“Kamu benar tidak punya tempat tinggal?” tanya Laya sesaat situasi tadi telah berubah semestinya. Dia dan Taram sudah kembali ke tempat semula.
Taram mengangguk. “Aku merantau ke tempat ini jadi kamu bisa menebak seperti apa kehidupanku.”
“Kamu masih punya keluarga tidak?”
Taram sedikit mengernyit. Apa wanita itu berniat mengusirnya dengan cara halus?
“Aku sebatang kara. Dari kecil sudah yatim piatu. Tidak punya siapa-siapa.” Taram mencelus. Hanya karena wanita ini dia sampai harus mengatakan bahwa keluarga besar itu sudah terkubur. “rumahku dulu sudah aku jual untuk membayar hutang mendiang pamanku.”
Sederhana. Terlalu sederhana.
Laya menatapnya lama, mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata itu. Melihat wajah Taram yang kaku, ini terdengar seperti cerita yang dibuat-buat tetapi sulit juga menjelaskannya karena Taram terlalu ... tenang, tertutup, sulit ditembus.
“Dan akhirnya jadi pengawal?”
Taram mengangguk singkat. Tak ada penjelasan lebih.
Laya memilih tidak memaksa. Ia tahu, semua orang punya rahasia dan Taram jelas bukan orang yang mudah membuka diri.
Ruangan kembali hening hanya menyisakan suara-suara kecil dari luar yang samar.
Laya berdiri dari sofa yang di dudukinya. “Ya sudah, sebaiknya kita beristirahat. Sudah larut malam.” Selanjutnya Laya mendekati tempat tidur. Menarik kemudian melipat selimut dengan gerakan rapi. Ia melirik sekilas ke arah Taram yang masih berdiri tak jauh darinya.
“Cepat tidur di atas.”
Taram mengernyit. “Lalu kamu?”
“Aku di bawah,” jawab Laya cepat, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. Ia sudah mengambil satu kasur lipat tipis dari lemari kemudian menggelarnya di depan Taram yang belum menyetujui.
Taram langsung menggeleng. “Tidak perlu.”
Laya berhenti, menoleh. “Apa maksudnya tidak perlu?”
“Aku saja yang di bawah,” kata Taram tegas. “Kamu tetap di tempat tidur.”
Laya mendengus pelan. “Punggungmu masih terluka.”
“Dan kamu perempuan,” balas Taram tanpa ragu. “Tidak pantas kamu tidur di lantai.”
Laya terdiam sejenak, menatapnya dengan sedikit kesal karena ternyata pengawal kaku itu bisa mengajak berdebat juga. “Kamu juga manusia. Bisa pegal kalau tidur di bawah.”
“Aku terbiasa.”
Laya menatapnya beberapa detik lebih lama, tapi akhirnya ia menghela napas. “Terserah kamu saja.”
Tanpa berdebat lagi Laya membiarkan Taram berbaring di kasur tipis yang berada di lantai. Mematikan lampu dan ruangan seketika redup—hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut.
Laya berbaring di atas tempat tidur, memunggungi sisi tempat Taram berada.
Hening.
Namun anehnya, Laya tidak bisa memejamkan mata. Ia melirik ke bawah. Taram memang terlihat diam, tapi dari napasnya jelas ia tahu bahwa pria itu belum benar-benar tertidur.
Perasaan tidak nyaman pun merayap di hati Laya.
Bukan karena takut tapi… tidak tega.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya Laya menghela napas panjang kemudian beranjak. “Taram.”
Taram membuka mata. “Ya?”
Laya ragu sejenak sebelum berkata, “Naik ke atas.”
Taram mengernyit. “Tidak perlu.”
“Naik,” ulang Laya, kali ini lebih tegas.
“Aku baik-baik saja di sini.”
Laya menatapnya, lalu berkata pelan tapi jelas, “Aku tidak.”
Kalimat itu membuat Taram terdiam.
“Aku tidak bisa tidur kalau kamu di bawah seperti itu,” lanjut Laya, suaranya melembut. “Jadi… naik saja.”
Beberapa detik hening.
Akhirnya tanpa banyak bicara lagi Taram bangkit. Ia naik ke atas tempat tidur dengan gerakan hati-hati, menjaga jarak.
Laya segera mengambil satu bantal panjang dan meletakkannya di tengah. “Batas,” katanya singkat.
Taram melirik bantal itu, lalu kembali menatap Laya. Ada sedikit senyum yang hampir muncul, tapi ia tahan. “Baik.”
Mereka berbaring saling membelakangi, dipisahkan oleh bantal sebagai sekat namun meski ada jarak itu… suasana terasa berbeda.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Laya menatap ke depan, matanya terbuka. Ia bisa merasakan kehadiran Taram di belakangnya—napasnya, gerak kecilnya, bahkan kehangatan yang samar.
Ini aneh.
Semua ini terjadi terlalu cepat.
Pagi tadi ia masih memikirkan Jodi… dan sekarang ia berbagi tempat tidur dengan pria lain. Pikirannya berputar, tapi perlahan mulai melemah oleh rasa lelah.
Di sisi lain, Taram belum juga memejamkan mata.
Ia merasa enggan dan terus menatap langit-langit sebelum menoleh sedikit ke arah sekat bantal di antara mereka.
Keesokan harinya
Laya bergerak pelan. Alisnya sedikit berkerut saat kesadarannya kembali. Ia pun menghela napas panjang dan masih setengah terlelap dia merasa hangat yang melingkupi.
Ya, terlalu hangat. Hingga membuatnya perlahan membuka mata dan seketika tatapan Laya langsung berhent di satu titik.
Dekat ... Ini terlalu dekat. Bagaimana bisa wajah Taram berada hanya beberapa senti darinya?
Laya membeku di tempat.
Untuk beberapa detik, otaknya seperti berhenti bekerja. Ia bahkan bisa merasakan napas Taram yang hangat menyentuh wajahnya dan saat itulah ia sadar bahwa bantal yang semalam mereka jadikan sekat… sudah tidak lagi berada di tempatnya dan entah sejak kapan.
Jantung Laya mulai berdegup kencang. Ia mencoba mundur sedikit—tapi gerakannya terhenti.
Ada sesuatu yang menahan.
Pelan-pelan, Laya menunduk.
Tangan Taram ... Melintang ringan di pinggangnya.
Mata Laya membesar.
“Astaga!” Laya langsung menegang, tidak berani bergerak lebih jauh hingga beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa memekakkan.
“Bangun…,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan meski ia sendiri tidak yakin, ia ingin Taram benar-benar bangun atau tidak.
Namun takdir malah berkata lain.
Alis Taram sedikit bergerak. Napasnya berubah dan perlahan, matanya terbuka.
Butuh satu detik.
Dua detik.
Lalu Taram menyadari. Tatapan keduanya bertemu. Begitu dekat dan kaku.
Taram tidak langsung bergerak. Ia hanya menatap Laya dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara terkejut dan sesuatu yang berbeda.
Sementara itu, wajah Laya sudah memanas sampai pipinya mulai merona.
“Kamu…” Laya mencoba bicara, tapi suaranya malah terdengar aneh. “Tanganmu.”
Taram menoleh sedikit seolah baru sadar posisinya. Pandangannya turun ke arah tangannya yang masih berada di pinggang Laya.
Alih-alih langsung menarik, ia justru kembali menatap Laya.
“Sepertinya,” katanya santai, suaranya masih serak khas bangun tidur, “bantalnya tidak menjalankan tugasnya dengan baik.”
Laya langsung memelototinya. “Ini bukan waktunya bercanda.”
Taram akhirnya menarik tangannya tetapi perlahan. Bahkan terlalu perlahan.
Laya segera menjauh, duduk tegak sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Ini… tidak sengaja,” katanya cepat, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
“Mm,” jawab Taram singkat.
Laya menoleh tajam. “Jangan ‘mm’ saja.”
Taram bangkit setengah duduk, menatapnya. Ada senyum tipis yang jelas tidak bisa ia sembunyikan kali ini. “Kamu yakin tidak sengaja?” tanyanya.
Laya langsung tersedak kecil. “Maksudmu apa?!”
Taram mengangkat bahu ringan. “Aku tidur di sisi yang sama seperti semalam.”
Laya terdiam.
Sekilas, ia mengingat—posisinya memang awalnya membelakangi Taram, dengan jarak yang jelas.
Artinya…
Ia yang bergerak lebih dulu.
Wajahnya langsung memerah.
“Aku pasti… tidak sadar,” gumamnya mengalihkan pandangan.
Taram mengangguk pelan, tapi matanya masih memperhatikannya dengan saksama. “Mungkin.”
Satu kata itu justru terasa seperti godaan.
Laya berdiri cepat dari tempat tidur. “Aku mau keluar.”
“Lari?” tanya Taram ringan.
Laya berhenti sejenak, lalu menoleh. “Menghindari sesuatu yang tidak perlu dibahas.”
Taram tersenyum tipis. “Baik.” namun sebelum Laya benar-benar pergi, Taram berkata lagi, lebih pelan, “kamu tidak perlu terlalu canggung.”
Langkah Laya terhenti. “Aku tidak canggung,” balasnya cepat.
“Kalau begitu,” lanjut Taram santai, “kenapa wajahmu merah?”
Laya langsung menutup pipinya dengan satu tangan. “Itu karena panas.”
“Pagi ini tidak panas.”
Laya mendengus kesal, lalu berjalan keluar tanpa menjawab lagi.
Pintu tertutup dan untuk beberapa detik, kamar itu kembali sunyi.
Taram menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.
Senyum tipis masih tersisa di wajahnya.
Sementara di luar, Laya bersandar di balik pintu, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Jantungnya masih berdebar.
Dan untuk pertama kalinya … bukan karena Jodi Diningrat tetapi karena pengawal pribadi kaku yang ternyata ... pandai menggoda.