Dallen menatap bingung perempuan yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Lipatan di kening pria itu bertambah, seiring langkah anggun sang perawan mendekat.
“Wah … siapa perempuan ini, Sayang?”
Dallen hanya bisa terbelalak ketika perempuan yang masih jelas ia ingat bernama Sofia itu tiba-tiba duduk di pangkuannya dengan dua tangan melingkari lehernya. Dan perempuan gila ini hanya tersenyum saat ia mendelik.
“Kupikir kamu sedang tidak ingin berurusan dengan perempuan, Dallen.” Lalu yang terdengar setelah kalimat yang menegaskan siapa nama pria matang tampan tersebut adalah suara kekehan. Membuat Sofia sontak memutar kepala. Menatap wanita yang sedang tertawa itu dengan alis terangkat.
Ah, jadi namanya Dallen, bagus juga–batin Sofia senang akhirnya mengetahui nama targetnya. Sofia tersenyum. “Sepertinya kalian dekat.” Lalu Sofia memutar kepala, kembali menatap pria yang kini ia ketahui bernama Dallen.
“Jadi, dia satu dari banyak perempuan yang pernah kamu cium selain aku, Dally?”
“Dally?” Dallen menggeram. “Turun sekarang juga atau aku akan membuatmu malu."
“Astaga. Kamu tidak perlu malu. Kemarin kamu tidak malu langsung menarikku dan menciumku.” Sofia tertawa melihat kulit wajah Dallen merah padam, sementara perempuan yang duduk berseberangan dengan Dallen sudah membekap mulut dengan telapak tangan. Benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan asing di pangkuan sang pangeran.
Sofia berdiri, tapi, ia tidak pergi. Justru ia menarik punggung kursi di samping Dallen kemudian mendudukinya. Mengabaikan ekspresi wajah Dallen yang sudah seperti kepiting rebus, Sofia menumpu dagu dengan tangan kanan, sementara tatapannya tertuju pada perempuan di seberang meja.
“Aku simpulkan kamu bukan kekasihnya.”
“Kamu juga bukan.”
“Belum, lebih tepatnya.”
“Wah, kamu percaya diri sekali, Nona.” Perempuan di depan Sofia turut menarik punggung ke depan, melipat dua tangan di tepi meja. Wanita itu tersenyum, tampak tertarik dengan perempuan asing yang baru pertama kali ia temui.
“Sepertinya kamu masih sangat muda, Nona.”
Sofia langsung menggeleng. “Semua orang berpikir begitu, padahal usiaku sudah 27 tahun. Sudah usia matang untuk menikah. Bukankah begitu?” Melihat ekspresi wajah lawan bicaranya, Sofia melanjutkan. “Dan aku akan menikah dengan Dallen. Bagai–”
‘Uhuk! Uhuk!’
Sofia menoleh. Dia belum selesai bicara ketika pria di sampingnya terbatuk. Buru-buru ia mengambil gelas di depan Dallen, lalu mendekatkan pada pria tersebut. “Minum dulu, Dally Sayang.”
Bukannya membaik, Dallen semakin terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan perempuan di depan Dallen sudah tertawa.
“Kamu minum lagi?” tanya Dallen setelah berhasil menghentikan batuk. Pria itu menampik gelas yang Sofia ulurkan di depannya. Dia tidak butuh minum.
“Ah, tentu saja aku minum. Hari ini bukan hari puasa,” sahut santai Sofia sebelum meneguk minuman dari gelas Dallen. Dallen hanya bisa menggeram melihat tingkah Sofia.
“Wah, dimana kalian bertemu?” tanya wanita di seberang meja. Sofia hanya menjawab dengan mengangkat bahu ringan. "Apa kamu tahu siapa pria di sampingmu? Dia seorang pang--" Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat bola mata Dallen bergerak ke arahnya.
"Oh ...." Wanita itu berdehem. Paham jika sang teman tidak ingin perempuan di sampingnya mengetahui siapa pria tersebut. Lalu wanita itu beralih pada Sofia. "Jadi, kalian sudah berciuman?"
"Tentu saja. Bukan ciuman biasa tentu saja. Ciuman dua manusia dewasa berlawanan jenis. Ciuman--"
“Jangan dengarkan dia, dia sedang mabuk.”
“Tidak, tidak. Aku tidak sedang mabuk. Aku sadar, benar-benar sadar.” Sofia membuka matanya lebih lebar.
“Kembali ke kamarmu, Sofia.”
Mata Sofia terbuka semakin lebar. Senyum gadis itu pun mengembang sempurna. “Coba ulangi, aku suka mendengarmu menyebut namaku, Dally Sayang.”
“Kamu benar-benar sudah mabuk, kembali ke kamarmu." Dallen masih berusaha sabar, namun lama-kelamaan dia jengah juga melihat Sofia sekali lagi menolak untuk kembali ke kamarnya.
“Sepertinya aku harus permisi sebentar, Nel. Aku akan kembali setelah mengembalikannya ke kamar.”
Wanita yang dipanggil Nel itu mengangguk. "Aku akan coba hubungi Alfa. Kemungkinan dia masih ada di sini."
"Oke." Dallen mendorong kursi ke belakang seraya beranjak dari tempat duduknya. Pria itu kemudian menarik Sofia, memaksa gadis itu berdiri.
“Hei, aku belum makan, Dally, Aku lapar.”
“Berhenti memanggilku Dally. Aku tidak suka.” Dallen mencekal sebelah pergelangan tangan Sofia, kemudian menariknya. Dua kaki panjangnya mulai bergerak, terayun.
Dallen mengabaikan keluhan Sofia yang sedang kelaparan.Pria itu pun tidak peduli pada tatapan-tatapan yang tertuju pada mereka.
“Ya ampun, tidak sabar sekali mau sampai kamar.”
Ough … baru kali ini Dallen bertemu dengan perempuan seperti Sofia. Pria itu hanya geleng kepala menanggapi, sementara kakinya terus bergerak menuju pintu lift.
Beruntung ia tak perlu menunggu lama pintu lift itu terbuka. Dallen masuk masih sambil menarik tangan Sofia. “Lantai berapa?” tanya Dallen bersiap untuk menekan nomor lantai.
Sofia cemberut. “Ke kamarmu saja.”
“Berapa, Sofia?”
“Astaga. Dua puluh.” Akhirnya Sofia memberitahu setelah mendapatkan tatapan setajam pisau belati dari Dallen.
Dallen menghembus napas panjang. Melirik perempuan yang kini menyandarkan bahu ke dinding lift. “Dengan siapa kamu di sini?" tanya pria itu. Dari kemarin dia bertemu dengan Sofia sendirian.
“Sendiri.”
Dallen mengerutkan bibir.
“Ayo kita ke klub saja. Aku sedang suntuk.”
“Patah hati lagi?”
“Iya.” Sofia membenarkan. “Tapi kali ini karena kamu.”
Dallen mengalihkan pandangan matanya. Bertepatan dengan lift yang berhenti bergerak. Pintu di depan mereka perlahan terbelah. Dallen mengedik kepala, meminta Sofia untuk keluar.
Sofia menegakkan posisi berdiri. Menarik langkah, Sofia tidak langsung keluar, giliran gadis itu yang menarik sebelah tangan Dallen. Memaksa pria itu untuk ikut keluar.
“Berhenti, Sofia. Lepaskan tanganku.”
“Temani aku malam ini.” Sofia menghentikan ayunan kakinya. Gadis itu memutar langkah hingga berdiri berhadapan dengan Dallen. “Hanya malam ini. Besok aku sudah harus pergi. Aku akan membayarmu berapapun yang kamu mau.”
Dallen menatap tajam perempuan di depannya. “Kamu cantik, kenapa harus murahan? Membayarku berapapun yang aku mau? Kamu tidak akan sanggup, Sofia.”
“Aku punya banyak uang. Murahan? Aku menjaga diriku dengan baik, tapi, apa yang kudapat? Penghianatan. Aku sudah lelah menjadi perempuan baik-baik. Mungkin, laki-laki hanya akan melihat perempuan nakal.”
“Sehaus itu kamu akan cinta seorang pria?”
“Benar. Oleh karena itu, aku akan membeli cintamu dengan semua uang yang aku miliki.”
“Aku rasa bukan aku yang kamu butuhkan saat ini, Sofia.”
Sofia mengedip.
“Kurasa kamu harus segera menemui psikiater.”
“Seratus juta.”
Dallen yang sudah hendak berbalik itu urung mengayun kakinya. Pria itu menatap Sofia dengan alis menukik.
“Dua ratus juta. Hanya untuk malam ini saja.”
Dallen geleng kepala. Menatap tidak percaya perempuan di depannya ini.
“Baiklah, lima ratus juta. Kamu juga bisa mendapatkan bonus. Keperawananku.”