18 | Uangmu Tidak Berlaku

1230 Words
Wening mematung, ponselnya perlahan turun dari telinga dengan tangan yang gemetar hebat. Kalimat Aditi terus terngiang, menghantam kesadarannya seperti gada besi. Ayahnya, pria angkuh yang tadi ia lawan habis-habisan, kini terbaring tak berdaya di rumah sakit. Rasa bersalah seketika merambat naik, menyumbat kerongkongannya hingga ia sulit bernapas. "Ada apa, Wen?" Banyu segera mendekat, menangkap bahu Wening yang mendadak lemas. "Papa, Nyu ... Papa masuk rumah sakit. Jantungnya kumat setelah aku pergi tadi," bisik Wening parau. Air matanya luruh tanpa bisa dicegah. "Aku harus ke sana sekarang. Aditi bilang keadaannya gawat." Banyu tidak membuang waktu untuk bertanya lebih jauh. Ia mengangguk mantap, sorot matanya berubah tajam dan protektif. "Aku antar. Kita berangkat sekarang pakai motor biar lebih cepat tembus macet,” katanya. Namun, pandangan Banyu terjatuh pada Bumi yang masih berdiri memperhatikan mereka dengan wajah bingung. Ia tidak mungkin membawa bocah itu ke rumah sakit yang mencekam di tengah malam. Ia teringat Bhaga yang baru saja pergi beberapa menit lalu menuju kediaman pribadinya yang luas. "Kita antar Bumi ke rumah Papa dulu. Nggak mungkin kita bawa dia ke rumah sakit malam-malam begini," ujar Banyu lugas. Wening hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka segera menggendong Bumi yang masih setengah mengantuk dan memacu motor menuju gerbang kediaman mewah milik Bhaga yang jaraknya tak seberapa jauh dari kontrakan. Setelah sampai di depan pintu jati besar rumah tersebut, Banyu mengetuk dengan tak sabar. Bhaga muncul dengan kemeja yang sudah separuh terbuka kancingnya, tampak terkejut melihat putranya datang dengan wajah tegang. "Loh, ada apa lagi?" tanya Bhaga heran, matanya beralih pada Wening yang matanya sembap. "Pa, nitip Bumi sebentar. Penting banget. Papanya Wening masuk rumah sakit, jantungnya kumat. Banyu mau antar Wening ke rumah sakit Medika sekarang," ujar Banyu tanpa basa-basi. Bhaga terdiam sejenak, menatap Wening dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi ia segera mengulurkan tangan untuk mengambil Bumi dari gendongan Banyu. "Bawa dia ke sini. Pergilah. Urus apa yang perlu diurus,” katanya. Bumi, yang seolah mengerti situasi darurat ini, hanya menurut saat berpindah ke pelukan kakeknya. "Papa sama Mama mau lihat Opa?" tanyanya polos. "Iya, Sayang. Bumi sama Opa Bhaga dulu ya. Besok pagi Papa jemput," sahut Banyu sembari mengecup kening putranya singkat. Tanpa menunggu lama, Banyu menarik tangan Wening kembali ke motor. Deru mesin motor itu membelah sunyinya perumahan elit tersebut, membawa keduanya melesat menuju rumah sakit. Wening memeluk punggung Banyu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di sana menjadikan pria itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa dari kehancuran dunianya. Di teras rumahnya, Bhaga berdiri mematung sembari mengusap punggung Bumi yang mulai tertidur di bahunya. Matanya yang tajam menatap lampu merah motor Banyu hingga menghilang di tikungan jalan. "Sandyo," panggil Bhaga tanpa menoleh ke arah ajudannya yang selalu siaga di balik bayangan pintu. "Siap, Pak." "Cari tahu soal kebenaran Mahesa masuk rumah sakit. Pastikan ini murni serangan jantung atau sekadar taktik Barata untuk menyeret Wening kembali," perintah Bhaga, suaranya dingin dan tajam. "Aku tidak mau putraku dihina atau direndahkan lagi di sana. Kalau memang mereka benar-benar butuh bantuan, kirim tim medis terbaik dari yayasan kita. Tapi kalau ini jebakan ... pastikan mereka tahu siapa yang mereka hadapi,” imbuhnya. "Siap, Pak. Laksanakan," jawab Sandyo sigap. *** Motor Banyu menderu pelan sebelum akhirnya berhenti di area parkir Rumah Sakit Medika yang tampak lengang di jam-jam rawan ini. Wening turun dengan gerakan kaku, tubuhnya masih gemetar hebat. Di bawah lampu merkuri yang pucat, wajahnya tampak pasi, matanya sembap menatap pintu masuk Unit Gawat Darurat yang seolah siap menelan seluruh keberaniannya. Banyu mematikan mesin, lalu segera menghampiri Wening. Ia meraih kedua tangan wanita itu, menggenggamnya erat untuk menyalurkan kehangatan. "Wen, lihat aku, Semua bakal baik-baik aja. Aku ada di sini, aku nggak akan ke mana-mana. Kita hadapi sama-sama, ya?" bisik Banyu. Wening hanya bisa mengangguk lemah, lidahnya terlalu kelu untuk sekadar mengucap terima kasih. Banyu kemudian menggandeng tangan Wening, menautkan jemari mereka dengan protektif saat melangkah masuk menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam. Setelah sampai di depan ruang tunggu ICU, pemandangan menyesakkan langsung menyambut. Kalyani sedang duduk bersandar di bahu Aditi. Sementara Barata berdiri di dekat mereka dengan gaya parlente yang sangat kontras dengan suasana duka di sana. Melihat kedatangan Wening yang masih menggandeng tangan Banyu, Kalyani langsung bangkit. Wajahnya yang kuyu berubah menjadi penuh amarah yang meledak-ledak. "Wening! Berani-beraninya kamu datang ke sini bawa laki-laki ini! Semua ini salah kamu! Papa kamu kritis karena memikirkan kelakuan kamu yang membangkang dan lebih milih montir ini daripada keluarga sendiri!" seru Kalyani dengan suara melengking, menunjuk-nunjuk Banyu. Wening tersentak, langkahnya mundur sejengkal. Namun Banyu segera memasang badan. Ia berdiri tegak di depan Wening, menghalangi telunjuk Kalyani yang nyaris mengenai wajah kekasihnya. "Cukup, Tante. Ini bukan waktunya cari siapa yang salah. Wening ke sini karena khawatir sama Papanya,” ujar Banyu dengan nada rendah yang sarat ancaman. "Khawatir kamu bilang? Suamiku harus dioperasi malam ini juga! Biayanya ratusan juta, Wening! Apa laki-laki di belakangmu itu bisa bayar? Apa dia mau bayar pakai kunci pas atau oli bekasnya?!" Barata melangkah maju, membenahi letak jam tangan mahalnya dengan gerakan sombong yang disengaja. Ia menatap Wening dengan pandangan merendahkan, lalu melirik Banyu dengan sudut mata yang menghina. "Sudahlah, Tante. Biar saya yang handle, Wen, kamu lihat sendiri kan siapa yang bisa kamu andalkan di saat kritis seperti ini? Daripada pria yang cuma bisa gandeng tangan kamu tanpa bisa kasih solusi, lebih baik kamu dengarkan tawaran saya. Saya akan bayar semua biaya operasi Papa malam ini, semua biaya perawatan sampai sembuh total ... asal kamu setuju menikah dengan saya bulan depan,” potong Barata dengan suara tenang, tapi penuh keangkuhan. Ia menatap Wening lekat-lekat. Wening mematung, dadanya sesak luar biasa. Ia merasa terjepit di antara nyawa ayahnya dan kebebasan hidupnya sendiri. Saat ia hendak membuka mulut, Banyu kembali memberikan interupsi. "Dia nggak akan nikah sama kamu, Barata," tegas Banyu. Barata tertawa hambar, sebuah tawa yang meremehkan harga diri pria mana pun. "Memang kamu punya apa, Banyu? Tabungan bengkel kamu cukup buat bayar uang muka ICU semalam saja? Jangan jadi pahlawan kesiangan kalau kantong kamu kosong. Ini dunia nyata, bukan sinetron picisan." Tepat saat suasana memanas dan Barata merasa di atas angin, seorang suster administrasi keluar dari ruang ICU dengan membawa beberapa berkas. "Permisih, keluarga Bapak Mahesa?" tanya suster itu. Kalyani dan Barata kompak mendekat. "Iya, Suster. Ini, Mas Barata mau selesaikan administrasinya sekarang juga," ujar Kalyani cepat. Barata sudah mengeluarkan kartu kredit platinumnya dengan gestur penuh kemenangan. Namun, suster itu justru menggelengkan kepala sembari tersenyum sopan. "Mohon maaf, Bapak, Ibu. Untuk biaya operasi dan seluruh perawatan Bapak Mahesa sudah ditanggung sepenuhnya oleh yayasan pemilik rumah sakit ini. Statusnya sudah fully covered atas perintah langsung dari pusat. Jadi pihak keluarga tidak perlu memikirkan biaya apa pun lagi,” jelas suster. Seketika, hening mencekam dan menyergap koridor itu. Kartu kredit di tangan Barata seolah kehilangan harganya dalam sekejap. Kalyani melongo, matanya membelalak tidak percaya. "Yayasan? Yayasan apa, Suster? Kami nggak pernah merasa mengajukan bantuan." "Yayasan Bhaga Utama, Ibu," jawab suster itu lugas. "Direktur pusat tadi menelepon langsung. Silakan Bapak Mahesa segera dipersiapkan untuk masuk ruang operasi." Semua orang di sana benar-benar kaget, kecuali Banyu. Ia hanya berdiri diam, tetap menggandeng tangan Wening yang kini gemetar karena rasa lega yang luar biasa. Banyu tahu benar, ayahnya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sandyo pasti bergerak lebih cepat dari bayangannya sendiri. Banyu menatap Barata yang kini tampak kikuk dan kehilangan kata-kata. Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibir Banyu. "Sepertinya ... uangmu nggak laku di sini, Barata."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD