19 | Kejutan Lain

1263 Words
Barata meremas kartu kredit platinum di tangannya dengan keras. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini memerah padam, menahan malu sekaligus amarah yang meledak di d**a. Ia menatap suster itu, lalu beralih pada Banyu yang masih berdiri tenang seolah semua ini adalah hal yang wajar. "Tante, sepertinya saya ada urusan mendadak di kantor yang nggak bisa saya tunda. Saya harus pergi sekarang. Kabari saya kalau operasinya sudah selesai,” ujar Barata ketus, suaranya terdengar kaku saat ia berbalik menatap Kalyani. Tanpa menunggu jawaban, Barata melangkah lebar meninggalkan koridor rumah sakit, mengabaikan panggilan Aditi yang mencoba menahannya. Ia gagal total. Panggung pahlawan yang ia susun dengan uang miliaran hancur berantakan hanya dalam satu menit oleh sebuah yayasan yang namanya bahkan asing di telinganya. Melihat situasi yang mulai mereda, Banyu menarik lembut tangan Wening untuk menjauh dari Kalyani dan Aditi yang masih berdebat kebingungan di depan meja administrasi. Mereka menyisih ke sebuah bangku panjang di ujung koridor yang lebih sepi, tempat di mana deru mesin pendingin ruangan terdengar lebih dominan daripada isak tangis. Wening duduk dengan bahu yang masih tegang. Ia menatap lantai marmer rumah sakit yang dingin, lalu menoleh ke arah Banyu dengan dahi berkerut dalam. "Nyu, kenapa tiba-tiba Yayasan rumah sakit itu menutup semua biaya Papa? Kita nggak punya koneksi ke yayasan besar seperti itu. Apa mungkin ... orang pusat di sana kenal sama Papa? Atau mungkin Papa punya asuransi rahasia yang aku nggak tahu?" tanya Wening pelan, suaranya sarat akan keheranan. Banyu menatap mata Wening yang masih sembap. Ia bisa saja mengatakan yang sejujurnya sekarang, bahwa 'Bhaga' yang dimaksud adalah pria yang tadi menggendong Bumi. Namun, ia tidak akan membuka semuanya lebih dulu sekarang. "Nggak usah dipikirin terlalu dalam, Wen," sahut Banyu lembut sembari mengusap punggung tangan Wening dengan ibu jarinya. “Dunia ini luas, mungkin saja Papa kamu pernah berbuat baik pada seseorang di masa lalu yang sekarang punya posisi di yayasan itu. Anggap saja ini keajaiban yang memang sudah seharusnya datang buat kamu." Wening menarik napas panjang, mencoba mencerna logika Banyu yang terdengar terlalu sederhana. Namun ia terlalu lelah untuk berdebat. "Tapi ini ratusan juta, Nyu. Nggak ada orang yang kasih uang sebanyak itu cuma-cuma," gumam Wening lagi. Banyu tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung arti lebih dari yang Wening sadari. "Yang penting sekarang Papa kamu udah bisa masuk ruang operasi tanpa kamu harus jual diri ke Barata. Kamu nggak perlu lagi manut sama syarat-syarat gila dia. Kamu bebas, Wen. Kita bebas,” sahut Banyu mantap. Wening menatap Banyu, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Beban yang selama berbulan-bulan ini menghimpit dadanya seolah terangkat sebagian. Meski masih banyak tanya yang menggantung, keberadaan Banyu di sampingnya saat ini terasa jauh lebih nyata daripada angka-angka di kuitansi rumah sakit. "Iya, Nyu. Makasih, ya, udah ada di sini," bisik Wening sembari memejamkan mata. Banyu tidak menjawab, ia hanya mengeratkan genggaman tangannya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa kejutan malam ini hanyalah permulaan. Besok, saat Mahesa terbangun, pria itu tidak hanya akan mendapati jantungnya yang kembali sehat, tapi juga kenyataan bahwa calon menantu yang selama ini ia injak-injak adalah anak dari seseorang yang tak bisa diremehkan. *** Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam, berganti dengan kesibukan para perawat yang mendorong brankar Mahesa menuju unit intensif (ICU). Tubuh pria perkasa yang biasanya angkuh itu kini tampak ringkih, dipenuhi selang dan kabel monitor yang berkedip ritmis, menjaga nyawanya tetap berpijak di bumi. Kalyani dan Aditi membuntuti di belakang dengan wajah cemas yang dipaksakan. Sementara Wening berjalan bersisian dengan Banyu. Tangan Banyu masih menggenggam jemari Wening, memberikan kekuatan yang tak kasat mata di tengah lorong rumah sakit yang dingin. Di depan ruang isolasi ICU, seorang dokter spesialis jantung berambut abu-abu melepas maskernya. Ia menghela napas panjang, menatap keluarga pasien dengan saksama. "Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil melakukan tindakan darurat pada penyumbatan di arteri utamanya. Namun, Pak Mahesa masih dalam pengaruh sedasi yang kuat. Biasanya butuh enam sampai dua belas jam untuk beliau mulai memberikan respons. Saat ini, kondisi jantungnya stabil, tapi kami harus terus memantau fungsi organ lainnya," jelas dokter itu dengan nada profesional. Kalyani mengangguk-angguk kecil. Namun pikirannya tampak tidak sepenuhnya berada pada kesehatan suaminya. Rasa penasaran yang membuncah sejak di meja administrasi tadi akhirnya tumpah juga. "Dokter ... sebelumnya terima kasih. Tapi saya masih bingung soal administrasi tadi. Suster bilang seluruh biaya ditanggung Yayasan. Sebenarnya ... siapa pemilik yayasan rumah sakit ini? Kami ingin berterima kasih secara langsung,” tanyanya dibuat selembut mungkin. Dokter itu terdiam sejenak. Matanya secara tidak sengaja bergeser ke arah Banyu yang berdiri tenang di belakang Wening. Sebagai salah satu petinggi medis di rumah sakit ini, sang dokter tentu sudah menerima instruksi khusus dari pusat mengenai kedatangan putra sang pemilik yayasan. Dokter itu berdeham, lalu kembali menatap Kalyani. “Yayasan ini dikelola oleh keluarga besar. Pemilik utamanya adalah putra dari salah satu jenderal besar di kesatuan tentara yang kini sudah purnabakti. Beliau memang memiliki kebijakan khusus untuk membantu pasien-pasien yang dianggap berada dalam kondisi darurat dan memiliki kontribusi di bidangnya, sebagai bentuk sedekah dan pengabdian,” jelas dokter tanpa menyinggung soal Bhaga atau Banyu. Kalyani dan Aditi saling lempar pandang. Wajah mereka tampak berbinar mendengar kata jenderal. "Jenderal besar? Wah, luar biasa sekali. Pasti orangnya sangat terpandang dan kaya raya ya, Dok? Sayang sekali kami tidak bisa bertemu langsung," gumam Kalyani, matanya berkilat penuh kekaguman yang dangkal. "Pemiliknya sangat rendah hati, Bu. Beliau lebih suka bergerak di balik layar," jawab dokter itu diplomatis sebelum berpamitan untuk memeriksa pasien lain. Sementara Aditi malah menghampiri Wening yang sedang bersama Banyu. "Mbak, nggak usah kepalang senang dulu ya karena biaya rumah sakit ini gratis. Iya, Papa selamat malam ini. Tapi besok? Lusa? Perusahaan kita tetap di ujung tanduk, Mbak! Utang miliaran itu nggak bakal lunas cuma karena ada yayasan baik hati yang bayarin operasi Papa," cetus Aditi, suaranya tajam merobek suasana sunyi. Kalyani mengangguk setuju, matanya yang sembap kini kembali menatap Wening dengan tuntutan yang berat. "Aditi benar, Wen. Barata itu satu-satunya jalan keluar kita. Kalau kamu tetap keras kepala sama montir ini, perusahaan Papa bakal disita minggu depan. Kita bakal jadi gelandangan, Wening! Kamu mau lihat Papa serangan jantung lagi karena rumah ini disita?" sahut Kalyani. Wening memejamkan mata sejenak, merasakan denyut di pelipisnya yang kian mengencang. Tekanan itu kembali datang, mencekiknya tepat saat ia baru saja ingin menarik napas lega. Banyu yang merasakan ketegangan di tubuh Wening hanya diam. Namun genggaman tangannya di jemari wanita itu menguat, seolah sedang menyalurkan benteng pertahanan yang tak kasat mata. Tepat saat Wening hendak membalas ucapan adiknya, ponsel di saku blusnya bergetar hebat. Ia melihat layar, panggilan dari sekretaris di kantor. Jantung Wening mencelos. Panggilan kantor di jam sedini ini biasanya hanya berarti satu hal, penagih utang atau penyitaan aset. Wening mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo, Sari? Ada apa? Papa sedang di ICU, jangan bilang kalau ada masalah lagi di kantor,” tanyanya. "Mbak Wening! Mbak harus ke kantor sekarang juga! Ada orang yang mencari Mbak. Beliau bilang harus bertemu Mbak atau Pak Mahesa pagi ini juga." Suara Sari di seberang sana terdengar sangat antusias, hampir terengah-engah. Wening mengernyit, rasa panik mulai menjalari dadanya. "Siapa, Sari? Apa penagih utang dari bank? Atau orang-orangnya Barata?" tanyanya. "Bukan, Mbak! Bukan penagih utang. Seorang pria paruh baya, perawakannya sangat berwibawa ... beliau bilang beliau datang untuk membicarakan suntikan dana dan pelunasan seluruh utang perusahaan kita. Beliau bilang, beliau berniat membantu perusahaan keluar dari krisis ini,” sahut Sari cepat, suaranya kini lebih pelan namun penuh penekanan. Wening tertegun, ponselnya hampir saja terlepas dari genggaman. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah dinding koridor yang pucat. "Membantu? Astaga … kejutan apa lagi ini?” batin Wening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD