Sikap Hangat Di Wajah Seram

1313 Words
Delima berjalan tergesa-gesa menuruni tangga menuju ruang makan. Hari itu ia berniat menghindari Nando. Sentuhan Nando di bibirnya kemarin membuatnya kembali takut. Lelaki itu melakukannya dengan kasar dan bernafsu. Padahal dia sudah berjanji tidak akan menyetuh tanpa izin. Selain itu, suasana di rumah ini selalu membuat Delima gelisah. Dan ia tak ingin berlama-lama di sana. Namum sial, kakinya malah menginjak sesuatu yang licin. "Astaga!" seru Delima saat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, Delima terguling di tangga. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Gadis itu mencoba bangun, tapi lutut terasa nyeri dan kepalanya sedikit pusing. "Delima!" Suara berat Nando terdengar dari kejauhan. Delima mendongak. Matanya bertemu dengan Nando yang berdiri di bawah tangga dengan raut wajah yang terkejut. Sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, lelaki itu sudah berlari menaiki tangga dan menghampirinya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Nando. Suaranya terdengar tegas tetapi ada nada khawatir yang tersembunyi. "Aku..." Delima terdiam, mencoba mengumpulkan napasnya. "Aku jatuh." "Jelas itu," gumam Nando sambil mengulurkan tangan. "Bisa berdiri?" Delima mencoba menerima uluran tangan Nando. Namun, begitu ia menginjakkan kaki, rasa sakit menusuk membuatnya meringis. "Tidak, aku... tidak bisa berdiri." Nando menghela napas, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia membungkuk dan mengangkat Delima ke dalam gendongannya. "Hei! Apa yang kamu lakukan?" Delima terkejut dan mencoba melawan. Namun, tubuhnya terlalu lemah untuk memberikan perlawanan. "Diam," jawab Nando dingin. "Kalau kamu bergerak, kamu hanya akan membuat luka itu semakin parah." Delima akhirnya menyerah, membiarkan Nando membawanya ke kamar. Meski hatinya diliputi rasa canggung, ia tidak bisa mengabaikan kehangatan tubuh Nando yang terasa melalui pakaiannya. Saat sampai di kamar, Nando dengan hati-hati meletakkannya di tempat tidur. Ia mengernyit melihat darah kecil di lutut Delima. "Kamu benar-benar ceroboh." "Itu bukan salahku," balas Delima dengan suara lemah. "Ada sesuatu yang licin di tangga." Nando mengabaikan protes Delima dan beranjak keluar, kembali dengan kotak P3K beberapa menit kemudian. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur, membuka perban dan antiseptik. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Delima memandangnya dengan waspada. "Merawat lukamu. Atau kamu mau dibiarkan begitu saja?" Nando menjawab tanpa menatapnya. Delima menggigit bibir karena merasa malu. Ia tidak tahu harus berkata apa ketika Nando dengan telaten membersihkan luka di lututnya. Sentuhan lelaki itu lembut, bertolak belakang dengan penampilannya yang keras dan menyeramkan. "Kenapa kau... repot-repot melakukannya?" tanya Delima pelan. Nando berhenti sejenak, tatapannya bertemu dengan mata Tasya. "Karena aku bertanggung jawab atas kamu. Itu sudah cukup alasan." Jawaban itu membuat Delima terdiam. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Nando menyelesaikan perawatan lukanya dengan cepat, lalu berdiri. "Istirahat. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau lukamu semakin parah." "Tunggu!" panggil Delima ketika Nando hendak keluar dari kamar. "Apa lagi?" tanyanya tanpa menoleh. "Kamu tidak seperti yang kupikirkan," gumam Delima. Nando menoleh, ekspresinya dingin. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku." "Tapi aku ingin tahu," balas Delima tanpa berpikir panjang. Nando mendengus kecil, lalu meninggalkan kamar tanpa sepatah kata lagi. *** Beberapa jam kemudian, Delima mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca buku. Namun, pikirannya terus kembali ke momen tadi. Ia tidak mengerti kenapa Nando, yang biasanya bersikap dingin dan kasar, bisa begitu perhatian padanya. "Kenapa aku merasa seperti ini?" gumamnya pelan. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk. "Masuk saja," katanya. Nando muncul dengan nampan di tangannya. "Makan malam." Delima mengerutkan kening. "Kamu membawakan aku makanan?" "Ya, kenapa? Kamu pikir aku akan membiarkanmu kelaparan?" Nando menaruh nampan di meja samping tempat tidur, lalu melipat tangannya. "Aku tidak mau ada masalah. Itu saja." Delima memandangnya, mencoba membaca ekspresinya. "Kamu selalu punya alasan untuk kebaikanmu, ya?" "Karena aku bukan orang baik," jawab Nando datar. "Tapi kau tidak seburuk itu." Delima menunduk, mengaduk makanan di piringnya. "Kamu berbeda dari apa yang orang lain katakan." Nando tertawa kecil, tawanya pahit. "Kamu terlalu cepat menilai. Jangan berharap terlalu banyak." "Kamu hanya tidak mau aku melihat sisi baikmu," ujar Delima pelan. Nando terdiam, matanya yang biasanya tajam melunak sesaat sebelum ia berbalik. "Makanlah. Jangan terlalu banyak berpikir." Setelah Nando keluar, Delima menghela napas panjang. Ia merasa semakin bingung dengan perasaannya. Di satu sisi, ia masih takut pada Nando. Tapi di sisi lain, ia melihat sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi. "Mungkin aku harus tahu lebih banyak," gumamnya, matanya memandang pintu yang baru saja ditutup Nando. Delima duduk di tempat tidurnya, menatap piring makanannya yang kini sudah setengah habis. Meskipun rasa takutnya pada Nando belum sepenuhnya hilang, ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Perasaan itu membingungkannya. Nando, pria yang selama ini ia anggap menakutkan dan kejam, ternyata bisa bersikap berbeda ketika berhadapan dengannya secara pribadi. Delima tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih terhubung dengan Nando, meski ia berusaha menepisnya. Delima menatap pintu kamar, perasaan cemas bercampur rasa penasaran semakin menguasainya. Pintu kamar terbuka perlahan, dan Nando muncul lagi, kali ini tanpa nampan makanan. "Bagaimana lukamu?" tanya lelaki itu singkat. Tatapannya tetap tajam seperti biasanya. "Tidak begitu parah," jawab Delima, berusaha untuk tidak terdengar terlalu cemas. "Terima kasih sudah merawatnya." Nando mengangguk dan berdiri di dekat pintu, tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Suasana itu terasa kaku. Delima merasakan sesuatu yang tidak biasa. Seolah-olah memanggilnya untuk bertanya lebih jauh tentang lelaki ini, yang ternyata menyimpan banyak rahasia. "Apa yang terjadi padamu, Nando?" Delima akhirnya bertanya. Suaranya lembut, meskipun hatinya berdetak cepat. Dia menatap lelaki itu dengan penuh perhatian. Nando tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Wajahnya seketika berubah menjadi lebih keras. "Jangan coba mencari tahu lebih banyak, Delima," jawabnya, suara seraknya terdengar seperti peringatan. "Ada hal-hal yang tidak perlu kau ketahui." Namun, di balik kata-kata tegas itu, Delima bisa melihat sesuatu yang berbeda. Ada rasa sakit tersembunyi dalam tatapan Nando yang tak bisa ia hindari. Itu bukan hanya sekedar keputusasaan, tetapi luka yang dalam. Seakan masa lalu Nando terus menghantui setiap langkahnya. Delima merasa tergerak untuk mengetahui lebih banyak, meskipun ia tahu itu bisa berbahaya. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu..." Delima ragu, mencari kata-kata yang tepat. "Kenapa kau terlihat seperti orang yang sangat berbeda ketika bersamaku? Aku tidak mengerti." Nando menghela napas, berjalan ke meja di samping tempat tidur, dan duduk di sana dengan tubuh yang kaku. "Kamu terlalu banyak berpikir," ujarnya dengan suara pelan. "Apa yang kamu lihat hanya sebagian kecil dari siapa aku sebenarnya. Itu tidak penting." "Tapi bagi aku itu penting," Delima berkata dengan tegas, meski hatinya masih penuh keraguan. "Aku tahu kamu bukan hanya seorang pemimpin geng yang kejam. Ada lebih dari itu, bukan?" Nando menatapnya lama. Tatapannya begitu tajam seolah bisa menembus pikirannya. Untuk beberapa detik yang terasa lama, suasana di antara mereka begitu canggung. Hingga akhirnya Nando berdiri dan berjalan ke jendela, menghadap ke luar tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Apa yang kamu inginkan, Delima?" tanya Nando tanpa menoleh. Suaranya terdengar lebih lembut daripada biasanya. "Kamu ingin aku bercerita tentang masa lalu yang penuh darah dan kebencian? Atau kau ingin tahu mengapa aku seperti ini?" Delima terdiam. Matanya mengikuti gerak tubuh Nando. "Aku hanya ingin tahu... siapa kau sebenarnya." Tiba-tiba, Nando berbalik dan menatapnya dengan intensitas yang begitu dalam, membuat Delima terkejut. "Aku bukan orang baik. Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi baik. Dan kamu tidak akan pernah bisa mengubah itu." Dengan kalimat itu, Nando berbalik dan berjalan menuju pintu. Lelaki itu menoleh sejenak sebelum keluar dari kamar. "Kamu tidak ingin tahu lebih banyak, karena itu hanya akan membahayakanmu." Delima merasa hatinya berat mendengar kata-kata itu. Perasaan bingung, penasaran dan cemas bercampur aduk. Ia ingin tahu lebih banyak, tapi juga takut dengan apa yang mungkin akan ditemukan. Nando jelas menyimpan luka yang dalam. Dia tahu bahwa jika menggali lebih jauh, ada bahaya yang mungkin akan ia hadapi. Satu hal yang tak bisa Delima pungkiri-sejak pertemuan pertama mereka, ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Sesuatu yang membuatnya semakin tertarik pada lelaki ini meski tahu bahwa rasa itu berbahaya. "Aku tidak bisa berhenti merasa ingin tahu." Delima berbisik pelan kepada diri sendiri, sambil menatap pintu yang baru saja ditutup Nando. "Tapi apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD