Di kamar rumah sakit yang sunyi, hanya suara monitor detak jantung yang terdengar pelan. Nando terbaring di ranjang dengan tubuh penuh perban. Wajahnya tampak tenang, seolah sedang tertidur lelap. Delima tahu, itu bukan tidur biasa. Luka tusukan di perut Nando membuat lelaki itu harus menjalani operasi besar. Dan sampai sekarang, dia belum juga sadar. Delima duduk di kursi di sisi ranjang, menggenggam tangan Nando yang dingin. Air matanya jatuh tanpa henti ke kulit tangan suaminya. “Kenapa kamu selalu harus nanggung semuanya sendiri, Nando?” bisiknya pelan. Ia mengusap wajah Nando dengan tangan gemetar, berharap lelaki itu akan segera membuka mata. “Nando… kamu harus bangun,” lanjutnya, suaranya parau karena tangis. “Aku nggak tahu harus gimana kalau kamu nggak ada.” Tiba-tiba suara

