PDD 05.

1315 Words
“Sofi …!” Sofia mempercepat ayunan kakinya. Gadis itu menarik tali tas yang terasa seperti hendak melorot dari bahunya. Ia kemudian memasang sebelah headset yang sebelumnya terlepas hingga membuatnya bisa mendengar panggilan tersebut. “Sofia Andaresta Mila!” Sofia menghentak napasnya keras-keras. Ayunan kakinya akhirnya berhenti. Gadis yang pagi ini hanya memakai kaos lengan pendek berkerah warna putih, serta rok denim sepanjang di atas lutut itu berbalik. “Ada apa?” tanya Sofia dengan nada ketus. Yang ditanya tidak langsung menjawab. Lidia sedang mengatur tarikan dan hembusan napas yang memburu setelah berlari lebih dari lima meter. “Kok nggak bilang-bilang kalau sudah balik? Mana oleh-olehnya? Katanya kamu mau bawa bule pulang?” Lalu Lidia tertawa. Tawa yang terdengar seperti ejekan di telinga Sofia. “Sorry.” Lidia segera meminta maaf melihat ekspresi wajah Sofia. Gadis itu bergegas mengikuti kala Sofia kembali melanjutkan ayunan kakinya. Lidia menyamai langkah kaki Sofia. Gadis itu menoleh. “Kamu santai saja. Jangan perlihatkan kemarahanmu di depan mereka. Jangan buat mereka merasa menang.” Lidia menasehati sang teman. “Aku sudah tidak peduli pada mereka. Aku hanya ingin satu kali saja memukul wajah mereka.” “Itu sama artinya kamu masih marah, Sofi.” “Eh, ngomong-ngomong gimana ceritanya sama si bule?” “Bukan bule, doi blasteran kayaknya. Hong Kong, Korea, atau mungkin China. Entahlah.” “Serah deh, trus gimana?” Sofia tidak menjawab rasa penasaran Lidia. Gadis itu justru mempercepat ayunan kakinya. Lidia setengah berlari untuk bisa kembali menyamai langkah sang teman. “Eh, sudah dengar belum kalau hari ini ada dosen baru? Dengar-dengar katanya dari luar negeri." “Berita tidak penting. Aku tidak peduli.” Lidia berdecak. “Berita pentingnya, katanya dia tampan dan masih single.” Sofia hanya melirik sang teman, tanpa menyahut. Ayunan kakinya berbelok menuju ruangan tempat mata kuliah pertama yang akan ia ikuti setelah liburan 3 hari di Bali. “Apaan, sih?” kesal Sofia ketika Lidia merangkulnya. Lidia memperlihatkan cengiran. “Jangan cemberut terus. Senyum. Habis liburan kok cemberut.” Sofia berdecak, namun sama sekali tidak berusaha untuk menurunkan tangan Lidia dari bahunya. Keduanya masuk ke dalam ruangan. Bola mata Sofia langsung bergerak ke kanan kiri, mendengar suara-suara lirih teman-teman yang sedang menggunjingnya. Sofia yakin dirinya lah yang sedang menjadi bahan gunjingan mereka. Lihat saja bagaimana mereka mencuri-curi pandang ke arahnya sambil berbisik-bisik. Sialan memang si Gavin, batin kesal Sofia. Gadis itu berjalan ke arah deretan kursi paling belakang. Malas mendengar gunjingan teman-teman perempuannya. Lebih baik dia bergabung dengan teman-teman laki-laki yang mulutnya tidak terlalu banyak bicara. Yah, meskipun mungkin dia akan melihat si brengs*k Gavin. Biarkan saja. Toh hatinya sudah tidak sesakit sebelumnya. Ia merasa dadanya sudah lebih ringan. Mungkin karena dia bertemu dengan seorang pria yang 180 derajat berbeda dengan mantannya itu. “Eh, kenapa kita ke sini?” tanya Lidia. Tidak biasanya Sofia memilih duduk di deretan kursi paling belakang. “Kalau kamu mau di depan … sana, ke depan saja.” “Ya ampun. Siapa yang selingkuh, siapa yang kamu jutekin,” keluh Lidia yang tetap saja mengikuti Sofia duduk di bangku paling belakang. Baru saja duduk, Sofia langsung melihat dua orang masuk ke dalam kelas. Ia mendengkus samar. Bola mata Sofia langsung bergerak ke kanan kiri ketika ujung matanya melihat pergerakan. “Jangan melihatku seperti itu. Mereka berdua sudah tidur bersama.” ‘Uhuk! Uhuk!’ Lidia langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar Sofia dengan tenangnya menceritakan hal tersebut kepada beberapa mahasiswa laki-laki yang menatap bertanya pada gadis itu. “Wah, gila juga si Gavin. Dia main sama dua perempuan?” respon salah satu teman laki-laki Sofia. Sofia langsung melotot. “Enak saja. Aku terlalu mahal untuk dijadikan pemuas nafsu b***t teman kalian itu.” Sofia mencebik. “Aku masih perawan,” bangga Sofia, sebelum mengingat malam ketika ia membawa masuk seorang pria dewasa ke dalam kamar hotelnya. Sofia menelan saliva susah payah. Sofia mengalihkan pandangan mata ke depan. Dan dia harus mendesah dalam hati melihat gelagat teman-temannya ketika mereka melihat Gavin berjalan bersama Tiara. Salahnya karena terlalu memperlihatkan dengan jelas hubungannya dengan Gavin. Membuat mereka semua tahu, dan sekarang mereka pasti sedang kasihan padanya. Sofia tidak mengalihkan tatapan mata dari dua orang itu. Gavin tampak terkejut melihatnya, namun Sofia pantang kalah. Gadis itu justru mengangkat lebih tinggi dagunya. Menantang sang mantan dengan tatapan matanya. “Sofi ….” “Diam saja, Lid. Mereka pikir aku yang kalah?” Sofia mendengkus. Sofia menatap lurus Gavin dan Tiara. “Kenapa? Santai saja. Sebentar lagi semua orang juga akan tahu kalau kalian berdua sudah tidur bareng,” kata Sofi dengan suara yang cukup untuk membuat semua pasang telinga di dalam ruangan tersebut mendengar. “Sofi!” teriak Tiara dengan kulit wajah yang langsung memerah karena malu. Suara bisik-bisik terdengar tidak jelas di telinga Sofia. “Memang kenyataannya begitu, kan? Kalian main kuda-kudaan di apartemen Gavin di hari anniversary kami yang ke tiga.” Tiara menoleh ke kanan kiri dengan wajah yang kian memerah. “Apa perlu aku ceritakan bagaimana gerakan kalian malam itu? Astaga … aku saja mual melihatnya.” Sofia membuat gerakan seolah hendak muntah. Gadis itu tersenyum melihat reaksi teman-temannya. Sudah seharusnya perebut pacar orang dipermalukan di depan umum. Tidak hanya perempuannya. Laki-lakinya juga harus dipermalukan. “Ya ampun … Gavin, untung aku lihat senjatamu lebih dulu. Kalau sampai kita menikah, aku bisa menyesal seumur hidup.” “Memang kenapa, Sof? Senjata si Gavin kecil? Atau kurang panjang?” Lalu tawa keras terdengar memenuhi ruangan tersebut. Sofia ikut tertawa sambil menggelengkan kepala, sementara netranya menatap puas wajah marah Gavin. Suasana di dalam ruang kuliah itu menjadi ricuh. Umpatan-umpatan terdengar, disela tawa serta hinaan. Tiara yang merasakan malu luar biasa, memukul-mukul Gavin yang hanya berdiam diri, sementara mereka dipermalukan. “Lakukan sesuatu, Gavin.” “Lakukan apa? Mau apa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Apa perlu aku bagikan video kalian main kuda-kudaan sambil teriak-teriak ke semua orang?” tantang Sofia yang sebenarnya hanya menggertak. Mana sempat dia membuat video waktu itu. Wajah Tiara pucat pasi. Gadis itu memegang kuat sebelah tangan Gavin sambil melirik kanan kiri mendengar suara teman-temannya yang penuh dengan hinaan dan cacian. “Lo punya, Sof? Mau dong.” Teman laki-laki Sofia tertawa senang. Kapan lagi bisa dapat video syur teman kampus sendiri. Pasti seru. “Beneran kamu videoin mereka, Sofi?” tanya berbisik Lidia seraya menatap tak percaya sang teman. Sekuat apa Sofia hingga bisa melakukan itu. “Bagimana, Gavin? Kamu mau semua teman kita melihat sekecil apa senjatamu itu?” Sofia tertawa puas. “Kamu cuma bisa bikin teriak Tiara. Sudahlah, kalian berdua memang cocok. Sebaiknya kamu cepat-cepat nikahin Tiara, jangan sampai dia kenal yang ukuran jumbo lebih dulu.” “Hah … seperti lo tahu saja yang ukuran jumbo.” Gavin melawan. Sudah terlanjur malu. “Tentu saja aku tahu. Kamu pikir kamu satu-satunya laki-laki yang aku kenal? Kamu tidak tahu kemana aku pergi kemarin, kan? Aku pergi ke Bali. Menemui pemilik ukuran jumbo. Bule, bodoh. Senjatanya ukuran jumbo.” Suasana di dalam ruangan itu semakin ricuh. “Omong kosong. Aku tahu kamu marah. Kamu cemburu karena aku bersama Tiara.” “Cuih … muka pas-pas an kayak kamu itu banyak di luar sana. Seleraku sekarang bule.” “Ada apa ini?!" Suara keras terdengar, membuat suasana di dalam ruangan yang semula ramai itu seketika senyap. Sofia dan yang lain sontak menoleh ke arah suara terdengar. Tanpa menunggu detik terlewat setelah menemukan salah satu sosok yang berdiri di ambang pintu, sepasang mata Sofia terbelalak. Bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya. Seorang pria dengan perawakan tinggi di atas rata-rata tinggi orang indonesia, dengan tubuh padat penuh otot, kini berjalan masuk ke dalam ruangan bersama seorang dosen yang Sofia kenali. Pria dengan tubuh tinggi tegap itu mengedarkan pandangan matanya. Hari pertamanya mengajar di tempat ini, batinnya. Langkah kaki pria itu berhenti ketika tatapannya menemukan seorang gadis yang sedang melotot ke arahnya. Pria itu mengerjap. Satu sudut bibirnya kemudian terangkat. 'Perawan 500 juta?' gerak bibir pria tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD