Delima masih merenung tentang masa depannya di sini, bersama Nando. Rasa cemas dan keraguan sering kali menghantui hatinya. Namun entah kenapa, ia justru merasa semakin terikat pada lelaki itu. Mungkin karena perasaan aman yang Nando berikan, atau karena ia mulai melihat sisi lain dari lelaki itu—sisi yang lembut dan manusiawi di balik tatapan dinginnya. Delima duduk di ruang tamu, menatap hujan deras di luar. Nando belum juga pulang sejak Elang datang dan memanggilnya tadi malam. Kekhawatiran terus saja menghantui. Nando belum benar-benar pulih, bahkan semalam pun ia masih meracau. Karena itu, Delima memilih tidur di sofa kamarnya, hanya untuk berjaga-jaga kalau lelaki itu kambuh. “Semoga dia baik-baik aja,” gumam Delima pelan. Ia hendak kembali ke kamar saat pintu depan tiba-tiba te

