Bab 8 - Ancaman Terbuka

1621 Words
Langit sore menggantung tenang ketika Laya melangkah masuk ke supermarket bersama Taram. Pintu kaca otomatis terbuka, menyambut mereka dengan hawa dingin dan aroma roti segar. Bagi Laya ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa tidak sendirian. Apalagi setelah beberapa hari mengurung diri di kamar. Sekilas Laya melirik ke arah Taram yang berjalan santai di sampingnya. Tangan dimasukkan ke saku, wajah datar dan ketus, penampilan santai seperti biasa dan entah kenapa, malah membuatnya tenang. Beberapa gadis di dalam supermarket mulai berbisik pelan. Tatapan mereka tertuju pada Taram—terang-terangan mengagumi. Laya menghela napas pelan, lalu hanya menggelengkan kepala kecil. “Padahal terlihat biasa …,” gumamnya meski dalam hati ia tahu, keberadaan Taram di sana memang mencolok. Dia tidak akan mungkir jika pria kaku itu memang memiliki wajah tampan yang cukup ... membuat kagum. Mungkin seperti itu. “Berani enggak lo?” “Lo aja!” Lorong makanan ringan itu mendadak terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa remaja perempuan—masih berseragam sekolah—berkumpul tidak jauh dari Taram. Bisik-bisik mereka makin lama makin jelas, diselingi tawa kecil yang ditahan. “Udah sana maju!” “Malu ... tapi ya ampun emang ganteng banget.” Akhirnya, salah satu dari mereka memberanikan diri melangkah maju. “Kak…” panggilnya pelan, tapi cukup jelas. Membuat Taram menoleh singkat. Tatapannya datar, masih tanpa ekspresi seperti biasa. Remaja itu langsung salah tingkah, tapi tetap tersenyum percaya diri. “Boleh minta nomor HP enggak?” Teman-temannya di belakang langsung heboh kecil. Tak terkecuali Laya yang memilih camilan sembari menghela napas panjang. Melihat situasi yang membuat Taram seperti terancam itu, dia pun dengan santai melangkah mendekat. “Jangan digoda,” katanya ringan. Para remaja itu menoleh serempak. Lagi-lagi membuat Laya tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada polos tapi menusuk, “Om-om tua, sudah punya istri.” Hening. Satu detik. Dua detik. Lalu— “Hah?!” Wajah para remaja itu langsung berubah. Ada yang kaget, ada yang menahan tawa, ada juga yang langsung mundur malu. Taram menatap Laya. Lama. Tatapan yang seperti biasa sulit diartikan. “Om-om?” ulangnya pelan. Laya mengangkat bahu santai. “Fakta.” Para remaja itu akhirnya bubar sambil cekikikan, beberapa masih melirik Taram dengan rasa penasaran yang belum hilang. Memastikan benarkah pria yang mereka goda tadi adalah pria tua dan sudah beristri. Setelah suasana kembali tenang, Taram mendekat sedikit. “Aku kelihatan tua?” tanyanya datar. Laya mengambil sebungkus snack, lalu menjawab tanpa menoleh, “Kelihatan dewasa.” “Beda.” “Tipis.” Taram menghela napas pelan, tapi kali ini ada sedikit perubahan di sudut bibirnya—hampir seperti senyum. Mereka berjalan berdampingan lagi, mendorong troli yang mulai terisi. Beberapa saat hening, lalu Laya bersuara lebih santai dari sebelumnya. “Nanti malam kita makan apa?” Taram melirik isi troli. “Tergantung.” “Jawabannya begitu terus.” “Memangnya kamu yang mau masak?” Laya langsung berhenti berjalan. “Aku?” “Ya.” Ia memicingkan mata. “Kamu mau hidup lama atau tidak?” Taram menatapnya tanpa berkedip. “Masih mempertimbangkan.” Laya tertawa kecil—ringan, tanpa beban dan suara itu membuat langkah Taram melambat sepersekian detik. “Kalau aku masak,” lanjut Laya, “kita siap in mie instan aja. Itu paling aman.” “Masih berisiko,” balas Taram tenang. “Ya sudah, kamu saja yang masak.” “Tergantung.” Laya mendengus. “Kamu lagi-lagi ‘tergantung’.” “Tergantung kamu mau makan apa.” Kali ini Laya terdiam sejenak. Lalu dengan suara lebih pelan, ia berkata, “Terserah mau masak apa yang penting jangan udang saja karena aku alergi.” “Oke, noted.” Langkah mereka kembali seirama dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa lebih hangat dari apa pun di dalam supermarket yang dingin itu. Saat mereka berbelok ke lorong minuman, tiba-tiba suara familier memanggil. “Laya?!” Laya menoleh. Matanya bertemu dengan Ratih yang berdiri tak jauh dari sana, membawa keranjang belanja. Ratih mendekat cepat, tapi langkahnya melambat saat matanya jatuh pada Taram. Untuk sesaat, ia seperti kehilangan kata-kata. “Ini… siapa?” bisiknya, hampir tidak percaya. Laya sedikit canggung. “Teman.” Ratih mengangkat alis, lalu menyeringai nakal. “Teman? Serius?” Ia mengitari Taram dengan pandangan menilai, lalu berdecak kagum. “ini pengawal yang menikahi kamu, Laya?!” Ratih hampir berjingkat dan Laya sigap menutup mulutnya. “Jangan keras-keras.” Ratih mengangguk pertanda setuju. Tapi pada dasarnya wanita itu tidak mau diam kalau sudah menargetkan sesuatu, “tapi serius Laya, kalau pengawalmu ini dipoles sedikit saja ...,” katanya sambil melipat tangan, “ini mah sudah seperti tuan muda kaya raya.” Taram hampir tersedak sedang Laya memutar mata. Apalagi saat Ratih mendekat kemudian berbisik pelan di telinga Laya, “Serius tidak rugi ditinggal Jodi, kamu dapatnya yang upgrade begini.” Ratih melanjutkan. “soal status mah lewat yang penting suami tampan. Nanti anak-anakmu bakal nurunin gen bapaknya yang mantap ini, Laya.” Laya menarik Ratih menjauh. Sungguh bisa jatuh harga dirinya di depan Taram jika temannya yang satu itu dibiarkan. “Nanti aku menyusul.” Begitu kata Laya dan Taram yang sejak tadi diam, hanya menatap punggung itu menjauh. Ekspresi gadis itu benar-benar lucu dan rasanya, dia tidak mau meninggalkan status ini. Tidak mau kembali menjadi Laksamana Mataram yang hanya menghadapi berbagai tekanan tanpa bisa menghirup udara bebas. Di tempat berbeda. Ruangan itu sunyi, namun dipenuhi aura dingin yang menekan. Sekar berdiri di dekat jendela besar, memandang keluar dengan tatapan tajam. Cahaya lampu memantul di matanya yang menyimpan kemarahan. “Apa Laya datang?” tanyanya dingin. Salah satu pengawal menunduk. “Belum, Nyonya.” Sekar menghela napas panjang. Pikirnya Laya tidak akan bertahan lebih dari 2 hari tapi ini sudah 1 minggu dan belum ada tanda-tanda gadis itu menyerah kalah. “Lalu Taram? Apa dia sudah pergi?” Pengawal lain ragu sejenak sebelum menjawab, “Taram masih tinggal di apartemen Nona Laya, Nyonya dan mereka … terlihat bersama.” “Bersama?” ulang Sekar, suaranya menajam. “Mereka berbelanja di supermarket. Terlihat … akrab. Seperti pasangan.” Hening. Beberapa detik terasa jauh lebih lama, terlebih saat tatapan dingin tadi telah berubah pukulan di meja. “Bagaimana mereka bisa akrab?” ulang Sekar pelan, hampir seperti berbisik. Tangannya bahkan masih mengepal seolah ingin menghancurkan. “Berani sekali pengawal rendahan itu.” Sekar melangkah perlahan, sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang menegangkan. “Kalau dia lupa tempatnya,” lanjut Sekar, “kita ingatkan.” Para pengawal langsung menegakkan badan. “Hajar dia!” Sekar berhenti, lalu menoleh dengan senyum tipis—senyum yang sama sekali tidak membawa kehangatan layaknya seorang ibu. “Tapi jangan sampai mati. Cukup … supaya dia tahu batasnya.” Ruangan kembali sunyi. Namun sunyi kali ini malah pertanda badai akan mencair. ** Malam turun perlahan, membungkus rumah dalam keheningan yang hangat. Di dapur, Laya berdiri di depan kompor dengan ekspresi serius—terlalu serius untuk sesuatu yang hanya … mie instan. “Ini gampang,” gumamnya, seolah meyakinkan diri sendiri. Sementara itu, Taram bersandar di dekat meja makan, memperhatikan tanpa komentar. “Airnya sudah?” tanya Taram datar. “Sudah!” jawab Laya cepat. Perkara memasak mie instan apa yang dia tidak bisa? Salahnya, sejak kecil Sekar tidak memperbolehkannya menyentuh dapur karena itu dia jadi minus soal urusan memasak. Taram melirik panci. Airnya bahkan belum mendidih dan Laya sudah mau menceburkan mie. “Belum saatnya,” ucapnya tetapi Laya malah menoleh lalu cemberut. “Kamu cuma ganggu konsentrasi tahu.” “Aku cuma menyelamatkan kita dari keracunan.” “Lebay.” Beberapa menit kemudian, akhirnya mie masuk ke panci. Laya terlihat sedikit lebih percaya diri. “Lihat, aku bisa,” katanya bangga. Taram hanya mengangguk kecil, tapi tetap tidak pergi jauh—seperti sudah mengantisipasi sesuatu dan benar saja. “Aduh!” Laya hampir menjatuhkan bumbu karena bungkusnya terlalu keras disobek dan Taram bergerak cepat, menangkap sachet yang nyaris jatuh. Hening sejenak. Jarak mereka mendadak terlalu dekat. Laya berkedip, sedikit salah tingkah. “Refleks bagus.” “Kebiasaan,” jawab Taram singkat, tapi ia tidak langsung menjauh. Bahkan beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya. Lalu— “Eh! Airnya!” Mie hampir meluap. Laya panik, langsung mematikan kompor dengan gerakan tergesa. Sedikit air tumpah ke meja dan Taram tidak dapat menahan tawa. “Kamu bilang ini gampang.” “Ini karena kamu lihatin! Makanya aku jadi tidak profesional!” protes Laya dan akhirnya setelah perjuangan yang cukup dramatis, dua mangkuk mie instan tersaji di meja. Mereka duduk berhadapan. Laya meniup mie pelan, lalu tersenyum kecil. “Lumayan kan?” Taram mencicipi. Diam. Satu detik. Dua detik. “Masih hidup?” tanya Laya waswas. Taram menelan perlahan. “Untuk sekarang.” Laya langsung mengambil sumpit dan mencoba sendiri. Lalu ... wajahnya berubah. “KEASINAN!” Taram akhirnya tertawa kecil. Benar-benar tertawa kali ini, bukan sekadar senyum tipis. Dan Laya menatapnya, setengah kesal, setengah tidak percaya. “Kamu ketawa?” “Sedikit.” “Jahat.” “Tapi jujur.” Laya mendengus, tapi akhirnya ikut tertawa. Suasana yang tadinya kacau berubah hangat. Sederhana. Nyaman. Seperti rumah. Namun ... tiba-tiba, Tet! “Siapa yang datang malam-malam?” Laya hendak beranjak tetapi Taram tahan. “Biar aku saja.” Taram mendekati pintu, tanpa ragu membukanya walau dia melihat ada orang asing di luar sana. “Ada keperluan apa?” tanya Taram waspada. Laya yang penasaran pun sedikit melihat dan sungguh tak menyangka, beberapa pria berwajah kasar tiba-tiba masuk ke ruangan. “Kami datang untuk memberimu peringatan!” BUGH! “Taram ...!” Pukulan pertama melayang seiring teriakan Laya. Kursi jatuh. Mangkuk mie terlempar. Kuah tumpah ke lantai. Kehangatan yang tadi terasa … hancur dalam sekejap. Taram terhuyung sedikit, tapi tidak jatuh. Ia mengangkat wajahnya perlahan dan tatapannya kini berubah sepenuhnya. Bukan lagi dingin—tapi berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD