Luka Di Balik Wajahnya

1346 Words
Malam itu rumah terasa sunyi, jauh berbeda dari hiruk-pikuk biasanya. Delima sedang duduk di kamarnya, memandang keluar jendela dengan pikiran melayang. Tiba-tiba, terdengar suara langkah berat dari arah lorong. Delima membuka pintu sedikit, mengintip keluar. Nando tampak berjalan ke arah kamarnya dengan langkah tertatih, memegang lengan kanannya yang tampak berdarah. Delima menahan napas, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia berlari ke kamar mandi dan mengintip dari balik pintunya. Nando masuk ke kamarnya karena pintu tidak sepenuhnya tertutup. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Delima keluar dari kamar mandi dan mendekat dengan perlahan. Nando duduk di tepi tempat tidur. Ia melepas jaket kulitnya dengan susah payah. Memperlihatkan kaos hitam yang robek dan bernoda darah di beberapa bagian. Nando mengeluarkan kotak P3K dari laci. Lalu mulai membersihkan luka di lengannya dengan gerakan yang kasar. "Apa yang kau lakukan?" Suara Delima terdengar, tanpa sadar ia melangkah masuk. Nando mendongak, terkejut melihatnya. "Apa kamu mengintipku?" tanyanya dengan nada tajam. Delima menggeleng cepat. "Tidak, aku hanya... aku mendengar sesuatu. Apa kamu terluka?" "Bukan urusanmu," balas Nando dingin, melanjutkan membersihkan lukanya. Namun, gerakannya terhenti saat ia meringis kesakitan. "Kamu tidak bisa melakukannya sendiri," kata Delima mendekat. "Jangan mendekat," Nando memperingatkan, tetapi dia mengabaikan itu. Delima mengambil kain bersih dari kotak P3K dan menuangkan antiseptik ke atasnya. "Diamlah. Aku tidak akan melukai-maksudku, aku hanya akan membantumu." Nando memandang Delima dengan tatapan curiga, tapi lelaki itu tidak melawan saat istrinya duduk di depannya. Perlahan, Delima mulai membersihkan luka di lengan Nando. "Kamu tahu, kau bisa pergi ke rumah sakit," ujar Delima mencoba mencairkan suasana. Nando mendengus. "Rumah sakit penuh dengan orang-orang yang suka bertanya. Aku tidak punya waktu untuk itu." "Karena kamu takut mereka akan tahu siapa kau sebenarnya?" tanya Delima mencoba menggoda. Nando menatapnya tajam, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia membiarkan Delima melanjutkan pekerjaannya. "Kamu sering terluka seperti ini?" tanya Delima lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. "Sering," jawab Nando singkat. "Kenapa? Apa semua ini sepadan dengan hidup seperti ini?" Nando terdiam sejenak sebelum menjawab. "Hidup ini tidak selalu tentang pilihan. Kadang kita hanya melakukan apa yang harus dilakukan." Delima berhenti sejenak, memandang wajah Nando yang penuh bekas luka. "Kamu tidak pernah berpikir untuk berhenti?" "Berhenti?" Nando tertawa kecil, tapi tawanya terdengar pahit. "Dunia tidak sebaik itu, Delima. Kalau aku berhenti, aku akan mati. Begitu saja." Delima menggigit bibir, merasa ada sesuatu yang dalam di balik kata-kata itu. Ia melanjutkan membersihkan luka Nando, lalu mengoleskan salep dan membalutnya dengan perban. "Selesai," katanya pelan, menatap Nando yang kini lebih rileks. Nando memandangnya beberapa detik sebelum berkata, "Terima kasih, Istriku." Delima terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutnya. "Kamu bisa berterima kasih juga?" "Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan," jawab Nando dengan nada tenang. "Apa itu sebabnya kamu tidak pernah benar-benar bersikap kasar padaku?" Nando menghela napas panjang. "Aku tidak ingin jadi monster di matamu. Meski aku tahu kamu sudah membenciku." Delima menatapnya lekat. "Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak mengerti dirimu." Nando terdiam, matanya menatap lantai. "Aku tidak peduli orang lain mengerti aku atau tidak. Tapi aku tidak pernah ingin menyakitimu." Kalimat itu membuat hati Delima bergetar. Ia tahu Nando bukan pria biasa. Dan ada sesuatu yang lebih dalam di balik sikap dinginnya. "Kenapa kamu hidup seperti ini, Nando? Kamu punya pilihan, kan?" tanyanya dengan hati-hati. Nando mengangkat bahu. "Punya pilihan? Tidak selalu. Aku tumbuh di lingkungan yang keras. Kalau aku tidak melawan, aku akan dilindas. Dunia ini tidak adil." Delima merasa ada kesedihan dalam suaranya. "Apa yang membuatmu seperti ini? Apa yang kamu sembunyikan?" Nando menggeleng pelan. "Kamu tidak akan mengerti." "Cobalah percaya kepadaku," desak Delima. Untuk pertama kalinya, Nando terlihat ragu. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. "Aku kehilangan segalanya saat aku masih kecil. Orang tua, keluarga dan rumah. Aku hanya punya diriku sendiri. Dan untuk bertahan hidup, aku harus menjadi seperti ini." Delima mendekat, berdiri di belakangnya. "Itu tidak menjadikanmu orang jahat, Nando." Nando berbalik, menatap Delima dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu tidak tahu seberapa buruknya aku. Jangan mencoba melihat sisi baikku, karena itu akan membuatmu kecewa." "Aku tidak percaya itu," jawab Delima tegas. Nando menggeleng lagi, lalu berjalan melewati Delima tanpa berkata apa-apa. "Kunci pintumu malam ini," katanya sebelum keluar kamar. Delima berdiri di tempatnya, merasa hatinya semakin campur aduk. Di satu sisi, ia takut pada Nando. Namun, ia merasakan ada sisi lain dari lelaki itu yang membuat penasaran. Malam itu, saat berbaring di tempat tidur, pikiran Delima dipenuhi oleh bayangan Nando. Wajahnya yang penuh luka, sikap dinginnya, dan kata-kata yang mengisyaratkan rasa sakit yang mendalam. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Nando?" Delima pada diri sendiri sebelum akhirnya tertidur, masih dengan rasa penasaran yang terus menghantuinya. *** Pagi datang dengan suasana yang tak kalah sunyi. Delima terbangun dengan perasaan tak menentu. Ia mencoba mengusir bayangan percakapannya dengan Nando tadi malam. Namun, ekspresi lelaki itu terus melekat di pikirannya. Saat Delima keluar dari kamar, aroma sarapan menyeruak. Ia terkejut melihat meja makan sudah penuh dengan makanan. Namun, rumah itu tetap terasa sepi. "Anak-anak buah Nando ke mana?" pikir Delima, menoleh ke arah ruang tamu yang kosong. Delima melangkah pelan menuju dapur. Di sana, Nando sedang duduk dengan kaus sederhana. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Luka di lengannya masih terlihat jelas meski telah terbalut. "Kamu bangun pagi," ujar Nando tanpa menoleh, seakan bisa merasakan kehadirannya. Delima berhenti sejenak, lalu memberanikan diri untuk masuk. "Aku tidak biasa tidur nyenyak di tempat seperti ini." Nando mendongak, menatapnya dengan ekspresi datar. "Kalau kamu punya keluhan, aku tidak bisa membantumu. Kamu memilih untuk bertahan di sini." "Aku tidak memilih," balas Delima tajam. "Kau tahu kenapa aku di sini." Kata-kata itu membuat suasana menjadi tegang. Nando mendesah, mengalihkan pandangannya. "Aku tahu. Tapi aku juga tidak akan meminta maaf." Delima mengernyit. "Kamu selalu seperti ini? Keras kepala dan tidak peduli?" Nando tersenyum kecil, senyum yang lebih menyerupai ejekan. "Mungkin. Tapi aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan." Delima menghela napas panjang. Ia merasa tidak ada gunanya berdebat, tetapi rasa penasaran dalam dirinya semakin besar. Ia mendekat ke meja makan, mengambil kursi di seberang Nando. "Kenapa kamu tidak makan bersama anak buahmu?" tanyanya, mencoba mencairkan suasana. Nando mengangkat bahu. "Mereka punya tugas. Aku tidak perlu bersama mereka setiap saat." Delima memandang Nando, mencoba mencari celah di balik sikap dinginnya. "Kamu selalu menjaga jarak dengan semua orang. Termasuk mereka, kan?" "Jangan sok tahu," balas Nando cepat, tapi ada nada lelah dalam suaranya. "Kamu bilang aku tidak akan mengerti. Tapi kau juga tidak pernah mencoba menjelaskan," ujar Delima dengan nada pelan tetapi tegas. Nando menatapnya lama, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Apa yang kamu inginkan? Penjelasan atau simpati? Dunia ini tidak punya waktu untuk itu." "Aku hanya ingin tahu siapa kamu sebenarnya," kata Delima dengan suara yang melembut. Nando mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Aku adalah apa yang kamu lihat. Tidak lebih, tidak kurang." Delima merasa frustrasi. Ia tahu Nando berusaha menutupi sesuatu. Namun, lelaki itu terlalu ahli menyembunyikannya di balik dinding tebal. "Apa kamu pernah merasa lelah dengan semua ini?" tanyanya tiba-tiba. Nando menatapnya tajam. "Lelah? Apa kamu pikir aku punya pilihan untuk merasa lelah?" "Tentu saja kamu punya. Kamu bisa memilih hidup yang lebih baik," jawab Tasya cepat. Nando tertawa kecil, tawanya penuh kepahitan. "Hidup yang lebih baik? Dengan wajah seperti ini? Dengan masa lalu seperti milikku? Tidak ada yang menginginkan aku. Tidak ada yang peduli." "Aku peduli," kata Delima tanpa sadar. Suaranya lirih hingga nyaris tak terdengar. Nando terdiam. Matanya yang tajam melunak untuk sesaat. Namun, segera mengalihkan pandangannya. "Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan." Delima menggigit bibir. Gadis itu tahu jika Nando tidak akan membiarkannya masuk ke dunia mereka dengan mudah. Namun, ada sesuatu yang membuatnya ingin terus mencoba. "Sampai kapan kamu akan menyiksa diri seperti ini?" tanya Delima pelan. "Sampai dunia berhenti menyiksaku lebih dulu," jawab Nando. Suaranya penuh kepedihan yang tak bisa disembunyikan. Delima terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat lelaki itu sebagai seseorang yang rapuh di balik semua kekerasan dan ketegasannya. Di balik bekas luka di wajah Nando, ada luka hati yang lebih dalam yang tidak pernah dia biarkan sembuh. "Nando--" Sebelum Delima sempat bertanya lagi, Nando meraih kepalanya dan menyentuh bibirnya dengan lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD