“Kamu hanya akan hamil dalam mimpimu.”
Sofia menghentak napas keras mengingat jawaban Dallen kemarin. Jadi, pria itu pakai pengaman? Berarti dia sudah membawa persiapan? Dasar player. Ah, tapi itu bagus, dibanding dia hamil tanpa suami, batinnya.
Sofia masih berada di dalam mobil dengan AC menyala. Ia sudah berusaha berangkat pagi lantaran tidak ingin terlambat. Bukan terlambat masuk kelas, karena kelasnya hari ini masih nanti jam 10. Sekarang masih jam 8.
Sofia memutar sedikit tangan kiri yang berada di atas kemudi. Bibir gadis itu mengerucut sebelum kemudian terbelah. Hembusan napas kasar keluar dari celah mulut tersebut. Tidak mungkin pria itu sudah datang lebih dulu, kan? batin Sofia. Bola mata gadis itu bergeser, menatap kantong plastik kecil di atas dashboard.
“Apa aku cari ke ruang dosen saja, ya?” gumam Sofia bertanya pada dirinya sendiri. Sofia berdecak. Ia mengedarkan pandangan ke luar. Sebuah mobil tampak melaju ke tempat parkiran, namun itu bukan mobil yang dilihatnya kemarin. Bukan mobil milik Dallen.
Lagi, lidah gadis itu berdecak. Kesal pada Dallen yang semalam memblokir nomornya. Padahal dia hanya bertanya dimana pria itu tinggal. Dia ingin mengantar salep untuk luka di bahu pria itu. Dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Kulit Dallen memerah karena ulahnya, jadi dia bertanggung jawab untuk menyembuhkannya. Eh, malah nomornya diblokir.
Sok jual mahal, padahal waktu di Bali nyosor. Ups … Sofia membekap mulutnya mengingat ciuman panas pria itu. Astaga, mengingatnya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang. Ah, dia jadi rindu.
Gadis itu menarik punggung ke depan ketika melihat sebuah mobil sedan biru bergerak mendekat. Sepasang matanya mengecil, lalu senyumnya merekah. Sepertinya itu mobil Dallen, batin Sofia senang. Kepalanya bergerak memutar, mengikuti pergerakan mobil. Sofia buru-buru mengambil kantong plastik dengan nama sebuah apotek yang tidak pernah tutup.
Dia memilih obat yang paling mahal, berharap sekali oles bisa mengembalikan kulit Dallen seperti semula. Putih. Mungkin kulit punggungnya kalah putih dengannya. Sofia memperhatikan melalui kaca spion samping, menunggu Dallen keluar dari mobil lalu berjalan. Dia akan mengejutkan pria itu.
Sofia terkekeh sendiri membayangkan wajah datar dan dingin pria itu saat nanti melihatnya muncul tiba-tiba. Sayangnya tawa itu tidak bertahan lama ketika dari kaca spion dia melihat Dallen berjalan, namun tidak sendirian. Pria itu berjalan dengan salah satu dosen perempuan di kampusnya.
Dosen yang dia tahu masih single, karena banyak teman laki-lakinya yang sering membicarakan dosen yang satu itu. Masih muda, cantik dan seksi. Lihat saja pakaiannya yang ketat hingga memperlihatkan dua gunungan di d*da dan juga bemper bulatnya.
Tarikan napas panjang gadis itu lakukan. Sofia hanya bisa memperhatikan keduanya berbincang, bahkan perempuan itu tertawa sambil mengibaskan rambut. Sepasang matanya mengedip, bibirnya tertekuk. Dengannya Dallen tidak bicara banyak.
Dallen melirik mobil sedan merah yang ia lewati. Daya ingatnya bagus, dia tahu siapa pemilik mobil tersebut. Dan meskipun kaca mobil itu gelap, dia masih bisa melihat bayangan seseorang di dalam mobil.
“Jadi bagaimana kalau kita hangout nanti malam? Saya bisa menunjukkan tempat yang bagus untuk hangout.”
Perhatian Dallen beralih dari bayangan di dalam mobil merah itu. Pria itu menggerakkan kepala turun naik. Dia butuh teman di sini. Sebenarnya ada teman masa kuliah yang berasal dari Jakarta. Akan tetapi, dia tidak tahu apakah mereka saat ini berada di Jakarta. Ia belum sempat menghubungi.
“Oke. Nanti aku info tempatnya.”
Dallen kembali mengangguk. “Oke,” jawabnya, berhasil membuat senyum rekan dosennya mengembang sempurna.
Keduanya melanjutkan ayunan kaki sambil berbincang ringan. Sebenarnya yang banyak berbicara adalah Nadin. Dosen lulusan S2 yang masih single tersebut tentu saja tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendekati pria setampan Dallen. Tidak hanya tampan, Dallen juga kaya. Tampak dari mobil yang dipakai pria tersebut.
“Oh iya, di Swedia perempuannya pasti cantik-cantik. Berapa banyak perempuan cantik yang sakit hati karena kamu?”
Dallen menoleh, menatap Nadia dengan lipatan halus di kening.
“Maksudku, kamu punya berapa banyak mantan di sana?”
“Ah ….” Bibir pria itu berkerut sebelum terbelah beberapa detik setelahnya. “Entahlah … mungkin sepuluh.”
“Wah … sepuluh? Berarti ada 10 perempuan yang tersakiti gara-gara kamu.”
Dallen melirik. Ayunan kaki pria itu melambat ketika mendengar suara mesin mobil mendekat dari belakang. Refleks pria itu menoleh. Mengernyit melihat mobil sedan merah itu meninggalkan parkiran. Lalu yang terdengar di telinga Dallen adalah suara ban yang berdecit. Sontak saja pria itu meluruskan pandangan ke depan. Mobil itu berhenti.
“Astaga, apa dia tidak bisa menyetir dengan benar?” komentar Nadin melihat mobil sedan yang baru saja melewatinya berhenti tiba-tiba. “Ah, Sofia.”
Dallen menoleh, menatap Nadin.
“Itu … gadis itu namanya Sofia. Dia putri salah satu guru besar di kampus ini. Yang aku dengar, ayahnya juga salah satu pemilik yayasan.” Nadin memberitahu. “Anak broken home, jadi sedikit … liar.”
“Liar?”
Nadin menganggukkan kepala. “Pacaran terang-terangan tanpa rasa malu.”
Dengan kening yang sudah kembali berlipat, Dallen meluruskan kembali pandangan matanya ke depan.
“Nah … itu pacarnya. Namanya Gavin.”
Dallen mendengar informasi dari Nadin. Langkah keduanya sudah berhenti. Mereka melihat drama yang tersaji di depan mata.
“Kita harus bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Sudah tidak ada kita lagi. Apa kamu lupa?”
“Sofia … aku tidak serius dengan Tiara.”
Sofia mendengkus. “Tidak serius? Semua tahu kalian bersama, apa itu yang dinamakan tidak serius?”
“Kamu yang memaksaku.”
“Apa? Kamu menyalahkanku?” Sofia mendorong d**a Gavin hingga pria itu menarik langkah ke belakang dua kali. “Dasar sinting.”
“Aku laki-laki, Sofi. Pacaran untuk apa? Tapi prinsip kamu itu membuatku tidak bisa menyentuhmu. Aku menjaga kesucianmu karena aku serius denganmu.”
“Ah, begitu? Jadi kamu menggunakan Tiara hanya untuk melampiaskan nafsumu karena tidak bisa menyentuhku, begitu?”
“Iya. Hanya itu.”
“Otak kamu itu sudah tidak waras. Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Menyingkir dari depan mobilku atau aku akan menabrakmu.”
“Aku tidak akan pergi. Tabrak saja kalau itu bisa membuatmu kembali denganku.”
Sofia menggeram. Menatap marah sang mantan. “Aku menjaga kesucianku karena aku juga ingin mendapatkan laki-laki perjaka. Kalau kamu sudah main celup sana sini, yang ada aku hanya akan mendapatkan penyakit darimu. Kamu pikir aku sebodoh itu? Cepat menyingkir.”
“Tidak akan. Aku tidak akan menyingkir.”
“Dengarkan aku baik-baik, Gavin. Aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku sudah punya yang lain.”
“Apa?”
“Telingamu tuli? Kamu pikir perempuan sepertiku tidak bisa mendapatkan laki-laki lain? Dia jauh lebih baik darimu. Dia tampan, pintar, tinggi, putih, matanya coklat, dan ciumannya dahsyat.”
“A-apa?”
“Sudahlah. Jangan menggangguku lagi. Aku hanya akan bersama pria itu.”
“Aku akan memaafkanmu. Kita balikan, oke? Aku bisa memberikan ciuman se-dahsyat yang kamu mau.”
Sofia mendelik. “Aku tidak mau. Bibirmu itu sudah berkelana kemana-mana. Aku jijik. Sudah, jangan berharap padaku. Lagipula, aku beritahu kamu satu hal. Aku sudah menyerahkan keperawananku padanya, jadi … menyingkir jauh-jauh dariku.”
Mulut Nadin terbuka mendengar apa yang dikatakan oleh putri dari guru besar tempatnya mengajar. “Kamu dengar itu, Dallen? Tanpa malu dia mengatakan sudah tidak perawan.” Wanita itu menoleh kala tidak mendengar suara Dallen.
Nadin mengernyit melihat kulit wajah Dallen memerah.