, kemudian pulang ke apartemen masih dengan Taram yang mengangkat tubuhnya seperti seorang suami. Tak mau membuat Taram menunggu, Laya lekas bergegas ke kamar mandi. Bersiap sebentar sampai akhirnya dia tiba di dapur. Melihat sebuah pemandangan di mana punggung tegap pengawal setia ayahnya itu berkutat dengan kompor, wajan dan spatula kayu. “Sebentar lagi sarapannya siap.” Laya menurut saja. Dia masih sangat lelah karena untuk menggerakkan tubuhnya pun rasanya begitu berat. Jadi untuk kali ini dia akan mengorbankan Taram lagi. Lagi? Dia bahkan tidak tahu seberapa banyak dia berhutang pada pria itu. Dua piring mendarat di atas meja. Masing-masing berisi omelet yang berwarna kuning kecokelatan juga sepotong roti panggang. Secangkir air juga tak lupa Taram suguhkan pada Laya yang saat ini menatap pria itu lama. “Kamu bisa masak?” “Hanya ini, Nona.” Taram menegakkan tubuhnya. Tentu saja keterampilan memasaknya sempurna namun, wanita di depannya bisa saja berpikiran yang tidak-tidak jika dia sedikit saja keluar dari persembunyian. Taram memegang piring, hendak beranjak tetapi Laya menahan lagi. “Mau ke mana?” “Pindah ke ruang tamu.” “Tidak perlu. Makan di sini saja. Sudah aku katakan jika aku bukan bagian dari majikanmu lagi.” Taram menyanggupi. Dia pun mengembalikan piringnya ke tempat semula dan untuk pertama kalinya, dia makan semeja dengan perempuan. Berhadapan dari jarak cukup dekat pula dan apa yang tidak sesuai dengan rencana, yakni wanita itu bukan lagi majikannya tetapi istrinya. Agak mengejutkan memang karena tiba-tiba Sekar menunjuknya untuk menikahi Zelaya. Padahal yang dia tahu putri sulung keluarga Narendra itu akan menikah dengan kekasihnya yang sudah menjalani hubungan selama 2 tahun, barulah saat dia berganti baju dia tahu bahwa Zelaya sudah ditinggal pergi oleh calon suaminya. Benar-benar b******n. “Setelah ini aku ingin bicara.” Taram mengangkat pandangan. Menatap wanita bermanik mata sendu yang selalu tersenyum pada semua orang itu. Sebentar meneliti raut wajahnya yang teramat berantakan bahkan kelopak mata yang mengerut saat tertawa itu terlihat sembab dan bengkak. Taram mengangguk. Dalam keheningan keduanya melanjutkan sarapan tanpa sepatah kata pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD