Setelah sarapan selesai, Laya menunggu Taram di ruang tamu karena lagi-lagi pria itulah yang dia repotkan mencuci piring. Padahal semua itu tugasnya karena bagaimana pun status Taram adalah suaminya dan itu sah.
“Duduklah,” ucap Laya saat Taram datang. “bagaimana punggungmu? Maaf karena bukannya mengobatimu aku malah menambah beban.”
“Tidak apa-apa. Sudah tidak sakit.” Taram duduk dengan posisi lengan menekan lutut. Punggungnya tentu sudah tahan pukul tetapi dia sama sekali tak menyangka jika wanita itu akan melindunginya. Jika saja cambuk itu benar memukul punggung Laya yang saat itu akan mengelupas, mungkin dia tidak akan lagi menahan.
Wanita bernama Sekar itu benar-benar kejam.
“Ram ...,” Laya mengulum bibir canggung. Jemarinya saling menggenggam erat seolah menahan gemetar yang tak bisa ia sembunyikan. Sungguh mati-matian dia mengumpulkan keberanian untuk berbicara, “aku… minta maaf, Ram. Semua ini terjadi karena kebodohanku. Kalau saja aku tidak salah memilih… kamu tidak akan berada di posisi ini.”
Taram terdiam. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya jelas menyimpan kesal. Bukan karena pekerjaan yang hilang, tapi tentang bagaimana Sekar mengusir Laya karena Laya menolak menceraikannya.
Ya, dia jelas tahu jika statusnya sekarang hannyalah pengawal rendahan yang tentu aib bagi keluarga Narendra. Tapi Zelaya? Entah apa yang wanita itu pikirkan sampai rela berada di posisi sekarang.
“Aku tahu kamu marah. Kamu berhak,” lanjut Laya, menelan ludah. Sekarang Taram sudah tahu situasinya. “Aku sudah menghancurkan banyak hal. Aku menempatkanmu dalam masalah dan aku membuatmu kehilangan pekerjaan.”
Laya menarik napas panjang lalu mengeluarkan sebuah amplop yang sudah dia siapkan. Dia sudah memikirkan ini sepanjang malam.
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menebusnya. Ini hutang budi dan tidak ada kompensasi. Aku menghancurkan hidupmu dan anggap ini sedikit tanggung jawabku.”
Taram akhirnya mengangkat pandangan. Sebentar menatap amplop tebal di tangan Laya yang jika saja Devan—anak buahnya melihat keberanian wanita itu, pasti Devan akan langsung tertawa keras.
“Jadi menurutmu semuanya bisa selesai dengan uang?” suaranya datar, tapi tajam.
Laya langsung menggeleng cepat. “Bukan ... bukan begitu maksudku, Ram. Aku cuma—”
“Aku kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan. Aku kehilangan tempat tinggal dan aku tidak tahu harus ke mana.”
Entahlah, harusnya dia merasa senang karena Laya yang dia pikir akan bergantung padanya malah melepaskannya begitu saja. Harusnya semua ini sudah selesai tapi kenapa dia malah enggan? Apa karena perempuan menyedihkan itu berhasil menarik simpatinya?
Hening sebentar sampai akhirnya Taram mendorong pelan tangan Laya yang masih memegang amplop berisi uang itu. “Simpan saja uangnya.” tegas Taram melanjutkan, “jika kamu benar-benar mau menebus kesalahanmu, jangan lari lagi dari tanggung jawab. Sedikitnya beri aku tumpangan tempat tinggal sampai aku menemukan pekerjaan. Itu lebih berarti daripada uang.”
Laya terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras dari penolakan apa pun dan untuk pertama kalinya, ia sadar—menebus kesalahan bukan soal memberi, tapi soal berani memperbaiki.
“Dan soal pernikahan…,” Taram berhenti sejenak. Ia ingin melihat reaksi Zelaya karena bagaimana pun semua keputusan ada di tangan gadis itu.
“Kamu tidak perlu khawatir, kapan pun kamu memintanya aku akan segera mengajukan gugatan ke pengadilan,” ucap Zelaya tegas.
Lagi-lagi merasa lega karena dia tidak perlu menutupi apa pun dari Taram.
**
Malam merayap pelan di sudut-sudut rumah besar itu. Sunyi terasa lebih pekat dari biasanya, seolah dinding-dinding ikut menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan.
Sekar berdiri di depan sebuah pintu kamar yang sudah lama tidak benar-benar ia masuki dengan hati yang utuh. Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk, tetapi urung. Tak ada jawaban yang akan ia dapatkan dari dalam, ia tahu itu. Dengan napas tertahan, ia mendorong pintu perlahan.
Di dalam, pemandangan Sekar disambut sosok Bima yang terbaring kaku di atas ranjang. Tubuh lelaki itu tak lagi seperti dulu—tegas, penuh wibawa, dan selalu tampak tak tergoyahkan. Kini, ia hanya bisa berbaring, diam, terperangkap dalam tubuhnya sendiri. Stroke itu telah merenggut suaranya, geraknya, bahkan sebagian dari dirinya.
Namun matanya… matanya masih hidup.
Mata itu bergerak pelan saat menyadari kehadiran Sekar. Menatapnya. Mengakui bahwa ia datang.
Sekar melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seakan lantai menahannya untuk terus maju. Ia berdiri di samping ranjang, memandang wajah Bima yang kini dipenuhi ketidakberdayaan.
“Mas…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang takut terdengar.
Bima tak bisa menjawab. Tapi tatapannya berubah—ada sesuatu di sana. Menunggu. Bertanya.
Sekar menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ini bukan kabar yang ingin ia bawa. Tapi juga bukan sesuatu yang bisa ia sembunyikan meski sebelumnya dia menjadikan hal ini untuk mengancam Laya.
“Pernikahan Laya dan Jodi… batal.”
Mata Bima berkedip pelan. Satu kali. Lalu diam.
Sekar menunduk sebentar. “Jodi pergi. Dia meninggalkan Zelaya begitu saja… tanpa penjelasan.”
Hening kembali mengisi ruangan. Mesin di samping ranjang berdetak pelan, seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan meski hidup Bima mungkin terasa berhenti.
“Untuk membuat keluargaku tidak malu … Laya akhirnya menikah dengan Taram. Pengawalnya rumah ini. Pengawal yang sering menjagamu, kamu pasti tahu.”
Kali ini, mata Bima membesar. Ada keterkejutan yang jelas, bahkan tanpa kata, jari-jarinya yang kaku tampak berusaha bergerak, meski hanya sedikit.
Sekar menangkap reaksi itu. Hatinya mencelus.
“Aku juga tidak pernah membayangkan ini akan terjadi …” katanya pelan. “Tapi Laya… dia tidak punya pilihan. Semua sudah di depan mata. Pilihannya tentu hanya menikah atau melihat nama terhormat keluarga kita ditertawakan orang.”
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih dalam, “Dan sekarang, anakmu tidak mau menceraikan Taram. Laya memilih meninggalkan rumah. Dia pergi.”
Tatapan Bima sepenuhnya berubah. Buram olek riak air mata yang menetes tanpa suara. Tetap sunyi yang kali ini terasa menyakitkan.
Ada amarah, ada penyesalan, ada sesuatu yang terperangkap di balik matanya—sesuatu yang tidak akan pernah bisa Bima ucapkan. Menyesal karena dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Zelaya.
Sekar menghapus air mata Bima perlahan. Setelahnya dia bangkit dan menunjukkan sikap otoriter tak terbantah lagi.
“Ya sudah, sebaiknya Mas beristirahat. Aku harus pergi, masih ada yang harus aku kerjakan.”
Tak ada jawaban. Hanya tatapan itu. Selalu tatapan itu.
Sekar akhirnya berbalik, meninggalkan kamar dengan langkah yang lebih cepat dari saat ia masuk. Lagi-lagi dia teringat perlawanan Laya yang membuat darahnya mendidih sampai kepala. Sungguh dia tidak akan membiarkan Laya berlama-lama bebas dari tali kekang yang dia kendalikan.
Ponsel di tangannya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat Sekar menarik napas dalam—Khalila. Putri semata wayangnya yang saat ini masih di luar negeri.
“Iya, Lila?”
“Bagaimana situasi di sana?”
Pertanyaan itu tentu Sekar tahu arahnya karena Khalila lah yang membuat dia bertindak nekat.
Sungguh Sekar tidak menyangka saat Khalila mengaku menyukai Jodi Diningrat. Sejak mereka kecil, hubungan keluarga mereka memang terjalin baik dan setelah beranjak dewasa, Khalila memilih melanjutkan ke luar negeri. Dia pikir Lila tidak memiliki perasaan apa-apa. Putri semata wayangnya itu juga tidak masalah saat Jodi dan Zelaya menjalin hubungan. Tapi begitu mendengar Jodi akan menikahi Zelaya, barulah Lila berulah. Lila terus mendesaknya, meminta ia mencari cara agar pernikahan mereka batal dan barulah dia tahu bahwa selama ini, Lila dan Jodi diam-diam menjalin hubungan.
“Zelaya pergi dari rumah. Dia tidak mau menceraikan pengawal itu.”
Terdengar tawa Lila di seberang sana. Usia Lila dan Zelaya memang hanya berjarak 4 tahun. Jatuh cinta pada Bima membuatnya membiarkan posisi nona sulung keluarga jatuh kepada Zelaya yang merupakan anak tirinya.
“Kenapa tidak Ibu biarkan saja?”
“Ibu tidak mungkin membiarkan nama terhormat keluarga kita menanggung aib. Apa kata orang-orang, jika putri sulung keluarga ini menikah dengan pengawal yang tidak jelas asal-usulnya?” Sekar menghela kesal. “tapi tidak apa-apa. Ibu sudah balik mengancam dengan tidak mengizinkan Laya kembali ke perusahaan. Mari kita lihat, sampai kapan Laya mau bertahan dengan pengawal rendahan bernama Taram itu.”