PDD 09.

1299 Words
Dallen terkejut melihat kantong plastik menggantung di spion mobilnya. Pria yang hendak pulang setelah selesai mengajar itu melepas kaitan kantong plastik di leher spion kemudian membukanya. Keningnya mengernyit. Pria itu mengeluarkan satu kotak berukuran tak terlalu besar, kemudian membaca informasi yang tertera pada kotak tersebut. Sepasang bibir pria itu terbelah. Hentakan napas kasar keluar. Sofia. Pasti gadis itu pelakunya, batin Dallen sebelum satu sudut bibir pria itu terangkat tipis. Dadanya berdesir mendapatkan perhatian dari gadis itu. Gadis! Dallen mendesah. Pria itu segera membuka pintu mobil, kemudian melempar kantong plastik ke kursi samping pengemudi, sebelum masuk ke dalam mobil. Dia selalu saja kesal setiap mengingat sudah dibohongi oleh Sofia, apalagi mengingat bagaimana ia dengan penuh gairah mencium perempuan yang ternyata masih gadis ingusan. Sialan. Dallen memukul benda bundar di depannya. **** Malam Hari …. Sofia tidak pernah suka saat diminta berkumpul dengan keluarga baru papinya. Sebisa mungkin ia akan selalu menghindar. Namun, malam ini dia tidak bisa menghindar. Jika menghindar, papinya akan memotong uang bulanannya. Sebenarnya dia masih punya tabungan. Lebih dari cukup untuk hidup foya-foya satu tahun, namun apa yang akan terjadi selanjutnya? Atau, apa yang akan terjadi ketika Dallen meminta bayarannya? Ia akan menjadi miskin seketika. Gadis itu turun dari dalam mobil. Membenahi gaun warna merah yang dipakainya, lalu merapikan rambut yang ia ikat ekor kuda. Setelah percaya diri dengan penampilannya, Sofia menekan remot mobil hingga semua pintu mobil terkunci. Gadis itu mengayun kaki sambil memasukkan kunci mobil ke dalam tas. Aturan nomor satu saat berkumpul dengan keluarga baru papinya, pakailah pakaian yang menunjukkan kelasmu. Sofia tanpa sadar berdecih. Entah kelas apa dirinya di mata perempuan yang menjadi istri baru papinya. Sofia membenahi posisi tas yang tersampir di bahu kanan. Tas yang ia beli seharga 25 juta. Sayang sebenarnya, namun apa boleh buat–setidaknya dia harus punya satu tas mewah yang bisa dipakai saat harus bertemu dengan perempuan kelas atas itu. Sekali lagi Sofia berdecih. Entah bagaimana papinya bisa tertarik pada perempuan itu hingga menikahi janda dua anak itu. Sialan memang. Dua anak itu kini menikmati semua fasilitas di rumah papinya, sementara dirinya terusir begitu saja. Setiap kali mengingat hal itu, rasanya Sofia ingin sekali marah. Sofia menarik pelan namun dalam napasnya. Tenang, Sofia. Tenang. Suatu saat nanti kamu akan berhasil dengan tangan dan kakimu sendiri. Kamu akan menunjukkan pada mereka siapa dirimu. Sofia mengangguk, membenarkan suara di dalam kepalanya. Gadis itu melangkah masuk ke dalam sebuah restoran berbintang. Tempat yang hanya bisa didatangi orang-orang dengan isi dompet tebal. Yang menyediakan makanan dengan porsi mini, namun harga selangit. Sofia menghampiri seorang pelayan, lalu menanyakan tentang tempat yang dipesan oleh istri papinya. Gadis itu mendengarkan jawaban pegawai restoran, lalu mengikuti arah gerak tangan pegawai yang memperlihatkan ruangan privat tempat keluarga papanya akan makan malam. Sofia mengangguk dua kal. “Terima kasih.” “Apa perlu saya antar?” “Tidak usah. Saya sendiri saja,” Sofia tersenyum kecil sebelum melanjutkan ayunan kakinya. Tanpa menoleh ke kanan kiri, Sofia berjalan menuju ruangan yang disebutkan oleh pegawai restoran. Dallen sempat mengangkat kepala lalu sepasang mata pria itu bergerak saat merasa baru saja ujung matanya melihat seseorang yang tidak asing. Sepasang mata pria itu mengecil, menimbulkan kerutan muncul di keningnya. Tidak menemukan seorangpun yang dikenali, pria itu kembali menurunkan pandangan matanya. Memperhatikan layar laptop yang menyala, lalu satu tangannya bergerak mengangkat cangkir. Sementara itu, Sofia berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang masih tertutup. Gadis itu merasa perlu untuk memasukkan sebanyak mungkin oksigen sebelum menghentak keluar karbondioksida dari mulut yang sedikit terbuka. Setelah merasa lebih siap, barulah Sofia mengetuk daun pintu di depannya. 'Tok! Tok!' Lalu Sofia mendorong daun pintu tersebut. Beberapa pasang mata langsung tertuju ke arahnya. Sofia melanjutkan hela kaki masuk ke dalam ruangan. Sebelah tangannya bergerak menutup kembali daun pintu. “Lihat sendiri bagaimana kelakukan putrimu. Ibunya tidak bisa mendidiknya dengan baik. Seharusnya dia yang menunggu kita, bukan malah kita yang menunggunya.” “Mama benar, Pi. Sofia tidak pernah menghargai mama. Dia selalu membuat Mama marah.” “Kalau bukan karena dia anakmu, aku benar-benar tidak ingin melihatnya.” “Berhentilah bicara. Hari ini hari spesialku. Bisakah kalian akur sebentar saja?” Pria dengan rambut ikal yang sebagian sudah berubah warna tersebut menatap sang istri. Membuat sang istri menghela napas kemudian menutup sepasang bibirnya. Sofia berjalan mendekati meja yang sudah dihuni oleh empat orang. Papi dan istri barunya duduk bersebelahan, lalu di seberang meja duduk dua orang anak bawaan istri papinya. “Selamat ulang tahun, Pih.” Sofia berhenti di depan sang papi duduk. Gadis itu membungkuk untuk memberikan pelukan pada papinya yang tidak beranjak dari kursi. “Semoga papih sehat, panjang umur, bahagia selalu,” doa Sofia untuk sang papi. “Kenapa terlambat?” tanya pria itu sebelum melepas pelukan sang putri. “Tadi nugas dulu sama teman, Pih,” bohongnya. Padahal bukan itu. Dia hanya malas. “Bukan karena dilarang sama mami mu?” “Mami? Kenapa bawa-bawa mami sih, Pi?” tanya Sofia mulai emosi. Dia tidak suka papinya selalu menyalahkan maminya. “Tidak usah marah. Bukannya biasanya juga begitu?” Sofia melirik perempuan yang baru saja bicara. “Papimu memberi jatah bulanan lebih dari cukup untuk membeli tas baru setiap bulan. Kenapa tas itu terus yang kamu bawa? Kamu kemanakan uang dari papimu? Kamu berikan pada mami mu, kan?” “Tante jangan menuduh yang tidak-tidak. Uangnya aku tabung. Mami tidak pernah meminta uang sepeserpun dariku. Mami bisa menghidupi dirinya sendiri,” bela Sofia. “Kamu jangan mempermalukan papimu. Papimu itu salah satu pemilik yayasan dan guru besar di kampus, Sofia. Kamu harus menjaga martabat papimu. Pakai pakaian, tas, sepatu yang bermerk, jangan sampai teman-temanmu, dosen-dosenmu mengira papimu tidak mengurusmu.” Sofia menarik napas panjang, berusaha untuk tetap tenang meskipun sangat sulit. “Kami tahu hidup mamimu susah setelah bercerai dari papimu, tapi kamu tidak boleh memberikan uang papimu pada mamimu itu.” "Harus berapa kali aku bilang, kalau mami tidak pernah meminta uang dariku. Uang dari papi masih ada di tabunganku. Apa aku perlu memperlihatkannya pada Tante?” “Minta dia perlihatkan, Ma. Takutnya dia cuma menggertak. Uangnya pasti sudah habis dipakai untuk membiayai maminya yang sekarang miskin.” Sofia tidak bisa lagi menerima penghinaan dari keluarga baru papinya. Gadis itu menatap sang papi. “Apa Papi juga curiga aku memberikan uang pemberian Papi pada mami?” tanya Sofia dengan nada berharap papinya akan lebih percaya padanya, dibanding pada istri barunya. Apalagi pada dua anak sambung yang lidahnya berbisa tersebut. “Kalau tuduhan mereka salah, kamu tidak perlu marah. Perlihatkan saja saldomu pada mereka.” Sofia menekan katupan rahangnya keras-keras. “Jadi, Papi lebih percaya pada mereka dibanding pada anak kandung papi sendiri?” Sofia menekan kata kandung untuk menegaskan posisinya. Sofia benar-benar kecewa pada sang papi. Gadis itu menegakkan punggungnya. “Aku kecewa sama Papi. Kupikir Papi masih percaya padaku, ternyata sekarang Papi lebih percaya pada perempuan dengan lidah berbisa itu.” “Sofia!” “Aku permisi. Aku tidak bisa berada di tempat yang sama dengan mereka. Jangan pernah memintaku datang jika ada mereka.” “Apa kamu tidak takut Papi hentikan uang bulananmu?” “Lakukan saja, Pi. Dari pada mentalku hancur karena mereka, aku lebih memilih Papi miskinkan. Aku akan mencari orang yang mau menafkahiku.” “Sofia!” Sofia berbalik lalu berjalan cepat meninggalkan sang papi. Dia bahkan belum sempat duduk. Air mata gadis itu menetes tanpa diminta. “Sofia! Berhenti! Papi tidak main-main dengan ancaman Papi!” Sofia menarik daun pintu. Gadis itu keluar lalu membanting pintu keras-keras untuk meluapkan amarahnya. Sofia berlari sambil menangis. Ayunan cepat kaki gadis itu berbelok. Karena tidak memperhatikan jalanan, Sofia menabrak punggung seseorang. “Aduh, maaf.” Pria yang baru saja merasakan punggungnya ditabrak itu memutar tubuh. “Sofia?” Sofia mengangkat kepala. Sepasang mata merah dengan wajah basah itu terbuka lebih lebar. Terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD