3 | Serumah Dengan Papa

1024 Words
Seperti sebuah keluarga kecil, ketiganya bergandengan tangan keluar dari rumah sakit. Setelah sampai di lobby, Bumi menahan tangan kedua orang tuanya agar mereka berhenti. Banyu dan Wening kompak menoleh. “Kenapa, Sayang?” tanya Wening. “Ma, kita bakal tinggal serumah, kan?” tanya bocah itu polos. Bumi mengalihkan pandangannya bergantian ke Wening dan Banyu yang masih berdiri di sisi kiri dan kanannya. “Nggak bisa, Sayang. Kita pulang sekarang.” “Nggak mau. Bumi mau sama Papa,” sahut bocah itu cepat. Banyu sendiri masih diam. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana? Apa boleh ia membawa Bumi atau apa bisa ia merawat bocah itu? Selama ini, Bumi ikut Wening yang pasti tinggal di tempat yang bersih. “Nggak bisa, Sayang. Papa … nggak pernah tahu bagaimana kebiasaan kamu. Nanti–” “Aku bisa ajak Bumi ke asrama. Aku akan belajar, Wen. Nggak usah cemas,” sahut Banyu cepat. Wening menatap sang mantan dengan saksama. Walaupun agak khawatir karena ini pertama kalinya ia harus meninggalkan Bumi dengan orang lain, setidaknya Banyu adalah papanya. Ia tidak mungkin mencelakakan Bumi. “Ok. Telepon aku kalau ada apa-apa.” Banyu mengangguk lemah. Ia lantas tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Bumi dalam gendongan. “Kita pulang jagoan,” katanya senang. Dalam dekapan Banyu, Bumi melambai pada Wening yang masih mematung di tempat. Wanita itu tersenyum. Setengah hatinya senang, setengah lagi … entahlah. Wening memilih segera pulang untuk mengurus yang lainnya. *** Wening melangkah masuk ke rumah dengan perasaan yang masih tertinggal di rumah sakit. Bayangan Banyu yang akhirnya menerima Bumi sebagai darah dagingnya sendiri sedikit mengurangi beban di pundaknya. Namun, ketenangan itu langsung buyar saat ia melihat sosok wanita paruh baya sedang duduk di ruang tamu dengan kaki menyilang. Kalyani–mama tirinya–langsung menoleh dengan tatapan menyelidik. "Udah kamu anter Bumi ke papanya?" tanya Kalyani tanpa basa-basi. Wening hanya mengangguk pelan sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ia tidak ingin bicara banyak, apalagi membagi sesuatu dari ranah pribadinya. "Bagus! Berarti tugas kamu buat ngurus anak itu udah berkurang. Setelah ini, kamu bisa fokus buat persiapan nikah sama Barata,” kata Kalyani enteng. Wening membuang napas kasar mendengar ucapan wanita itu. Ia menatap Kalyani dengan tatapan tidak suka yang sudah tidak ia sembunyikan lagi sejak lama. "Aku ngenalin Bumi ke Banyu bukan supaya aku bisa bebas buat nikah sama Barata, Ma. Bumi punya hak buat kenal bapaknya, dan Banyu juga berhak tahu kalau dia punya anak. Itu aja,” sahut Wening mantap. Kalyani berdiri, wajahnya mulai tampak kesal usai mendengar sanggahan dari putri tirinya. "Terus kalau kamu nggak mau sama Barata, gimana cara kamu nyelametin usaha kita? Kamu tahu, kan, kalau kita butuh modal dari dia biar perusahaan keluarga nggak makin hancur?" Wening mendengkus. Ia teringat bagaimana lima tahun lalu ia dipaksa pergi dari sisi Banyu karena alasan yang sama. "Aku bakal cari jalan lain, Ma. Aku bakal usaha sendiri buat beresin masalah usaha itu. Yang jelas, caranya bukan dengan nyerahin diri aku ke Barata. Aku bukan barang yang bisa Mama tuker tambah buat modal bisnis,” jawab Wening tegas. Untuk keduanya kalinya, ia menolak dijadikan objek untuk ditukar dengan uang. Ia akan terus berusaha sama seperti sebelumnya. Namun tidak dengan menikah dengan pria berperangai buruk seperti Barata. Wening memilih berlalu menuju ke kamarnya dan tidak melanjutkan ocehan Kalyani yang sembarangan. “Dasar anak nggak tau diri. Udah bener ada yang masih mau walaupun udah bolong. Masih aja sok jual mahal,” umpat Kalyani kesal. Sementara itu di motornya, Banyu membonceng Bumi dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan ia berpikir, bagaimana jika Bumi tinggal di asrama bengkel. Jelas itu bukan keputusan tepat. Di sana kotor dan sempit. Bumi pasti terbiasa tinggal di rumah Wening yang bersih dan luas. Lantas, bagaimana solusinya? Setelah berpikir beberapa menit, Banyu akhirnya membelokkan kendaraan roda dua itu setelah melewati lampu merah. Motor yang ia kendarai memasuki sebuah kompleks perumahan yang tidak terlalu ramai. Lalu berhenti tepat di rumah dengan cat pagar berwarna putih dengan deretan pintu-pintu dengan warna senada yang berjajar. Ia membantu Bumi turun, lalu melepas helmnya perlahan. “Ini rumah Papa?” tanya bocah itu polos. Banyu menatap nanar deretan pintu yang berjajar rapi di balik pagar putih itu. Pikirannya masih berputar pada asrama bengkel yang kotor dan sempit, tempat yang jelas bukan untuk bocah sekecil Bumi. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan polos sang putra. “Iya. Kita akan tinggal di sini,” jawab Banyu. Ia menuntun Bumi masuk ke area kompleks tersebut. Tak lama, seorang wanita paruh baya dengan langkah tergesa muncul dari salah satu sudut bangunan. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus rasa hormat yang dalam. "Mas Banyu? Ada yang bisa dibantu? Tumben Mas ke sini sore-sore," sapa Marini dengan nada bertanya-tanya. Banyu mengangguk singkat, matanya menyapu deretan pintu kontrakan itu dengan nanar. Ini memang yang terbaik daripada membawa Bumi ke asrama bengkel. "Bu Marini, apa ada kontrakan yang kosong? Satu saja, yang paling bersih kalau bisa,” katanya. Marini tampak bingung, tapi ia segera mengangguk patuh. "Ada, Mas. Di ujung sebelah kiri baru saja kosong kemarin. Mari, saya ambilkan kuncinya dulu,” ucap Marini. Wanita itu bergegas kembali membawa serenteng kunci dan membukakan pintu salah satu unit kontrakan. Banyu melangkah masuk, memindai ruangan yang meski sederhana, jauh lebih layak dibanding asrama bengkelnya. Ia menoleh pada Marini yang masih berdiri di ambang pintu. “Saya mau pakai unit ini. Nanti saya bayar di akhir bulan,” kata Banyu. “Iya, Mas.” Marini hendak pergi dari sana ketika Banyu kembali memanggilnya. “Iya, Mas?” “Tolong … jangan kasih tau siapa pun kalau aku ada di sini,” kata Banyu lirih. Marini hanya mengangguk patuh, meski matanya tak lepas dari sosok Bumi yang kini mulai penasaran menjelajahi isi ruangan. "Baik, Mas Banyu. Saya permisi.” Banyu hanya mengangguk. Lalu membiarkan Marini berlalu. Sementara itu, di seberang jalan kompleks perumahan, sebuah mobil berwarna gelap terparkir diam dengan mesin yang masih menyala. Di balik kemudi, seorang pria dengan kacamata hitam terus memperhatikan gerak-gerik Banyu dari kejauhan. Ia meraih ponselnya, menekan satu nomor cepat, dan berbicara dengan suara yang sangat rendah. “Pak, Mas Banyu dan anak itu ada di kontrakan Bu Marini,” katanya pada seseorang di seberang telepon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD