Mangkuk yang pecah masih bergetar di lantai saat Taram perlahan menegakkan tubuhnya. Darah tipis terlihat di sudut bibirnya. Namun anehnya… ekspresinya justru tenang. Terlalu tenang sampai pria yang memukulnya tadi menyeringai.
“Rupanya tahan pukul--?” Belum sempat pria melanjutkan dan—
Bugh!
Tinju Taram melesat cepat. Terlalu cepat sampai pria itu bahkan tidak sempat bereaksi sebelum tubuhnya terpental ke samping, menabrak meja dengan suara keras.
Hening.
Beberapa detik yang lalu mereka yang datang dengan percaya diri, tentu sekarang mulai ragu.
Tak jauh dari mereka, ada Laya yang juga terpaku di tempatnya. Gagang sapu yang sempat diambilnya untuk membantu Taram pun tergeletak begitu saja. Sungguh tak menyangka, bahwa Taram bisa melayangkan pukulan tak biasa.
Ya, dia tahu Taram bisa berkelahi karena pengawal di rumahnya bukanlah orang sembarangan yang tidak memiliki basic dasar memukuli orang. Tapi yang dihadapi Taram sekarang juga sama berbahayanya, tentu dia khawatir walau sekarang kekhawatirannya sudah dipatahkan.
“Sialan! Hajar dia!” instruksi salah satunya membuat suasana makin menegangkan. Terlebih saat dua orang maju bersamaan.
Yang pertama mengayunkan pukulan lurus dan Taram hanya memiringkan kepala sedikit hingga pukulan itu meleset. Dalam satu gerakan halus, Taram menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dan,
KRAK!
Jeritan langsung pecah namun belum selesai. Taram menariknya mendekat dan menghantamkan siku ke perutnya membuat pria itu langsung ambruk, terengah tanpa suara.
Yang kedua mencoba menyerang dari belakang.
“Di belakang!” teriak Laya panik. Namun, Taram sudah bergerak lebih dulu.
Ia berputar, menahan serangan itu dengan satu tangan, lalu membalas dengan tendangan rendah ke lutut.
DUK!
Kaki pria itu langsung goyah dan Taram tidak memberi waktu. Satu pukulan lagi—tepat di rahang. Tubuh pria itu pun jatuh tak bergerak.
“Laya!” sarkas Taram sembari melirik ke arah Laya yang mengerjap dengan raut wajah pucat. Tentulah wanita itu syok melihat semua tindak kekerasan yang terjadi di depan mata. “Jangan lihat!”
Begitu yang Taram katakan hingga beberapa menit kemudian ruangan sudah berubah kacau.
Kursi terbalik, meja kayu patah, rak sepatu hancur tak terbentuk dan hiasan di dinding sudah berserakan di lantai. Namun, di tengah suasana kacau itu, Taram masih berdiri.
Napas pria itu tetap teratur. Seolah kejadian ini … bukan pertama kalinya.
Dua orang yang tergeletak di lantai sembari memegang dadanya pun saling pandang. “Siapa kamu sebenarnya?”
Taram mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya tajam terkesan meremehkan. “Sampaikan salamku pada orang yang mengirim kalian,” katanya sembari mengambil langkah pelan yang membuat mereka beringsut ketakutan. “jika ingin mengancam, pilih yang paling kuat. Kalau bisa datang sendiri, jangan bersembunyi di ketiak orang lain.”
Salah satu dari mereka langsung menarik temannya. “Ayo pergi.”
Mereka lari terbirit-b***t. Tak lupa membawa pergi teman-temannya yang sudah Taram buat terkapar. Menyisakan ruangan yang teramat berantakan dan sepenuhnya terisi angin malam.
Hening.
Hanya suara napas dan detak jantung yang tersisa sebelum Laya akhirnya bergerak.
Ia mendekat perlahan dan matanya masih penuh keterkejutan.
“Kamu…,” suaranya gemetar sedikit, “kamu sebenarnya siapa?”
Taram tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengusap darah di bibirnya dengan ibu jari, lalu melirik ke arah Laya. Tatapannya … sedikit berbeda sekarang. Lebih lembut dan lemah.
“Aku?” katanya pelan. “Kamu lupa aku bekerja sebagai pengawal? Tentu aku bisa memukuli orang.”
Laya menatapnya lama.
Jelas itu bukan jawaban yang sebenarnya. Namun, entah kenapa Ia tidak mundur. Tidak juga takut. Sebaliknya, ia justru melangkah lebih dekat, lalu tanpa banyak bicara mengambil tisu dan menyeka darah di sudut bibir Taram.
Gerakannya pelan. Begitu hati-hati karena tidak mau melukai.
“Kamu memang berbeda,” gumam Laya masih dengan pandangan lekat dan Taram tidak menolak. Tidak juga bergerak. Taram hanya diam … membiarkan Laya memberinya perhatian.
2 jam kemudian
Kekacauan tadi sudah mereka bereskan dan saat ini Taram tengah berdiri di depan pintu kamar. “Laya? Kamu sudah tidur?” Suara Taram terdengar dari luar, datar seperti biasa.
“Belum. Masuk saja.”
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Taram yang tampak ragu. Sebenarnya bukan perkara Zelaya sudah tidur atau belum karena dia pun tidur di kamar itu tetapi, khawatir saja wanita itu sedang melakukan sesuatu—ganti baju misalnya.
“Kenapa masih di situ?” asing yang sebelumnya menjadi sekat, rasanya sudah sepenuhnya sirna begitu melihat Taram membawa nampan berisi roti panggang dan dua gelas berisi minuman. Pria itu begitu saja melantai dan Laya segera bergabung.
“Kamu belum makan malam,” ucap pria itu menunjuk roti di atas nampan dengan dagu.
Namun Nafsu makan Laya yang sepenuhnya hilang, pun membuatnya diam menimbang. Pikirannya terlalu penuh. Ada rasa bersalah yang lagi-lagi menyelusup.
“Maaf.” Dan akhirnya kata itu terlontar. Begitu pelan, nyaris seperti bisikan. Laya menggenggam tangannya yang terasa dingin namun berkeringat. “sungguh aku minta maaf—“
“Untuk apa?” Taram tidak langsung bereaksi. “untuk kekacauan tadi?”
Laya mengangkat wajahnya. Matanya terlihat berbeda—lebih berat. “Orang-orang tadi, aku yakin suruhan Ibu.”
Hening.
Udara terasa sedikit lebih dingin. Laya mendesah lagi, “Aku tidak menyangka Ibu akan melakukan hal ini dan ini sudah kelewatan, Taram.”
Taram menatapnya sebentar. Sebuah tatapan yang sulit dibaca. “Aku sudah menduga,” jawabnya tenang tetapi membuat Laya makin merasa bersalah.
“Ini salahku,” Laya menunduk. “karena aku, lagi-lagi kamu menjadi korban.”
Taram tidak menjawab. Namun tidak juga menyangkal. Yang gadis itu katakan semuanya benar.
“Aku sudah memikirkan, aku akan mencarikan kamu pekerjaan. Kalau bisa di luar kota, kamu tenang saja. Aku punya beberapa kenalan dan aku janji, akan mendapatkannya secepat mungkin.” Nada bicara Laya teramat tegas dan meyakinkan. “kamu juga tidak perlu khawatir. Amplop kemarin masih aku simpan. Itu memang hak kamu. Kamu bisa pergi dengan tenang dari kota ini.”
Pergi?
Kalimat itu menggantung di udara. Padahal cuma satu kata tapi entah kenapa terasa berat untuk diucap.
“Sudah cukup kamu menjadi korban. Aku tidak mau kamu terus-terusan menanggung beban.”
Laya menatap Taram lagi.
Tidak ada paksaan. Tidak ada basa-basi. Keinginannya hanya untuk melindungi.
Hening kembali datang.
Taram menatap roti di depannya, lalu ke arah Laya dia justru berkata, “Aku belum bilang mau pergi.”
Laya mengerjap. Sama sekali tidak mengerti dengan isi otak Taram saat ini. “Kamu hampir celaka, Taram—“
“Dan solusinya … kamu menyuruhku pergi?” Nada suaranya tetap datar. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kalimat biasa.
Laya menggigit bibirnya pelan. “Aku cuma—”
“Melindungiku?” potong Taram dan Laya tidak menjawab karena itu memang benar.
Taram menghela napas pelan. Lalu tanpa banyak kata ia mendorong piring roti sedikit lebih dekat ke arah Laya. “Makan dulu.”
Laya menatap roti itu lalu perlahan mengambilnya.
Gigitan kecil, hambar. Tapi entah kenapa … sedikit menghangatkan.
Taram menyodorkan gelas susunya. “Kalau aku pergi, bagaimana dengan kamu?”
Laya tersenyum lepas. Namun malah terlihat seperti senyum tertekan. Ia menjadi tidak siap jika berpisah dengan pria itu sekarang. Agak gila memang, tapi berada di dekat Taram dia merasa dijaga. “Tentu saja aku akan kembali ke rumah. Melanjutkan hidupku sebagai Nona muda dan kembali bekerja di perusahaan.”
Taram seperti tidak senang. Rasa ingin mengatakan kalimat yang tiba-tiba terbersit di otaknya tetapi pada akhirnya dia memilih diam.
**
Pintu ruangan itu terbuka kasar.
Dua pria masuk dengan langkah tertatih, wajah mereka lebam, bibir pecah, dan pakaian yang tak lagi rapi. Salah satu dari mereka bahkan harus menahan bahunya sendiri, menahan nyeri yang jelas belum mereda setelah perkelahian tadi.
Sekar yang sedang duduk santai di kursinya langsung mengangkat alis. “Kenapa muka kalian jadi karya seni gagal begini?” sindirnya tajam.
Salah satu anak buahnya menunduk, napasnya masih berat. “Maaf, Nyonya, kami sudah coba tapi Taram—”
“Kenapa dengan Taram?” potong Sekar, nada suaranya mulai berubah dingin.
“Dia tidak tersentuh,” lanjut pria itu menelan ludah. “Gerakannya cepat, tertata dan langsung melumpuhkan lawan.”
Sekar terdiam sesaat.
Lalu tanpa peringatan, ia menyapu gelas di mejanya hingga jatuh dan pecah di lantai.
PRANG!
Raut wajah itu begitu murka. “Tidak bisa disentuh?” ulangnya pelan tapi penuh tekanan.
Anak buahnya menunduk lebih dalam. “Dia terlalu mahir berkelahi, Nyonya. Kami kalah sebelum benar-benar memulai.”
Sekar menghela napas panjang. Mencoba menahan amarah yang hampir meluap. Matanya menyipit, pikirannya berputar cepat.
Baik.
Kalau tidak bisa melumpuhkan mereka lewat kekuatan … berarti harus lewat cara lain.
Perlahan, sudut bibir merahnya terangkat tipis. Muncul sebuah senyuman yang justru terasa lebih berbahaya daripada amarahnya tadi.
Sekar mengangkat tangan dan dua pria babak belur itu pun meninggalkan ruangan. Meninggalkan Sekar dengan kesunyian yang mencekam.
“Kalau pengawal rendahan itu tidak bisa disentuh,” kali ini Sekar bangkit dari kursi. Berjalan perlahan mendekati jendela dan tangan yang kerap kali menampar Laya itu bergerak menyentuh tirai. Menariknya sedikit, membiarkan cahaya malam masuk ke dalam ruangan.
“Maka Laya yang harus diberi hukuman.”
Sekar berbalik. Berjalan keluar dari ruangan kemudian memanggil salah seorang pengawal yang berdiri di sudut ruangan.
“Kamu.”
“Siap, Nyonya.”
“Besok pagi,” Sekar menelisik. Memastikan kalimat perintahnya terdengar jelas dan terukur, “bagaimana pun caranya, pastikan Laya tahu kalau Jodi Diningrat pulang.”
“Baik, Nyonya.”
Sekar kembali berjalan. Tapi kali ini tidak ke ruangan tadi melainkan menuju kamar utama. Ponsel di nakas pun langsung Sekar sambar untuk menghubungi seseorang.
[Kamu harus pulang, Lila. Ada tugas yang harus kamu kerjakan]
Pesan terkirim dan Sekar tersenyum amat lebar.
“Permainan kali ini pasti sangat menyenangkan.”