Taram menghentikan langkahnya di ambang pintu.
Dari kejauhan, sosok Zelaya tampak begitu tenang—duduk di kursi dekat jendela, diselimuti cahaya pagi yang masuk perlahan. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya menghadap keluar, seolah ada sesuatu di luar sana yang lebih menarik daripada dunia di dalam ruangan ini.
Empat hari.
Sudah empat hari sejak kejadian itu—sejak hari yang seharusnya menjadi awal bahagia untuk Zelaya justru berubah menjadi luka. Mungkin semua orang melihat Zelaya baik-baik saja. Ia tersenyum, berbicara normal, bahkan sempat bercanda ringan dalam beberapa kesempatan. Tapi saat Laya sendiri, Taram tahu jika yang terlihat bukan senyum yang sama.
Tatapan Laya kosong tanpa fokus. Gerak-geriknya sedikit lebih lambat dan yang paling jelas, kelopak mata Laya sembab setiap pagi, meski Laya selalu berusaha menutupi.
Zelaya belum benar-benar pulih. Gadis itu masih dirundung pedih.
Taram mengetuk pintu kemudian melangkah masuk. Begitu saja mendekati Zelaya yang masih mematung. “Ayo sarapan.”
Zelaya sedikit tersentak, baru sadar ada Taram di dekatnya. Ia menoleh, lalu tersenyum kilas. “Sejak kapan kamu di sini?”
“Baru sampai.”
Zelaya mengulum bibir yang sedikit pecah. “Oh, dan ... aku belum lapar. Kamu bisa sarapan duluan.”
Taram mengerutkan kening. Seumur hidup dia belum pernah menghadapi wanita se menyedihkan Zelaya apalagi sampai merawatnya dan kali ini, dia tidak punya pilihan selain memaksa. Ingin membiarkan wanita itu begitu saja tapi malah ada sesuatu yang mengganjal.
“Memang si Jodi itu peduli kalau kamu sakit?” Kalimat pedas meluncur daei bibir tipis Taram. “yang ada kamu merepotkanku lagi sedang si Jodi itu mungkin bersenang-senang dengan wanita lain.”
Taram mengatakannya tanpa ragu. Ia bukan orang yang pandai menghibur jadi tiada yang bisa dia lakukan selain menunjukkan perhatiannya dengan cara kejam—seperti biasa.
“Tapi tidak apa-apa juga kalau tidak mau makan. Biar aku habiskan semuanya dan lain kali aku tidak akan memasak untuk—“
“Ayo ke dapur.” Zelaya begitu saja beranjak. Sampai angin pagi yang masuk dari jendela menggerakkan tirai tipis dan sedikit menerbangkan anak rambutnya yang dibiarkan asal. Membuat Taram yang semula bicara tanpa rem, malah diam seribu bahasa dan Laya lagi-lagi memanggilnya, “Taram ... ayo.”
Pria kaku itu memutar badan.
Menunjukkan gerakan impulsif seolah menghindar dari sesuatu yang tidak seharusnya.
Keduanya duduk di meja.
Sebentar Laya menatap sarapan buatan Taram yang kali ini oatmeal buah dan teh kayu manis.
Laya mengerjap.
Semenjak tinggal dengan Taram, sarapan paginya memang lebih bervariasi dan makanan ini, basic memasak Taram yang juga tidak se dasar itu, seperti mustahil jika disandingkan dengan cerita kehidupan Taram yang serba tragis.
“Tidak usah terkejut begitu. Jaman sekarang mau melakukan apa pun tinggal menonton konten di Youtube.”
Laya mencerna sebentar. Yang Taram katakan memang tidak salah dan sepertinya, dia memang terlalu berlebihan.
Keduanya pun melanjutkan sarapan dalam diam. Tidak seorang pun memulai pembicaraan sampai akhirnya sarapan selesai dan Laya masih di tempatnya.
“Menurut kamu, ada berapa alasan yang bisa membuat orang berubah sejauh itu?”
Taram mendongak. Dia tahu siapa yang dimaksud Laya tanpa perlu menyebut nama. Siapa lagi jika bukan Jodi Diningrat? Pria yang meninggalkan Zelaya tanpa penjelasan layak.
Taram tidak langsung menjawab. Ada rasa enggan sekaligus muak melihat Laya terus-terusan memikirkan pria berengsek itu. Namun, melihat bagaimana menyedihkannya harapan yang sampai di mata, lagi-lagi dia jadi tidak tega.
“Sebanyak apa pun alasannya, pada kenyataannya pria itu sudah meninggalkanmu, Lay. Tidak perlu kamu bertanya kenapa, tidak perlu juga kamu berpikir apa dari dirimu yang salah.”
“Tapi aku masih ingin bertanya, dia menganggap 2 tahun kami bersama sebagai apa? Kenapa se tiba-tiba itu berubah?”
Taram menghela napas. Jangan sampai kesabarannya habis dan dia menyuruh orang untuk menyeret pria itu ke hadapan Zelaya—detik ini juga.
“Orang tidak berubah tiba-tiba apalagi yang berniat kamu nikahi pria berakal sehat. Tidak gila.”
“Jadi dia tidak cinta?”
“Apalagi selainnya?” Taram tidak lagi menahan. Tidak apa-apa wanita itu terluka karena perkataannya yang penting cepat sadar. “mungkin juga kamu hanya dijadikan mainan, simpanan atau yang lainnya. Buktinya?” Taram berdecih pelan. “kamu dibuang seperti sekarang.”
Zelaya terdiam.
Matanya kembali mengarah ke luar jendela, tapi kali ini pandangannya sedikit berbeda. Lebih kosong, atau mungkin juga lebih menerima.
“Berarti aku bodoh ya?” bisiknya dan Taram langsung menggeleng tanpa ragu.
“Tidak bodoh juga, hanya salah pilih.”
Zelaya menghela napas. Kata-kata si kaku itu memang tajam dan pedas tapi karena itulah pikirannya yang tertutup kalut mulai terbuka. Setidaknya, Taram membuatnya sadar jika si berengsek Jodi itu tidak perlu ia tangisi sampai nyaris sekarat.
“Intinya ... jika kamu terus-terusan menangisi pria rendah itu, barulah aku akan menyebutmu bodoh, Lay.”
Kalimat itu masih terdengar kaku seperti biasa tetapi untuk pertama kalinya mata Zelaya sedikit berkaca bukan karena luka, tapi karena ... didengar.
“Terima kasih.” Laya tersenyum kecil. Senyum yang terlihat tulus, lega sekaligus menunjukkan jika wanita itu tidak terpuruk lagi.
Taram mengalihkan pandangan, sedikit tidak nyaman dengan suasana yang terlalu emosional. Dia tidak biasa—tidak pernah berada di situasi ini sebelumnya.
**
Malam turun perlahan, menyelimuti ruangan kecil dengan suasana yang lebih sunyi dari biasanya.
Di ruang tengah, Laya duduk diam di sofa. Tidak ada ponsel di tangan, tidak ada buku, tidak juga televisi yang menyala. Hanya dirinya dan pikirannya yang entah ke mana berkelana.
Tatapannya memang tidak sekosong sebelumnya. Namun tak bisa dipungkiri jika begitu banyak hal yang berkecamuk di otaknya kali ini. Bukan lagi Jodi karena pria itu mulai tersisih, tapi bagaimana kehidupannya setelah ini.
Denting sendok beradu cangkir berhenti. Taram berdiri sebentar, menatap dua cangkir espresso yang baru saja ia buat. Aroma pahitnya memenuhi ruangan, cukup kuat untuk membangunkan siapa pun, kecuali Zelaya yang lagi-lagi tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Taram membawa kedua cangkir itu ke ruang tengah, langkahnya tenang seperti biasa. Tanpa banyak bicara, Taram meletakkan salah satu cangkir di meja dekat Laya, lalu duduk di kursi seberangnya. “Minum,” ucapnya singkat.
Laya tidak langsung merespons. Hanya menoleh sebentar kemudian melihat ke arah jemarinya yang saling menggenggam.
Taram menghela napas pelan. “Kalau tidak mau minum—“
“Kamu tidak sabaran sekali ya?” Laya melihat Taram lagi. “padahal espresso nya juga masih panas.”
Hening lagi dan suasana sepi seperti ini malah tidak Taram sukai saat bersama Laya. Tanpa peringatan, ia meraih remote dan menyalakan televisi.
Laya berkedip. “Mau ngapain?”
“Nonton. Memangnya mau apa lagi?” Taram menjawab seadanya.
“Film apa?”
Taram menelusuri daftar dengan cepat dan tanpa terlihat ragu. “Horor.”
Laya langsung tersentak. “Serius horor?”
Taram menoleh sekilas. “Daripada kamu stres nonton film romantis.”
Ucapan itu memang menghina sekali hingga Laya mendengus. “Siapa yang nangis? Aku tidak—“
“Kelopak mata kamu beda cerita,” balas Taram santai. “apa perlu aku ambilkan kaca?”
Laya memutar mata, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Kamu memang menyebalkan.”
“Aku realistis.”
Kali ini Laya tertawa pelan. Lagi-lagi tidak menyangka, jika pengawal kaku inilah yang akan menemaninya di saat paling menyedihkan. Dia jadi berpikir, bagaimana jadinya jika bukan Taram yang ada di sampingnya saat ini? Mungkin dia tidak hanya menangis tapi sudah mencari Jodi sampai seperti pengemis.
“Nah,” seruan Taram akhirnya terdengar saat pilihan jatuh pada sebuah film horor yang cukup terkenal. Lampu diredupkan, hanya menyisakan cahaya dari layar televisi.
Beberapa menit pertama masih tenang.
Sampai tiba-tiba, suara keras dari adegan jumpscare memenuhi ruangan.
“ASTAGA!” Laya refleks menjerit kecil dengan tubuh sedikit melonjak. Tanpa sadar tangannya meraih lengan Taram. Menggenggam dengan erat, bahkan sedikit mengerut—menempeli lengan Taram selayaknya anak koala.
Taram menoleh. Cukup terkejut dengan posisi Laya yang masih memeluk lengannya dan ia pun kembali ke layar dengan ekspresi datar.
“Kenapa pilih film seperti itu?” tanya Laya kesal sedikit kikuk.
“Kamu setuju.”
“Aku tidak tahu filmnya akan seseram ini.”
Taram mengulum senyum. “Namanya juga film horor.”
Beberapa detik hening dan Laya masih belum melepaskan tangannya. Wanita itu bahkan sesekali menelungkupkan wajahnya ke tempat yang sama. “Kalau takut bilang. Biar aku ganti—“
Laya langsung menarik tangannya. Duduk tegak sembari menegak bahu. “Siapa yang takut? Aku Cuma tidak siap melihat bagian seramnya.”
Taram hampir tersenyum tapi ditahannya dan film pun terus berjalan.
Perlahan, suasana hening dia sana mulai berubah. Dari yang awalnya berat dan penuh pikiran, kini tergantikan dengan teriakan kecil, keluhan, dan sesekali protes dari Laya setiap ada adegan menyeramkan dan untuk pertama kalinya, Laya tidak terlihat tenggelam dalam pikirannya.
Taram melirik sekilas.
Mungkin ini cara paling sederhana untuk membuat Laya lupa meski hanya sebentar.