"Delima, sekarang kamu adalah istriku. Jadi, apakah kamu siap bermalam pertama denganku?"
Refleks, Delima menggeleng. Reaksinya itu langsung disambut dengan tawa keras dari Nando. Suara tawanya menggema dan membuat seluruh orang di ruangan itu menegang.
Ibunya Delima spontan menggenggam jemari Pak Irwan, mencoba menenangkan ketakutan yang mengendap di hatinya. Elang hanya bisa memalingkan wajah, rasa ngeri menjalar di tubuhnya tanpa bisa dicegah.
"Aku capek setelah membunuh orang. Makanya aku mau cepat pulang."
***
Rumah Nando tampak besar, tapi suram. Dikelilingi pagar besi tinggi dengan kamera pengawas terpasang di setiap sudut. Bangunan itu lebih mirip markas rahasia ketimbang tempat tinggal.
Delima berdiri di ruang tamu yang temaram, aroma asap rokok menyesakkan udara. Beberapa pria bertubuh besar duduk di sofa usang, menatapnya penuh selidik.
"Bos, istrimu ini cakep juga ya," celetuk salah satu dari mereka sambil melirik Delima dari kepala hingga kaki, dengan nada menggoda.
"Diam, Dani!"
Tiba-tiba suara Nando terdengar tajam dari arah pintu. Dia masuk dengan langkah berat, tatapannya langsung menembus Dani.
"Kalau aku dengar kamu ngomong kayak gitu lagi, kamu tahu sendiri akibatnya."
Dani langsung menunduk, wajahnya pucat pasi. "Maaf, Bos. Cuma bercanda."
"Keluar semuanya. Aku mau bicara sama istriku," perintah Nando tanpa basa-basi.
Satu per satu anak buahnya pergi, walau beberapa masih sempat melirik Delima dengan rasa penasaran. Gadis itu memeluk dirinya sendiri, merasa begitu kecil di tengah ruangan yang sunyi dan mencekam.
Begitu ruangan kosong, Nando menghela napas panjang lalu berjalan ke arah dapur tanpa berkata sepatah kata pun. Delima masih terpaku, bingung harus apa, hingga akhirnya memberanikan diri untuk mengikutinya.
"Nando," panggilnya ragu. Suaranya nyaris tak terdengar.
Nando menghentikan langkah. Tangannya masih memegang gelas berisi air. Dia menoleh perlahan, menatap Delima dengan ekspresi datar.
"Apa?"
"Aku... harus tinggal di sini sama mereka?" tanya Delima dengan suara bergetar.
"Iya. Emang kamu mau tinggal di mana? Di jalanan?" jawab Nando dingin.
"Tapi aku gak nyaman. Mereka semua menakutkan. Dan kamu—"
Delima berhenti, bingung harus melanjutkan atau tidak. Nando meletakkan gelasnya di meja, menatap Delima lebih dalam.
"Dengar. Aku tau tempat ini bukan yang ideal buat kamu. Tapi kamu gak punya pilihan lain. Kamu udah dijual. Dan sekarang kamu milikku."
Delima tersentak, hatinya terasa diremas.
"Milikmu? Aku bukan barang, Nando!"
Nando tertawa pelan. Namun, tak ada sedikit pun tawa itu terdengar lucu.
"Kamu pikir aku gak tau? Kamu juga gak mau di sini, kan? Tapi hidup gak selalu ngasih yang kita mau, Delima. Sekarang kamu udah di sini. Jadi, belajarlah bertahan."
Delima menggigit bibir, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
"Aku gak mau hidup seperti ini. Aku gak mau jadi tahanan di rumahmu."
Nando berjalan mendekat. Langkahnya membuat Delima mundur hingga punggungnya membentur dinding.
"Tahanan?"
Nando mendekatkan wajahnya. Cukup dekat sampai Delima bisa mencium bau tembakau dan mint dari napasnya.
"Kalau aku mau, aku bisa ngurung kamu di kamar. Kasih makan seadanya, dan gak peduli kamu hidup atau mati. Tapi nyatanya aku gak ngelakuin itu, kan?"
Delima terdiam, tubuhnya bergetar.
"Kenapa kamu gak ngelakuin itu?" tanyanya pelan.
"Karena aku bukan monster," jawab Nando singkat, lalu berbalik pergi. Meninggalkan Delima sendiri dengan benak yang makin kacau.
Malam itu, Delima duduk di atas ranjang kecil di kamar yang diberikan untuknya. Meski bersih, kamar itu tak sedikit pun memberi rasa nyaman.
Dari lantai bawah terdengar suara gaduh. Tawa kasar, percakapan keras, dan denting botol-botol yang beradu. Seperti ada pesta... dengan minuman keras sebagai pelengkapnya.
Delima melirik jendela kecil di sudut kamar. Satu-satunya jalan keluar yang mungkin. Namun, saat dia coba membuka, jendela itu terkunci rapat. Suara deritnya pun menambah rasa takut.
"Pikir, Delima," bisiknya pada diri sendiri.
"Kamu gak bisa terus tinggal di sini. Kamu harus cari cara untuk keluar."
Delima belum sempat menemukan jalan, ketika suara ketukan keras membuatnya terlonjak. Sebelum dia sempat menjawab, pintu terbuka dan seorang wanita masuk begitu saja.
Penampilannya mencolok. Baju ketat, riasan tebal, dan senyuman sinis yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Jadi, kamu istri barunya Nando?" Suaranya penuh nada mengejek.
Delima mengernyit. "Siapa kamu?"
"Aku Nina. Salah satu orang yang paling dipercaya Nando," jawab wanita itu sambil menatap Delima dari ujung kepala sampai kaki.
"Kamu kelihatan terlalu lemah untuk bertahan di sini. Yakin kamu bisa hidup sama lelaki kayak dia?"
Delima tak menjawab, tapi dalam dadanya ada bara yang mulai menyala.
"Aku cuma mau kasih peringatan," lanjut Nina sambil menyeringai.
"Jangan pernah berharap Nando bakal baik sama kamu. Dia gak pernah peduli sama perempuan, apalagi yang dibeli kayak kamu."
Delima tak tahan lagi. "Keluar dari kamarku!" ucapnya tegas.
Nina mengangkat alis, tampak terkejut lalu tertawa kecil.
"Kamu lebih berani dari yang kukira. Tapi kita lihat seberapa lama itu bertahan."
Nina pun melenggang keluar, meninggalkan Delima dengan napas berat dan tangan mengepal.
***
Hari-hari berikutnya tak jauh lebih baik. Delima hanya diizinkan keluar kamar saat makan. Dan tiap kali itu terjadi, dia harus melewati tatapan penuh curiga dari para anak buah Nando.
Suatu hari, saat Delima sedang mencuci piring di dapur, suara langkah berat terdengar mendekat. Nando muncul, seperti biasa dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kamu mulai terbiasa tinggal di sini?" tanyanya.
"Kalau itu cuma basa-basi, aku gak perlu jawab," balas Delima ketus.
Nando menaikkan alis, seperti sedikit terhibur.
"Kamu punya nyali juga. Bagus. Tapi ingat, aku punya aturan. Jangan pernah keluar rumah ini tanpa izin dariku."
"Dan kalau aku tetap keluar?" tantang Delima.
Nando mendekat, matanya menatap tajam.
"Aku bakal nemuin kamu dan hukumannya gak ringan."
Delima menelan ludah. Namun, dia tak ingin menunjukkan rasa takut.
"Kenapa kamu gak biarin aku pergi aja? Aku jelas gak mau di sini. Kamu juga kelihatan gak pengin aku di sini."
"Karena aku udah beli hak atas dirimu," jawab Nando datar.
"Dan aku gak bakal biarin siapa pun ngambil sesuatu yang udah jadi milikku."
Delima merasa dadanya sesak. "Kamu mungkin bisa beli tubuhku, tapi kamu gak akan pernah punya hatiku."
Nando menatapnya dalam-dalam. Wajahnya sulit ditebak.
"Kita lihat nanti," ujarnya akhirnya, sebelum berbalik dan meninggalkan dapur.
Delima hanya bisa menatap punggung Nando yang menghilang di balik pintu. Hatinya penuh gejolak.
Delima tahu jika Nando lelaki berbahaya. Namun entah kenapa, di balik dinginnya sikap dan kata-kata tajam itu... ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Sayangnya, rasa ingin tahu itu menyatu dengan rasa takut. Dan Delima tahu, di tempat ini... satu-satunya orang yang bisa dipercaya hanyalah dirinya sendiri.
"Siapa kamu sebenarnya, Nando?"