PDD 06.

1169 Words
Menyadari tatapan pria di depan sana yang membuat jantungnya nyaris copot, Sofia dengan gerak cepat membungkuk–berusaha menyembunyikan dirinya dari pria tersebut. Jantungnya tidak hanya berdegup kencang, namun sudah melompat-lompat tak beraturan. Bagaimana bisa pria itu sekarang ada di depan sana? Di dalam kelasnya? Apa dia sedang bermimpi, atau sedang berhalusinasi saja? Tunggu … tunggu … mata kuliah apa yang akan dia ikuti sekarang? Siapa dosennya? Masih sambil membungkuk, Sofia berpikir keras. “Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama pria tampan di samping saya ini Dallen … kalian bisa memanggil Prof Dallen. Meskipun masih muda, beliau ini lulusan S3 di Oxford university. Beliau adalah dosen tamu dari Swedia. Mulai sekarang, beliau yang akan mengajar mata kuliah akuntansi bisnis di kelas ini selama satu semester ke depan. Selamat menimba ilmu dari beliau.” Mulut Sofia menganga mendengar penjelasan dari seorang dosen di depan sana. Mimpi apa dia semalam bisa bertemu dengan pria itu di sini? Dan apa tadi katanya? Si Dally itu dosen tamu untuk satu semester ke depan? Astaga … takdir apa ini? “Sofi … Sofi … kamu kenapa malah sembunyi? Kamu harus lihat dosen baru kita. Ini sih cewek-cewek bakalan rajin berangkat. Yakin, tidak akan ada yang bolos matkulnya.” Lidia tidak bisa mengalihkan tatapan dari pria dewasa di depan sana. Tampan, dengan tampilan yang membuat matanya ingin terus menatap. “Wah, sepertinya semua bersemangat kalau dosennya ganteng. Iya, kan?” “Iya, Pak!” Kompak, dan bersemangat … suara serupa paduan suara itu terdengar memenuhi ruangan. Membuat sang dosen geleng kepala, sementara Dallen tersenyum tipis. “Kalau pemandangannya secerah matahari pagi begini sudah jelas kami bersemangat, Pak. Iya kan, teman-teman?” “Iya, benar. Tidak mungkin mengantuk kalau ini.” Lalu suara tawa terdengar dari para gadis. “Ingat, ya. Prof Dallen pandai bahasa Indonesia. Jadi, jangan sembarangan kalau bicara.” Sang dosen pengampu sebelumnya mengingatkan mahasiswanya. “Ya sudah, Bapak tinggal.” “Iya, Pak!” Pria yang sudah berumur lebih dari 50 tahun itu kemudian menoleh ke samping. Tersenyum sebelum berkata. “Saya tinggal dulu, Prof Dallen. Silahkan mulai mengajar.” "Dallen saja." "Oh ... saya tinggal dulu, Dallen." “Terima kasih, Pak.” Dallen tersenyum sambil menerima uluran tangan sang dosen tetap. Dallen memperhatikan pergerakan sang dosen tetap hingga pria itu keluar dari dalam ruangan dan menutup kembali pintu. Dallen meluruskan pandangan ke depan. Mengedarkan pandangan mata seraya mendengarkan celotehan para mahasiswa-mahasiswi. Bola mata pria itu bergerak ke atas. Menatap seorang gadis yang sempat membuatnya terkejut. Penampilan gadis itu berbeda 180 derajat dari ketika mereka bertemu di Bali. Meskipun sekarang tidak memakai make up tebal seperti waktu di klub, dia masih jelas bisa mengenali wajahnya. Si perawan 500 juta. “Prof Dallen.” Dallen sontak mengalihkan pandangan ke arah suara yang baru saja memanggil namanya. “Ya.” “Apakah anda sudah menikah?” “Huuuuuuu …!” Ruangan tersebut langsung ramai oleh sorak sorai penghuninya. “Kenapa? Apa salahnya bertanya? Aku hanya mewakili pertanyaan mereka semua.” “Halah … modus.” “Begitu lihat bule langsung ganjen.” “Apaan, sih? Kalau tidak ada yang mau tahu prof Dallen sudah menikah atau belum, ya sudah. Biar aku sendiri saja yang tahu,” kesal seorang gadis dengan rambut bergelombang sepanjang di atas bahu. “Cukup, Saudara-saudara. Sekarang keluarkan buku kalian. Saya akan berikan beberapa quiz.” “Hah? Sekarang, Prof? Kan kita belum kenalan.” “Iya … kok quiz, sih.” “Yang tidak ingin mengikuti quiz, silahkan keluar dari kelas ini, dan jangan ikut kelas saya lagi,” ujar Dallen dengan tatapan dan ekspresi wajah serius. Sudah tidak lagi terlihat sedikitpun senyum di wajah sang dosen tampan. Suasana yang sebelumnya ramai, mendadak hening seketika. Semuanya merapatkan sepasang bibir. Tidak ada lagi yang membuka mulut, ketika melihat ekspresi wajah keras dan dingin pria tampan di depan sana. Bola mata Dallen bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan setiap mahasiswanya. Dia tidak suka bercanda. Dia bukan orang yang suka berbasa-basi. Apalagi sok kenal sok dekat dengan mahasiswanya. Melihat semua mahasiswa berhenti bersuara, pria itu berjalan menuju meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Meletakkan tas ke atas meja, kemudian berjalan ke tengah, ke tempat whiteboard berada. Mengambil spidol lalu tanpa basa-basi lagi, pria itu menulis soal pertama sambil berkata, “Saya beri kesempatan pertama untuk–” Dallen menghentikan gerak spidol di tangan. Pria itu memutar tubuh ke depan, menghadap para mahasiswanya. Lalu tangan kanan pria itu bergerak, mengarahkan ujung spidol ke salah satu mahasiswi. “Kamu yang duduk di belakang. Silahkan jawab quiz yang pertama.” Sumpah demi apa. Sofia menganga, melihat arah ujung spidol tersebut. Otaknya berpikir cepat kali ini. Sofia menarik tubuh ke samping sambil tangannya bergerak menarik Lidia ke arahnya. Membuat ujung spidol itu kini terarah pada Lidia. Lidia seketika melotot, sementara bola mata Dallen membesar meskipun hanya satu kejap mata. Pria itu menekan katupan rahangnya. Sofia ingin bermain main dengannya setelah berbohong tentang umurnya. Baiklah, batin pria itu merasa tertantang. “Siapa nama kamu?” “Sa-saya, Prof?” tanya terbata Lidia. Oke, dosen itu memang tampan maksimal, tapi, kalau sedang berwajah dingin seperti itu … dia takut juga. “Lidia, Prof.” “Lidia … kamu saya bebaskan dari quiz pertama. Dan teman di sampingmu itu tidak boleh keluar sebelum bisa menjawab dengan benar quiz pertama.” “A-apa?” Sofia menegakkan punggung yang semula miring. “Sekarang kita lanjut ke quiz nomor dua. Score bagi yang bisa menjawab dengan benar adalah 25 point.” Dallen tidak menggubris reaksi Sofia. Pria itu kembali menulis di whiteboard. Semua mahasiswa segera mengeluarkan alat tulis kemudian menyalin pertanyaan quiz nomor dua. “Quiz nomor tiga, score untuk jawaban yang benar adalah 35 point,” ujar pria itu sambil menulis soal yang ketiga. Setelah selesai, pria itu kembali ke meja di sisi kiri ruangan. "Waktu kalian 10 menit dari sekarang." Duduk seraya memperhatikan para mahasiswanya berpikir. Tampak olehnya wajah-wajah tegang dan kalut mereka. Mereka terlihat tidak punya persiapan untuk pembelajaran kali ini. Atau mereka memang terbiasa tidak bersiap? Dallen baru saja menarik punggung ke belakang ketika merasakan ponselnya bergetar. Hanya sesaat, menandakan hanya sebuah pesan yang masuk. Dallen membiarkan. Namun, benda penghubung yang tersimpan di saku celananya itu sekali lagi bergetar, membuat pria itu akhirnya memasukkan sebelah tangan ke saku celana kemudian menarik keluar benda tersebut. Dallen membuka layar ponsel seraya mendekatkan benda tersebut. Keningnya mengernyit melihat deretan nomor asing yang mengirim dua pesan baru. Jari tangan pria itu mengetuk notifikasi, hingga sesaat kemudian terbuka room chat yang memperlihatkan beberapa percakapan sebelumnya, serta dua pesan baru. [Dally, aku minta maaf soal malam itu] [Aku buru-buru pulang pagi harinya, aku belum sempat meminta nomor rekeningmu. Sekarang aku akan membayarmu. Please, tolong jangan hukum aku] Sofia menunggu dengan cemas jawaban dari seseorang yang sedang mengetik di room chat mereka. Gadis itu membuka mata lebar begitu satu pesan baru masuk. [Jangan keluar dari kelas setelah pelajaran selesai] Sofia tersenyum senang. Hembusan napas lega lolos dari celah bibir, sebelum satu pesan lagi masuk. [Satu saja dari tiga quiz ada yang salah, jangan berharap pulang, Miss Sofia]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD