PDD 03.

1297 Words
Sofia meremas bahu pria itu kala sang pria dewasa memperdalam ciumannya. Memaksa Sofia untuk menyambut, dan membalas dengan gairah yang sama besar. Keduanya menikmati tarian bibir mereka. Saling memagut, saling membalas dengan sama panasnya. Tak lagi mereka hiraukan keadaan di sekeliling Sesekali suara desahan lolos dari bibir sang gadis. Untuk pertama kalinya, Sofia merasakan sensasi yang tak terkatakan. Bulu kuduknya meremang. Seluruh tubuh nyaris bergetar. Aliran darahnya terasa begitu cepat. Dia belum pernah merasakan ciuman sedahsyat ini. Sofia menepuk-nepuk bahu sang pria dewasa hingga akhirnya pria itu melepaskan bibirnya. Sofia terengah. Gadis itu kehabisan napas. “Kenapa? Sudah puas?” tanya pria itu. Sofia tidak langsung menjawab. Gadis itu masih sibuk mengatur napas, untuk mendapatkan ritme gerak jantung yang normal. D*da Sofia bergerak turun naik dengan cepat. “Eh … tu-tunggu.” Sofia mencoba meraih tangan pria yang kini sudah memutar tubuh, kemudian melangkah menjauh. Sang pria menoleh. “Aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan. Ciuman. Sekarang pulanglah.” “Heh … kok.” Sofia bergerak masih sambil mengatur napas. Berjalan dengan langkah yang sesekali goyah, menyusul pria tampan yang sudah berjalan meninggalkannya. “Tunggu,” pinta Sofia sambil mempercepat ayunan kakinya. “Siapa namamu? Boleh aku minta nomor ponselmu?” Sofia dengan terpaksa menghentikan ayunan kakinya saat merasakan kepalanya pusing. Gadis itu menekan-nekan kepalanya. Kenapa sekarang pusingnya? Sofia kembali melangkah, sambil mengedarkan pandangan mata mencari keberadaan si pria tampan. Sayangnya dia tidak bisa menemukan keberadaan pria misterius itu. **** Malam berikutnya …. Sofia menghempas tubuhnya ke atas ranjang. Menghentak napasnya menatap langit-langit kamar. Ia baru saja kembali dari club malam yang sama, yang ia datangi malam sebelumnya. Tangan kanannya terangkat, menyentuh bibirnya. Gadis yang baru saja berusia 21 tahun tersebut memasukkan sebanyak mungkin oksigen melalui celah mulut yang terbuka. Mengisi paru-paru yang mengempis seketika. Dia tidak menemukan pria itu di sana malam ini. Bulu kuduknya meremang hanya karena mengingat bagaimana ciuman panasnya dengan pria dewasa itu. Ah, sialnya dia tidak mengetahui siapa nama pria tampan yang membuat hatinya yang patah terobati. Mengingat sesuatu, Sofia memutar posisi berbaring hingga miring kemudian mengambil tas yang ia jatuhkan di samping ranjang. Ponselnya masih ada di dalam tas. Dengan tidak sabar Sofia mengeluarkan telepon genggamnya. Gadis itu mengembalikan posisi berbaring terlentang. Tangannya mulai bergerak menggulir layar ponsel. Untung saja dia cerdas, batin Sofia senang. Dia memang belum berhasil mendapatkan nama pria tampan itu, tapi, dia berhasil mendapatkan nomor ponselnya. Entah bagaimana juga bartender itu bisa memiliki nomor ponsel pria misterius itu. Lupakan, yang penting ia berhasil mendapatkan nomor ponselnya. Ah, sialnya si bartender merahasiakan nama pria itu. Gadis itu mulai sibuk. Jari-jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Tidak berapa lama satu pesan sudah ia kirim ke nomor pria asing itu. Ah, besok dia ingin bertemu dengannya lagi. Sofia cekikik an. Ternyata ia tidak salah mengambil keputusan. Pergi ke Bali untuk menyembuhkan hati yang dipatahkan oleh pacar dan sahabat sendiri. Mengingat hal itu, Sofia menekan-nekan katupan rahangnya. “Aku akan membalas kalian berdua. Akan kupastikan kamu menyesal, Gavin.” Apa bagusnya mantan pacarnya itu. Tampan? Hah, pria yang ditemuinya jauh lebih tampan dan juga matang. Kaya? Yang kaya itu orang tuanya, beda dengan pria asing itu. Pakaian, jam tangan, bahkan sepatu yang dipakai jelas bukan barang murahan dan sudah pasti ia membeli dengan uangnya sendiri. Belum lagi mata tajam dengan manik berwarna coklat itu. Oh, dia bukan orang Indonesia. . Umur? Dia tidak peduli. Untuk apa pacaran dengan yang sama-sama masih muda, tapi, bisanya hanya selingkuh. Justru dengan pria asing itu dia merasa nyaman. Merasa tenang. Astaga, apa yang otaknya pikirkan? Sofia memukul sendiri kepalanya. Mereka hanya berciuman, tidak lebih. Mereka juga tidak berpacaran. Otaknya berpikir terlalu jauh. Suara notifikasi pesan masuk terdengar, membuat Sofia buru-buru menggulir kembali layar ponselnya. Ia pikir pria asing itu membalas pesannya, ternyata bukan. Yang masuk justru pesan dari salah satu teman baiknya. Memberitahu jika dua cecurut penghianat itu sudah berani muncul berdua. Sialan, batin marah Sofia. Ia menutup kembali pesan tersebut. Tidak berniat untuk membalas. Sofia beralih pada room chat nya dengan si pria tampan asing. Mendengkus ketika melihat status pria itu sedang online. Kesal karena pesannya diabaikan, Sofia langsung menekan tombol panggil. Gadis itu membawa benda penghubungnya ke telinga kanan. Menggigit bibir bawah seraya menunggu orang yang dihubungi menerima panggilan darinya. Sudah jelas sedang online, tapi, orang itu tidak langsung menerima panggilan darinya. Tidak menyerah ketika nada panggil itu berhenti tanpa mendapat sambutan dari orang yang coba dihubungi, Sofia berusaha sekali lagi. Menekan tombol redial lalu menempelkan telepon genggam ke telinganya. Sofia geregetan mendengar nada panggil yang tak juga bersambut. Ia sudah hendak menyerah ketika akhirnya gendang telinganya menangkap suara bariton rendah yang menggetarkan hatinya. “Halo.” Ough … Sofia langsung tersenyum lebar sambil memegang d*da kirinya dengan tangan yang bebas. Merasakan seberapa keras benda pemompa darah di dalam sana berdegup untuk suara pria asing itu. “Halo.” “Oh … hai, ini aku … Sofia.” "Aku tidak mengenalmu." “Hei, kemarin malam kita berciuman. Kamu tidak boleh melupakan perempuan yang kamu cium begitu saja.” “Aku mencium banyak wanita.” Sepasang mata Sofia langsung terbelalak mendengar jawaban dari orang yang masih tersambung dengannya. Sofia menekan-nekan katupan rahangnya. Sofia mendengkus. “Tapi aku yakin hanya aku perawan yang pernah kamu cium,” yakin gadis itu. “Aku akan menunggumu di tempat kemarin.” “Aku tidak akan pergi ke sana.” “Pokoknya aku akan menunggumu di sana. Aku berangkat sekarang,” bohong Sofia yang sebenarnya masih bermalas-malasan di ranjang hotel yang ia sewa. “Sudah kukatakan aku tidak akan ke tempat itu malam ini.” Dallen Rei Felipe, pria yang sudah berusia 32 tahun tersebut menurunkan ponsel kemudian mematikan sambungan secara sepihak. Pria itu menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum memasukkan ke dalam saku jas bagian dalam. Dallen mengambil jam tangannya, berbalik–pria itu berjalan menuju pintu sambil melingkarkan jam ke pergelangan tangannya. Dia tidak berbohong ketika mengatakan tidak akan mendatangi klub malam. Dia ada janji dengan teman lamanya. Pria itu keluar dari dalam kamar hotel kemudian melanjutkan ayunan kaki menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat salah satu restoran hotel berada. Sementara itu Sofia yang kesal, langsung turun dari ranjang. Kalau kesal dia selalu lapar. Sofia menghentak keras napasnya. Mengambil tas, gadis yang sedang berlibur sendirian itu meremas ponsel di tangannya. Bagaimanapun caranya, dia akan mendapatkan pria itu, tekad Sofia. Sofia memakai sepatunya lalu buru-buru keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu berjalan cepat. Dia akan mencari makan lebih dulu sebelum mencari si pria tampan. Sofia berlari ketika melihat beberapa orang berjalan masuk ke dalam lift. “Terima kasih,” ujarnya setelah tiba di depan pintu lift yang sedang ditahan oleh seseorang. Sofia menarik langkah ke samping tatkala lift berhenti di lantai yang bukan tujuannya. Tiga kali pintu terbuka sebelum akhirnya lift berhenti di lantai yang ia tuju. Kaki gadis itu bergerak keluar dari dalam kotak besi. Membelokkan langkah ke kanan lalu masuk ke restoran yang sudah 3 kali ia sambangi. Sofia mengedarkan pandangan mata, mencari meja yang masih kosong. Gadis itu menghentikan ayunan kaki. Sepasang matanya menyipit. Apa dia tidak salah melihat? batinnya Kenapa dia melihat pria asing tampan itu di tempat ini? Apa dia sudah mabuk? Perasaan ia hanya minum sedikit. Sofia sampai mengucek matanya, khawatir dia hanya sedang berhalusinasi. Sepertinya pria itu sudah berhasil mengobrak-abrik isi hatinya yang sedang rapuh karena putus cinta. Mulutnya menganga ketika sosok itu masih ada di depan sana. Tidak berubah menjadi sosok lain. Sofia berdehem. Merapikan pakaian, lalu rambut yang tergerai, sebelum melanjutkan ayunan kakinya. Dengan penuh percaya diri, Sofia mendatangi meja yang dihuni oleh dua orang berbeda jenis. Sofia bisa melihat perhatian perempuan yang kebetulan duduk menghadap ke arahnya itu tertuju padanya. Sofia tersenyum. “Ternyata kamu sudah sampai, Sayang ….” Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Dallen mengernyit. Pria itu menoleh. 'Si perawan?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD