2 | Ikatan Darah

1357 Words
“Sampelnya sudah diambil. Kalau hasilnya sudah keluar, kita akan hubungi Bapak,” kata perawat pada Banyu yang berdiri di hadapannya. “Baik, Sus. Terima kasih.” Banyu tersenyum kecil, lalu membalik badan. Di samping kursi tunggu, Wening bersedekap dan menatapnya dengan nyalang. Setelah perdebatan di bengkel tadi, mereka sepakat untuk melakukan tes DNA sesuai dengan permintaan Banyu. Walaupun sebenarnya, jika dilihat dari bentuk wajah saja semua orang juga pasti yakin jika Bumi adalah anak kandungnya. Pria itu menghampiri sang mantan kekasih, lalu membuang napas dengan kasar tepat setelah jarak mereka tinggal sejengkal. “Mereka bakal kasih tau kalau hasilnya udah keluar,” katanya. Wening mengangguk lemah, lalu menunduk melihat Bumi yang duduk dengan mainan di tangannya. “Ayo, Sayang. Kita pulang.” Wening baru saja hendak meraih jemari mungil Bumi, ketika bocah itu dengan tangkas menghindar. Alih-alih menyambut uluran tangan sang mama, Bumi justru menghambur ke arah Banyu. Ia memeluk kaki jenjang pria itu dengan begitu erat, menyembunyikan wajahnya di balik paha Banyu yang terbalut celana jin tebal. "Nggak mau! Bumi mau ikut Papa!" seru bocah itu, suaranya teredam kain celana Banyu, tapi terdengar sangat mutlak. Banyu tersentak. Tangannya yang besar menggantung kikuk di udara, ragu apakah harus mengusap punggung bocah itu atau justru menjauhkannya. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya saat merasakan pelukan kecil itu. Namun logikanya masih berteriak protes. Ia masih belum yakin 100 persen, meski debar jantungnya seolah sudah memberikan jawaban lebih dulu. "Eh, Bumi." Banyu berdeham, mencoba mengatur suaranya yang mendadak canggung. "Om … maksud Papa ... Papa masih harus kerja. Nanti nggak ada yang jagain Bumi di bengkel.” "Nggak apa-apa! Bumi mau bantu Papa benerin mobil!" Bumi mendongak, matanya yang sipit kini berkaca-kaca, menunjukkan ketakutan yang nyata akan kehilangan sosok yang baru saja ia temukan. Wening menghela napas panjang, ada gurat kelelahan sekaligus perih yang terpancar dari wajah ayunya. Melihat bagaimana darah dagingnya begitu mendambakan sosok ayah, hatinya seperti diremas. Ia berlutut di depan Bumi, mencoba membujuk dengan suara selembut mungkin. "Sayang, lihat Mama," ujar Wening pelan. Ia menyentuh bahu Bumi, memaksa bocah itu menatapnya. "Papa … harus istirahat. Kan, tadi sudah diambil darahnya, pasti capek. Kita pulang dulu, ya?" Bumi menggeleng keras, genggamannya pada celana Banyu justru semakin mengencang. "Nanti Papa hilang lagi," katanya cemas. Kalimat sederhana itu menghantam ulu hati Banyu. Pria itu terpaku, menatap puncak kepala Bumi dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melirik Wening, yang kini juga sedang menatapnya dengan mata yang mulai basah. "Bumi, dengar Mama!” Wening menguatkan suaranya, meski bergetar. "Mama janji, sepekan lagi, kita ketemu Papa lagi. Ya? Hanya sepekan, Mama janji." Banyu berdeham, mencoba mengusir sesak yang tiba-tiba mampir di tenggorokannya. Ia akhirnya memberanikan diri, menurunkan tangannya dan mengusap pelan rambut Bumi. "Iya, sepekan lagi. Papa nggak akan ke mana-mana. Papa ... ada di bengkel terus," ucap Banyu lirih, memberikan janji yang sebenarnya juga ia tujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bumi akhirnya mengangguk. Walaupun wajahnya masih cemberut, tapi ia percaya, sang papa akan menepati janjinya. Sebelum benar-benar berlalu, ia memeluk Banyu dengan erat. “Bumi pulang, ya, Pa,” bisiknya. Banyu hanya bisa mengangguk lemah. Tak tahu harus senang atau sedih karena ternyata rasa sayang itu tumbuh dengan cepat di hatinya pada bocah kecil bernama Bumi Narendra. *** “Nyu, asli deh. Lu mau tes DNA ampe ke ujung dunia juga percuma,” cetus Lakes sambil melempar satu botol ke arah Banyu. Banyu menangkapnya dengan satu tangan, lalu mendengkus. “Maksud lu?” “Ya ampun, lu nggak ngaca apa tadi pas berdiri di samping itu bocah? Muka lu sama Bumi itu udah kayak fotokopian, Nyu! Cuma beda ukuran doang. Lu versi heavy duty, dia versi compact. Garis rahangnya, tatapan matanya ... identik!” Lakes tertawa puas usai mengatakan hal itu pada sang rekan. Banyu terdiam. Ia menatap langit-langit asrama yang mengelupas. Bayangan tangan mungil Bumi yang mencengkeram celananya tadi kembali melintas. Ada rasa hangat yang aneh, tapi sekaligus mencekam. “Gue nggak tau harus gimana, Kes, kalau sepekan lagi itu hasil tesnya beneran positif,” gumam Banyu pelan. Suaranya berat, sarat akan beban yang mendadak menghimpit pundaknya setelah kedatangan Wening dan Bumi. “Artinya gue beneran bapaknya, kan?” katanya lagi. Lakes menyesap minumannya, lalu menatap Banyu dengan tatapan penuh selidik yang jenaka. Ia menyenggol kaki Banyu dengan ujung sepatunya. “Eh, Nyu. Sekarang gue tanya serius. Dulu ... pas lu masih sama si Wening itu, lu ada bikin nggak sama dia?” Lakes menggerakkan alisnya naik-turun, menggoda habis-habisan. “Kalau emang lu ngerasa pernah nanem saham di sana, ya, udah ... nggak usah ngelak lagi. Hasilnya, ya, si Bumi itu,” katanya. Wajah Banyu seketika memanas. Ia meraih bantal kusam di sampingnya dan melemparnya tepat ke wajah Lakes yang menyebalkan itu. “b*****t lu, Kes! Gue lagi pusing, malah lu bercandain begitu,” umpatnya kesal. Lakes terpingkal-pingkal, berhasil menghindar dari lemparan bantal sang rekan. “Lah, kan gue nanya fakta! Kalau emang lu pernah ‘gas pol’ sama dia, ya, wajar kalau sekarang ada hasilnya. Terima nasib aja, Papa Banyu!” “Tapi dulu katanya Wening nikah sama cowok pilihan ortunya. Ya, masak, nikah sama orang lain, anaknya ngaku anak gue.” Kali ini, Lakes mendadak serius. Ia menegakkan punggungnya, lalu mulai bereaksi. “Lu yakin dia nikah? Emang lu datang ke nikahan dia?” tanya Lakes. Banyu menggeleng. Jangankan datang, dengar kabar Wening tunangan saja dia dulu sudah kacau. “Nah, kalau nggak liat sendiri, ya, nggak usah seyakin itu. Lagian dia yang ngandung tu bocah. Masak iya, salah ngenalin yang nanem benih,” sergah Lakes. Banyu hanya bisa membuang diam. Ia mencoba meredam detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Di satu sisi ia ingin marah, tapi di sisi lain, ia tahu Lakes benar. Ingatannya tentang Wening lima tahun lalu adalah kenangan paling indah sekaligus paling rapi yang ia simpan, dan kini ... kenangan itu mewujud dalam sosok bocah kecil bernama Bumi. Apa ia harus memungkirinya? *** Banyu duduk rapi di kursi ruang tunggu rumah sakit. Kali ini, ia memakai kemeja putih yang rapi. Lengannya yang kekar tercetak jelas di balik pakaian itu. Sementara celana jin yang melekat di kakinya menambah kesan maskulin yang biasanya ia sembunyikan di balik pakaian kerja penuh oli. Tak lama kemudian, derap langkah kecil terdengar menghentak lantai marmer. Banyu menoleh. Dari arah lorong, Bumi berlari kecil usai melihat Banyu duduk di sana. Bocah itu melepas pegangan tangan sang mama begitu jaraknya dengan papanya sudah dekat. “Papa,” sapanya riang seraya memeluk Banyu. “Hai … jagoan.” Banyu menyambut pelukan itu dengan gerakan yang jauh lebih luwes dibanding pekan lalu. Tangannya yang besar kini mendekap punggung kecil Bumi dengan erat. Wening berdiri beberapa langkah di belakang anaknya. Ia tampak sedikit berbeda hari ini. Ada gurat kecemasan yang coba ditutupi dengan polesan riasan tipis. Matanya bertemu dengan mata Banyu. Hanya sekejap, tapi mampu meruntuhkan keangkuhannya pada pertemuan sebelum ini. “Hasilnya sudah bisa diambil,” ujar Wening lirih. Banyu mengangguk. Ia melepaskan pelukan Bumi pelan-pelan, lalu menggandeng tangan kecil itu menuju ruangan dokter. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih itu, seorang pria paruh baya berkacamata menyambut mereka dengan sebuah amplop cokelat tersegel di atas meja. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Banyu bisa merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia melirik Wening yang meremas tali tasnya kuat-kuat. Setelah penjelasan singkat mengenai parameter genetika yang rumit, sang dokter mengangsurkan selembar kertas hasil laboratorium tersebut. Banyu menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Matanya langsung melompat ke bagian paling bawah, mencari kesimpulan di antara angka-angka persentase yang membingungkan. Di sana, tertulis dengan cetak tebal: Probabilitas Paternitas: 99,99% Banyu menarik napas panjang, oksigen terasa memenuhi paru-parunya dengan cara yang berbeda. Ia menatap angka itu lama sekali, memastikan bahwa ia tidak salah baca. Itu adalah vonis sekaligus anugerah yang merobek seluruh keraguannya. Ia menurunkan kertas itu, lalu menoleh ke samping. Bumi sedang asyik memainkan kancing kemeja putih Banyu, sama sekali tidak sadar bahwa hidup pria di sampingnya baru saja berubah total. Banyu menatap Wening yang kini mematung menunggu reaksinya. Pria itu perlahan berjongkok. Ia menatap lekat-lekat mata sipit bocah itu. Mata yang kini ia sadari sepenuhnya adalah warisan darinya. Dengan suara yang tidak lagi parau, Banyu berbicara pada dirinya sendiri sekaligus pada Wening. “Dia bener anakku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD