Sofia menghembus napas lelah. Gadis itu berjalan dengan bahu terjatuh. Wajahnya tampak kusut. Pria itu benar-benar menghukumnya. Hampir satu jam dia tertahan di dalam kelas, sementara semua teman kuliahnya diperbolehkan keluar.
Satu jam yang membuat otaknya membeku karena sikap dingin pria itu. Tidak bicara. Saat ditanya jawabannya singkat, dan tatapan matanya itu benar-benar membuatnya geregetan.
Sikap Dallen sungguh sangat berbeda dari saat mereka bertemu di Bali. Di bali pun pria itu menyebalkan, tapi, setidaknya dia masih punya perikemanusiaan. Berbeda dengan pria yang masih berada di dalam ruangan di belakangnya.
Dengan cepat kepala gadis 21 tahun tersebut menoleh. Tarikan napas panjang ia lakukan saat melihat siapa yang baru saja berjalan melewatinya dengan langkah lebar, tanpa menoleh sedikitpun–seolah mereka adalah dua orang yang benar-benar asing. Belum pernah kenal ataupun bertemu satu kali pun. Padahal jelas mereka sudah pernah beradu bibir dan ….
Sofia menggelengkan kepala keras. Gadis itu mendesah. Sofia melanjutkan ayunan kaki dengan lesu.
“Sofia.”
“Aku mau pulang.”
“Hei, bukankah masih ada satu matkul lagi?”
“Tapi aku lelah. Tubuhku lemas, Lid. Otakku sudah kering. Aku tidak bisa berpikir.”
Lidia meringis. “Memangnya apa yang kalian berdua lakukan di dalam kelas sampai kamu lelah dan lemas?”
Sofia masih diam melanjutkan langkah kaki yang tampak tidak bersemangat.
“Kamu beruntung sekali bisa berduaan dengan prof Dallen. Kamu bikin iri teman-teman. Mereka membicarakanmu. Katanya dibuang serigala masuk ke kandang panda.”
Kening Sofia mengernyit. Gadis itu melirik ke samping. “Panda? Siapa Panda?”
“Prof Dallen. Siapa lagi?”
“Panda? Mana ada panda perutnya kotak-kotak, ”celetuk Sofia tak percaya mendengar sang teman menyamakan Dallen dengan panda yang tubuhnya gendut dengan perut buncit. Gadis itu mendengkus.
“Benar juga, ya? pasti perut prof Dallen seperti perut-perut pemain film action luar negeri. Kotak-kotak nyus seperti roti sobek. Tapi, Panda juga kan menggemaskan, Sofi. Kalau ketemu pengen langsung peluk. Cium.” Lidia tersenyum membayangkan memeluk dan mencium pria sekeren dosen barunya. “Boleh tidak sih, kita pacaran sama dosen?”
“Memangnya dia mau sama kamu? Dia mungkin sudah punya pacar,” ujar Sofia dengan nada kesal. Gadis itu menelan salivanya. Sialnya ia masih bisa merasakan ciuman pria itu. Sofia bergidik.
“Ada apa?”
“Hah? Tidak ada. Aku mau pulang.”
“Serius? Mau bolos?”
“Nitip absen, please.”
“Astaga.” Lidia berdecak. “Seratus ribu.”
“Oke,” sahut cepat Sofia tanpa merasa berat. Akhirnya Lidia menghentikan ayunan kakinya, sementara Sofia kembali berjalan melewati lorong, lalu aula sebelum keluar dari bangunan kampus.
Melanjutkan ayunan kaki dengan lesu menuju parkiran mobil.
Dallen menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Pria yang sudah akan menarik pintu mobil itu mengernyit, melihat Sofia berjalan dengan kepala menunduk.
Gadis itu bahkan tidak melihat keberadaan dirinya. Dallen mendengkus pelan. Dia masih kesal karena sudah dibohongi. Gadis ingusan itu mengaku berumur 27 tahun. Dan dia terperangkap dalam kebohongannya. Sialan.
Dallen mengalihkan pandangan mata. Pria itu tidak lagi menghiraukan Sofia. Dallen menarik pintu.
“Dally, Sialan!” Sofia akhirnya meluapkan amarahnya. Gadis itu menendang batu kerikil sambil berteriak lagi. “Sial–”
‘PUKK!’
Sofia mengangkat kepala hanya untuk terbelalak melihat seseorang yang berdiri di samping mobil sedan mewah warna biru, satu setengah meter di depan sana--mengusap bahunya, lalu kepala pria itu berputar ke arahnya. Seketika Sofia merasakan sekelilingnya membeku. Hanya dirinya dan pria itu yang masih bisa bergerak.
“Ma-maaf.” Sofia lalu berlari. Tidak. Dia tidak melarikan diri. Dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, ia berlari menghampiri Dallen kemudian menarik tangan Dallen hingga pria itu sedikit membungkuk, sehingga ia bisa memeriksa bahu bagian kanan belakang yang tadi diusap oleh pria tersebut. Tempat yang terkena tendangan batu kerikil.
Sofia panik. Tanpa memikirkan apapun, Gadis itu menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Dallen agar bisa melihat secara langsung. “Ya ampun … maaf, aku tidak sengaja, Dally. Aku … tunggu … aku rasa aku punya salep di tasku. Tapi, salep gatal. Apa bisa kupakai untuk luka ini?” Gadis itu panik sendiri.
Sementara Dallen masih terdiam. Syok dengan perlakuan Sofia. Sofia meniup-niup kulit bahu Dallen yang memerah. “Ya ampun … ya ampun. Sakit, ya?” tanya Sofia yang tidak membutuhkan jawaban. Gadis itu kembali meniup-niup, berharap bisa mengurangi rasa sakit Dallen.
Cukup lama Dallen hanya tertegun, sebelum kemudian pria itu menarik Sofia menjauh seraya menegakkan punggung.
Sofia menggaruk pipi yang tidak gatal. Gadis itu menatap Dallen yang kini sudah menatapnya tajam dengan ekspresi wajah dingin.
“Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak melihatmu.”
“Dally sialan, huh?” Sebelah alis Dally terangkat.
Sofia mengerjap. “Oh … itu ….” Sofia meringis. “Mungkin kamu salah dengar. Um, aku tadi bilangnya … Dally ganteng.” Lalu Sofia tertawa aneh.
“Ternyata hobimu memang berbohong. Setelah berbohong soal umur, lalu–”
“Ya ampun, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mengatakan aku baru 21 tahun saat ingin berkenalan dengan pria dewasa sepertimu. Kalau saat itu aku jujur, apa mungkin kamu akan tertarik padaku dan menciumku?”
Melihat bola mata Dallen membesar, Sofia membekap mulut dengan dua telapak tangannya. Gadis itu kemudian memutar kepala, memperhatikan sekeliling. “Tidak ada orang. Jangan khawatir, di sini juga tidak ada CCTV.” Sofia memberitahu Dallen. Gadis itu mengembalikan perhatian pada pria di depannya.
“Soal malam itu … um … ap … apa–”
“Aku sudah membiarkanmu bicara tidak sopan padaku. Sekarang ini aku dosen dan kamu mahasiswa. Bicara yang sopan.”
“Oh … tapi kan sekarang kita tidak sedang di kelas. Tadi aku juga bicara sopan,” sanggah Sofia.
“Sopan? Prof Dally? Namaku Dallen, bukan Dally.”
“Baiklah, Prof Dallen. Soal malam itu–”
“Dan mulai sekarang, tolong lupakan kita pernah bertemu sebelumnya, Sofia. Aku di sini bekerja. Aku tidak mau punya masalah dengan kampus karena dikira memiliki hubungan khusus dengan mahasiswi di sini.” Dallen menegaskan.
Pria itu menarik pintu mobil yang sudah terbuka sedikit, berniat untuk segera masuk ke dalam kereta besi tersebut lalu meninggalkan Sofia. Namun, kata-kata Sofia membuat gerakan pria itu berhenti.
“Bagaimana kalau aku hamil? Apa malam itu kamu pakai pengaman?” tanya Sofia. "Aku tidak minum pil," tambah gadis itu seraya menatap sepasang mata pria di depannya.