“Dasar bodoh! Apa perlu seorang ayah memberi alasan untuk mengunjungi anaknya?”
Suara Bhaga menggelegar, memecah kesunyian pagi di halaman kontrakan itu. Nada bicaranya masih sama, tegas, otoriter, dan tak terbantahkan. Namun, di balik barisan kata yang kasar itu, ada getaran yang disembunyikan rapat-rapat. Ada sepasang mata yang sebenarnya sudah lama meredup karena rindu, kini berkilat menahan haru yang nyaris pecah.
Banyu terpaku. Ia masih berdiri melindungi Bumi, tapi tubuhnya mendadak kaku. Lidahnya kelu. Ia sudah menyiapkan ribuan kata penolakan jika suatu saat pria ini muncul, tapi melihat sosok ayahnya yang kini tampak lebih tua dengan gurat-gurat usia yang lebih dalam, semua amunisi di kepalanya mendadak lenyap.
Banyu mengira hubungan mereka sudah berakhir di malam ketika ia keluar dari rumah itu. Ia mengira Bhaga, sang jenderal yang memuja kehormatan dan kedisiplinan prajurit, telah menghapus namanya dari silsilah keluarga sejak ia memilih untuk berkutat dengan oli dan mesin daripada memegang senjata.
Ternyata ia salah.
Bhaga melangkah maju. Sepatu pantofelnya yang mengkilap kini terpaksa bersentuhan dengan tanah becek dan genangan air sisa hujan semalam. Ia mengabaikan noda yang mengotori alas kakinya. Fokusnya kini hanya satu. Sosok mungil yang sedang mengintip malu-malu dari balik punggung Banyu.
“Papa tahu kamu keras kepala, Nyu. Tapi Papa nggak sangka kamu akan menyembunyikan hal sebesar ini,” ujar Bhaga lagi.
Kali ini suaranya sedikit melunak, meski wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesal yang dipaksakan.
Banyu menarik napas panjang, mencoba menguasai debar jantungnya sebelum akhirnya membuka suara.
“Aku nggak menyembunyikan apa pun. Aku sendiri baru tahu, Pa. Dan aku pikir ... Papa sudah nggak peduli lagi dengan apa pun yang terjadi di hidupku,” kata Banyu lirih.
Bhaga mendengkus, sebuah tawa hambar yang lebih terdengar seperti keluhan. Ia berhenti tepat di depan Banyu, lalu pandangannya turun ke arah Bumi. Tatapan tajam yang biasanya mampu membuat anak buahnya gemetar, kini berubah menjadi sorot mata yang hangat dan penuh kerinduan.
“Aku datang bukan untuk berdebat soal pilihan hidupmu,” cetus Bhaga sambil melirik bengkel kecil di kejauhan. “Aku ke sini karena aku juga mau ketemu sama cucuku.”
Banyu tersentak. Kepalanya sedikit mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. Namun, sedetik kemudian, ia tersenyum getir. Tentu saja. Bagaimana mungkin ia lupa siapa ayahnya? Bhaga adalah pria dengan ribuan mata dan telinga. Baginya, mencari tahu tentang seorang wanita bernama Wening dan seorang anak bernama Bumi bukanlah hal sulit. Sandyo dan jaringan intelijen kecil milik ayahnya pasti sudah bekerja lembur sejak berita ini tercium.
“Papa tahu segalanya, kan? Nggak ada yang bisa lepas dari pengawasan Jenderal Bhaga,” sindir Banyu, tapi kali ini tanpa nada permusuhan yang berarti. Ada rasa lelah yang tulus dalam suaranya.
Bhaga tidak menjawab sindiran itu. Ia justru berlutut, mengabaikan rasa nyeri di persendian kakinya yang mulai dimakan usia. Ia mensejajarkan tingginya dengan Bumi yang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar.
“Siapa, Pa?” tanya Bumi polos. Tangan kecilnya mencengkeram erat jaket Banyu.
Banyu merasakan tenggorokannya tercekat. Ia melirik ayahnya yang kini sedang menatap Bumi dengan binar yang belum pernah Banyu lihat seumur hidupnya. Bhaga, pria yang jarang tersenyum itu, kini tampak sedang menahan napas agar tidak menakuti bocah di hadapannya.
“Bumi.” Banyu berdeham, mencoba mengusir sesak.
“Ini ... ini Opa. Ayahnya Papa.”
Bumi berkedip. “Opa? Papa punya Papa juga?” katanya polos.
Bhaga tidak tahan lagi. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangannya yang besar, tangan yang dulu sering menampar meja saat mendisiplinkan Banyu, kini bergerak dengan sangat hati-hati untuk menyentuh pipi Bumi.
“Iya, Jagoan. Ini Opa. Kamu ... mirip sekali dengan Papamu saat kecil. Sama-sama punya mata yang menantang,” bisik Bhaga lirih.
Banyu mematung melihat pemandangan di depannya. Ada sesuatu yang luluh di dalam dadanya. Selama lima tahun ia membangun tembok kebencian yang tinggi, meyakini bahwa ia tidak butuh sosok ayah yang mengekangnya. Namun, melihat Bhaga memperlakukan Bumi dengan kelembutan yang dulu jarang ia dapatkan, Banyu menyadari bahwa ayahnya hanyalah seorang manusia biasa yang juga bisa merindu.
Bhaga berdiri kembali, menatap Banyu dengan tatapan yang kini lebih manusiawi Tidak ada lagi perintah, yang ada hanya ada dua orang pria yang terikat oleh darah yang sama.
“Jangan terlambat mengantarnya sekolah,” ujar Bhaga singkat, kembali ke nada bicaranya yang kaku untuk menutupi kecanggungan emosionalnya.
“Setelah ini, kita perlu bicara, ini soal masa depan cucuku.”
Bhaga merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi mainan miniatur mobil yang tampak sangat mahal dan detail. Ia memberikannya pada Bumi, yang langsung disambut dengan pekikan senang.
“Papa tunggu di mobil sampai kamu balik dari sekolah. Jangan coba-coba kabur, Nyu. Kamu tahu Papa bisa menemukanmu di lubang tikus sekalipun,” ancam Bhaga, tapi kali ini ada nada gurauan yang terselip di sana.
Banyu hanya bisa mengangguk pasrah. Ia membantu Bumi naik kembali ke motor. Kali ini perasaannya jauh lebih ringan. Ia tak tahu jika kehadiran Bumi benar-benar membawa pengaruh besar dalam hidupnya.
Saat Banyu menyalakan mesin motornya, ia sempat melirik kaca spion. Bhaga masih berdiri di sana, menatap punggung mereka dengan tangan bersedekap, persis seperti seorang penjaga yang tidak akan membiarkan apa pun menyakiti harta berharganya.
***
Usai mengantar Bumi, Banyu menemui Papanya yang ternyata benar-benar menunggu di depan kontrakannya. Pada sebuah bangku kayu di bawah pohon Ketapang, keduanya duduk bersisihan sebagai dua pria yang sama-sama memiliki ego yang terpendam.
“Anak itu pintar. Dia punya sorot mata yang jujur,” Bhaga membuka suara tanpa menoleh.
“Tapi ada yang kurang, Nyu. Kenapa cuma Bumi yang ada di sini? Kenapa Wening nggak di sini juga?” imbuhnya.
Banyu mendengkus hambar, senyum getir tersungging di bibirnya, lalu menjawab.
“Wening sudah punya dunianya sendiri, Pa. Dia udah punya calon suami,” jawab Banyu lirih.
Mendengar itu, Bhaga menoleh cepat. Alisnya yang tebal bertaut, menciptakan kerutan dalam di keningnya. Wajahnya yang semula tenang mendadak mengeras oleh rasa kesal yang tak disembunyikan.
“Calon suami? Dan kamu diam saja?” cecar Bhaga, suaranya naik satu oktaf. “Kamu mau melepaskan dia lagi setelah apa yang terjadi? Kamu pikir wanita seperti Wening itu bisa ditemukan di setiap tikungan jalan, hah?”
“Dia yang milih, Pa. Aku bisa apa?” jawab Banyu dengan nada yang berusaha ia buat sedatar mungkin, walaupun dadanya kembali terasa sesak.
Bhaga memutar tubuhnya, menghadap penuh ke arah putra tunggalnya. Ia menatap Banyu dengan tatapan menghakimi yang sangat tajam.
“Kamu itu bodoh atau memang terlalu sombong untuk cari tahu? Wening itu merawat Bumi sendirian. Dia menanggung beban hamil sampai membesarkan bocah itu tanpa ada laki-laki di sampingnya. Lima tahun dia berjuang sendirian, dan sekarang kamu tega membiarkan dia ditukar lagi hanya demi modal usaha?” jelas Bhaga.
Banyu terhenyak. Ia mengerutkan kening, menatap ayahnya dengan rasa bingung yang nyata.
“Ditukar? Apa maksud Papa?”
Bhaga menghela napas panjang, lalu kembali menatap Banyu dengan nada bicara yang kini lebih serius.
“Sandyo sudah kumpulkan semua laporan. Usaha keluarga Wening itu sedang di ujung tanduk, Nyu. Mereka hampir bangkrut total karena dikhianati rekan bisnisnya sendiri. Utang mereka menumpuk di mana-mana,” jelas Bhaga dengan suara rendah.
Banyu terpaku, memori semalam saat Wening mendorong tubuhnya dengan alasan ingin pulang kembali berputar. Ia ingat sorot mata Wening yang sedih namun keras kepala.
“Barata itu bukan datang karena cinta, Nyu. Dia datang membawa tawaran suntikan modal besar untuk menyelamatkan bisnis keluarga Wening. Syaratnya cuma satu, Wening harus jadi istrinya. Itu bukan pernikahan, itu transaksi,” lanjut Bhaga, matanya menyipit penuh rasa jijik pada skema tersebut. “Jadi, kalau kamu cuma diam dan merasa tertolak karena gengsimu, kamu membiarkan ibu dari anakmu menjual dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarganya. Apa itu yang kamu mau?”
Darah Banyu terasa mendidih. Rasa panas menjalar dari ulu hati hingga ke wajahnya. Penolakan Wening semalam dan kata-kata dinginnya ... semuanya mendadak memiliki makna baru. Wening bukan tidak mencintainya, tapi Wening sedang berusaha melindunginya dari kehancuran yang sedang ia hadapi.
“Wening nggak pernah bilang soal ini,” bisik Banyu parau. Kepalanya terasa pening membayangkan beban yang dipikul wanita itu sendirian.
“Karena dia tahu kamu nekat. Dia tahu kalau kamu tahu, kamu pasti akan melakukan hal gila untuk bantu dia, sementara di matanya, kamu cuma seorang montir yang mungkin nggak punya cukup kekuatan untuk melawan Barata,” sahut Bhaga cepat.
Pria itu menepuk bahu Banyu dengan tangan tuanya yang masih terasa sangat kuat walaupun ia sudah mulai renta.
“Sekarang pilihannya ada di kamu. Apa kamu mau tetap jadi montir yang cuma bisa meratapi nasib di bawah pohon ini, atau kamu mau berdiri dan ambil kembali apa yang seharusnya jadi milikmu? Papa nggak akan bantu kalau kamu nggak minta, tapi ingat satu hal, cucuku nggak boleh punya ayah yang pengecut,” jelas Bhaga.
Banyu terdiam, menatap telapak tangannya yang kasar. Bayangan Wening yang menangis sendirian menghadapi Barata membuat rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Gengsi dan keraguan yang menghimpitnya sejak semalam kini luruh, digantikan oleh satu tekad yang bulat.
Ia tidak akan membiarkan Wening berjuang sendirian lagi. Tidak untuk kedua kalinya. Kali ini, dia harus berani mengambil keputusan tepat.
“Aku mau bantu Wening, Pa,” kata Banyu mantap.
Bhaga mengangguk lemah. Lalu menatap sang putra dengan saksama. Ia tahu, Banyu tak akan tinggal diam ketika orang yang dia sayang menderita.
“Ikut Papa!” titah Bhaga kemudian.