8 | Reuni Sentuhan Mantan

1708 Words
Suara hujan yang menghantam atap kontrakan mendadak berubah menjadi latar musik yang meredam segalanya. Menyisakan ruang hampa di antara Banyu dan Wening yang kini benar-benar melebur. Jarak tipis yang tadi memisahkan mereka musnah, berganti dengan pagutan yang sarat akan dahaga rindu selama lima tahun. Banyu mencium Wening dengan cara yang menyakitkan sekaligus memuja. Ada kemarahan yang ia tumpahkan di sana, tapi lebih banyak lagi rasa cinta yang tak pernah benar-benar mati meski ia mencoba membunuhnya setiap hari di bengkel yang bising. Wening, yang semula mematung dengan sisa-sisa gengsi yang rapuh, perlahan kehilangan kekuatannya. Tangannya yang tadi meremas lengan gaunnya sendiri kini bergerak tanpa sadar. Mencengkeram kaus hitam Banyu yang terasa hangat. Ia membalas ciuman itu dengan isakan halus yang tertahan di tenggorokan. Sebuah pengakuan tanpa kata bahwa selama ini ia juga merana dalam sepi yang sama. Di ruangan sempit beraroma sisa hujan itu, mereka bukan lagi montir dekil dan wanita kelas atas. Mereka hanyalah dua jiwa yang sedang berusaha menyatukan kembali kepingan masa lalu yang pecah berantakan. Lama mereka terjebak dalam pusaran emosi itu hingga pasokan oksigen di paru-paru menipis. Banyu perlahan melepaskan tautan bibir mereka, napasnya memburu, berat, dan tidak beraturan. Ia tidak menjauh, tapi justru menempelkan keningnya pada kening Wening, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan dalam keintiman yang menyesakkan. Keduanya terengah, mendengarkan detak jantung masing-masing yang berdebar kencang seirama dengan rintik hujan yang mulai mereda di luar. Dalam remang lampu kontrakan yang kuning temaram, Wening perlahan membuka mata. Kesadarannya kembali menghantam seperti air es yang tumpah ke sekujur tubuh. Ia menatap wajah Banyu yang begitu dekat. Wajah yang masih menampilkan sisa-sisa gairah dan kerinduan yang dalam. Rasa bersalah tiba-tiba menyergapnya. Ia teringat pada tumpukan utang perusahaan keluarganya, pada ancaman Barata yang bisa menghancurkan sisa-sisa kejayaan orang tuanya, dan pada kenyataan bahwa ia membawa beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh pria sesederhana Banyu. "Nyu…." Suara Wening terdengar sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin. "Harusnya ... kita nggak kayak gini." Banyu tidak menjauhkan keningnya. Ia justru memejamkan mata, menikmati sisa-sisa kehangatan napas Wening di kulitnya. Suaranya terdengar parau saat ia menyahut. "Terus aku harus gimana, Wen? Harus pura-pura nggak kenal kamu? Harus pura-pura nggak tahu kalau Bumi itu anakku? Atau harus diam saja saat melihat kamu disentuh pria lain?" tanya Banyu tak kalah lirih. Wening terdiam, lidahnya kelu. Ia ingin berteriak bahwa ia masih sangat mencintai Banyu, bahwa setiap malam ia memeluk bantal sambil membayangkan aroma tubuh pria itu. Namun, ia tidak bisa. Ia tahu watak Banyu. Jika pria itu tahu bahwa Wening sedang dikejar-kejar utang usaha dan dipaksa menikah dengan Barata demi suntikan modal, Banyu pasti akan melakukan hal nekat. Banyu akan melakukan apa pun. Wening tidak mau itu terjadi. Ia tidak mau menyeret Banyu ke dalam lumpur masalah finansial yang sedang menenggelamkan keluarganya. Bagi Wening, cukup Banyu tahu soal Bumi. Cukup Banyu menjadi ayah yang baik untuk putra mereka. Ia tidak ingin menjadi beban bagi kehidupan baru Banyu yang sudah tenang di bengkel sebagai montir. Dengan sisa kekuatan yang ada, Wening meletakkan telapak tangannya di d**a bidang Banyu. Ia mendorong tubuh pria itu pelan, sebuah penolakan halus yang terasa begitu menyakitkan bagi keduanya. Banyu tersentak, ia mundur sejenak, memberikan ruang yang kini terasa seperti jurang pemisah yang lebar. "Aku harus pulang," kata Wening dengan nada yang dipaksakan untuk kembali dingin, meski matanya masih merah dan sembab. "Hujannya udah agak reda. Aku nggak bisa lama-lama di sini, Nyu. Nggak baik." Banyu tidak menjawab. Ia hanya mematung, menatap Wening yang kini sibuk merapikan tatanan rambutnya dan membetulkan posisi tasnya dengan tangan yang masih gemetar. Keheningan yang jatuh di antara mereka terasa jauh lebih dingin daripada udara malam di luar. Wening melangkah menuju pintu, tapi langkahnya terhenti saat merasakan jemari kasar Banyu meraih pergelangan tangannya. Tidak ada tarikan kasar, hanya sebuah pegangan yang seolah sedang memohon agar waktu berhenti sejenak di sini. Banyu menatap punggung Wening dengan pandangan yang hancur. Ingatan tentang Barata tiba-tiba melintas di kepala Banyu. Pria berjas mewah dengan sedan mengkilap yang mengaku sebagai calon suami Wening. Banyu menarik napas panjang, sebuah kesimpulan pahit mulai terbentuk di benaknya. Ia berpikir, penolakan Wening barusan adalah karena wanita itu benar-benar sudah memilih jalannya sendiri. Ia berpikir, kemewahan yang ditawarkan Barata adalah sesuatu yang memang diinginkan Wening. "Apa karena dia?" tanya Banyu lirih, suaranya mengandung keputusasaan yang nyata. "Apa kamu nolak aku karena kamu beneran mau nikah sama Barata?” Wening mematung di ambang pintu. Ia ingin berbalik dan memeluk Banyu, menjelaskan bahwa Barata adalah racun, bukan pilihan. Namun, ia justru mengeraskan hatinya. Jika dengan membenci dirinya bisa membuat Banyu lebih mudah untuk melupakan, maka biarlah begitu. "Anggap aja begitu, Nyu," jawab Wening tanpa menoleh. Perlahan, Banyu melonggarkan genggamannya. Satu per satu jarinya terlepas dari pergelangan tangan Wening, seolah ia sedang melepaskan sisa-sisa harapannya yang terakhir. Ia merasa kerdil. Di matanya, ia hanya Banyu. Sementara Wening adalah permata yang hanya pantas bersanding dengan emas. "Ya sudah. Hati-hati di jalan," ucap Banyu singkat. Suaranya kini kembali datar, seolah-olah gairah dan kerinduan yang meledak beberapa menit lalu hanyalah halusinasi belaka. Wening tidak menjawab. Ia segera melangkah keluar, menembus sisa-sisa gerimis malam yang dingin. Suara mesin mobilnya yang menderu pelan di kejauhan menjadi tanda akhir dari pertemuan emosional mereka malam itu. Banyu berdiri di ambang pintu, menatap lampu belakang mobil Wening yang kian menjauh dan menghilang di belokan jalan. Ia kembali masuk ke dalam, menatap Bumi yang masih tertidur pulas, sama sekali tidak tahu bahwa ayah dan ibunya baru saja saling menghancurkan hati sekali lagi. Banyu duduk di tepi kasur lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di ruangan itu, aroma parfum Wening masih tertinggal, menjadi pengingat pedih bahwa meski raga mereka sempat bersatu, dunia mereka kini telah terpisah oleh kasta dan rahasia yang tak terucapkan. *** Pada sebuah ruang kerja yang didominasi furnitur kayu jati tua dan aroma cerutu yang mahal, Bhaga duduk tegak di balik meja besarnya. Pria paruh baya dengan garis wajah tegas dan aura otoriter yang masih melekat kuat itu menatap tumpukan dokumen yang baru saja diletakkan oleh Sandyo, ajudan setianya. Sandyo berdiri dengan sikap sempurna, tapi sorot matanya menunjukkan rasa hormat yang mendalam. Ia telah ajudan sang jendral cukup lama untuk tahu betapa hancurnya hubungan antara Bhaga dan putra tunggalnya, Banyu, sejak beberapa tahun lalu. “Semua informasi sudah ada di sana, Pak,” lapor Sandyo dengan suara bariton yang tenang. “Anak itu bernama Bumi. Usianya lima tahun. Hasil tes DNA yang dilakukan Mas Banyu di rumah sakit kemarin mengonfirmasi probabilitas 99,99 persen. Wening membesarkannya sendirian tanpa ikatan pernikahan dengan siapa pun hingga saat ini,” jelasnya. Bhaga terdiam. Jemarinya yang mulai berkerut perlahan membuka map cokelat itu. Matanya terpaku pada selembar foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi: foto Bumi yang sedang tertawa lebar ketika dibonceng motor Banyu. Jantung Bhaga berdegup dengan ritme yang tak biasa. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak anak satu-satunya itu memilih pergi dari rumah ini karena perbedaan prinsip yang tajam. “Mata itu ... rahang itu…,” gumam Bhaga lirih. Suaranya yang biasanya menggelegar kini terdengar parau. “Dia benar-benar mewarisi garis wajah keluarga kita. Jadi, dia beneran cucuku, San?” “Benar, Pak. Darah daging Mas Banyu.” Bhaga menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap langit-langit ruangan seolah sedang memutar kembali memori tentang Banyu kecil yang dulu juga keras kepala seperti dirinya. Penyesalan dan kebanggaan beradu menjadi satu di dalam benaknya. Selama lima tahun ia membiarkan egonya menang, membiarkan putranya hidup sebagai montir di bengkel kumuh hanya demi sebuah harga diri. Namun kini, kehadiran Bumi mengubah segalanya. Tiba-tiba, Bhaga berdiri dengan gerakan yang mantap. Ia merapikan kemejanya, mengabaikan tanda pangkat atau atribut kemiliteran yang biasanya ia banggakan. “Sandyo, siapkan mobil sekarang,” perintahnya tegas. Sandyo sedikit terkejut. “Perlu saya siapkan pengawalan protokol, Pak?” Bhaga menggeleng pelan. Ia menatap foto Bumi sekali lagi, lalu menyimpannya di saku kemejanya, tepat di atas jantung. “Nggak perlu. Lepas semua atribut itu. Aku mau datang ke sana bukan sebagai jenderal yang memerintah bawahannya. Aku mau datang sebagai seorang ayah yang ingin menjemput anaknya ... dan sebagai kakek yang ingin memeluk cucunya,” katanya. Sandyo mengangguk patuh, ada secercah kelegaan di wajahnya. Ia segera melangkah keluar untuk menyiapkan mobil. Sementara Bhaga berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia tahu, menghadapi Banyu tidak akan semudah memenangkan pertempuran di medan perang. Putranya adalah cerminan dirinya yang keras, teguh, dan tak mudah memaafkan. “Aku akan lihat cucuku,” bisik Bhaga pada keheningan ruangan. Mobil sedan hitam itu kemudian meluncur keluar dari gerbang kediaman mewah keluarga Bhaga, menuju ke sebuah sudut kota yang tenang di mana Banyu dan Bumi berada. *** Pagi itu, udara sisa hujan semalam masih terasa lembap dan dingin. Banyu baru saja mengeluarkan motornya dari teras kontrakan yang sempit. Di atas tangki motor, Bumi sudah duduk manis dengan tas pahlawan supernya, siap untuk pamer lagi di sekolah. Banyu sedang memakaikan helm kecil ke kepala putranya saat sebuah mobil sedan hitam mewah, berhenti tepat di depan gerbang kontrakannya. Banyu mematung. Ia mengenali plat nomor itu. Ia mengenali sorot lampu mobil yang selalu melambangkan otoritas dan kekakuan yang selama lima tahun ini ia hindari. Pintu belakang terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih tapi memiliki sorotan mata setajam elang. Bhaga turun dari mobil, kali ini tanpa seragam kebesarannya, hanya mengenakan kemeja batik yang rapi namun tetap memancarkan aura yang mengintimidasi. Langkah kaki Bhaga yang mantap di atas tanah becek kontrakan itu membuat suasana mendadak senyap. Tatapan pria tua itu tidak langsung tertuju pada Banyu, melainkan jatuh pada sosok bocah kecil yang duduk di atas motor. Ada kilat emosi yang bergetar di mata sang jenderal saat melihat replika kecil putranya sedang menatapnya dengan polos. Banyu segera melangkah maju, menghalangi pandangan ayahnya dari Bumi. Ia berdiri tegap, melindungi putranya dengan tubuh kekarnya yang masih mengenakan jaket denim pudar. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal di sisi tubuh. Segala luka pengusiran lima tahun lalu mendadak berdenyut kembali di dadanya. "Papa?" gumam Banyu pelan, hampir tak percaya. Bhaga berhenti tepat tiga langkah di depan Banyu. Keheningan yang mencekam menyelimuti halaman kontrakan itu, hanya interupsi suara kicau burung pagi yang terdengar canggung. Banyu menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan tatapan penuh selidik dan pertahanan. “Mau apa Papa ke sini?” tanya Banyu dengan suara dingin yang menusuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD