PDD 10.

917 Words
“Dal-Dally … tolong aku,” pinta Sofia dengan wajah basah. Air mata gadis itu menetes. Dallen menahan geraman. Pria itu menarik tangan yang dipegang oleh Sofia. “Aku tidak–” “Sofia! Sofia!” Suara itu membuat Dallen urung menyelesaikan kalimatnya. “Aku mohon, kali ini saja.” Menekan katupan rahangnya, Dallen menarik pergelangan tangan Sofia. Mendorong tubuh gadis itu ke dinding, lalu mengungkung tubuh mungil itu dengan dua tangannya. “Sofia … dimana kamu?!” Seorang pria yang tidak lain adalah papi Sofia, berjalan cepat seraya mengedarkan pandangan mata. Pria itu melihat sekilas sosok pria yang sedang berdiri menghadap dinding, namun sama sekali tidak melihat sosok putrinya. Pria itu melanjutkan ayunan kaki, sambil mencari-cari sang putri. Dallen memutar kepala, memperhatikan pria yang sedang mencari-cari putrinya, sementara Sofia diam terpaku. Aroma segar maskulin, masuk ke indera penciumannya, membuat perasaannya mulai tenang. Sofia menarik pelan namun panjang napasnya. Gadis itu menggulir bola mata ke atas, bertepatan ketika Dallen meluruskan pandangan, hingga tak berapa lama mata mereka terpaut. Keduanya saling menatap dalam. Napas mereka beradu. Suara derap langkah mendekat terdengar, semakin dekat kemudian menjauh. Dallen memutus pautan mata mereka. Pria itu melirik ke samping. Ia bisa melihat papi Sofia berjalan kembali masuk ke dalam restoran. “Dia sudah pergi,” kata Dallen seraya menarik tubuhnya ke belakang. Gerakan pria itu terhenti ketika Sofia meraih jas semi formal yang ia kenakan. Menahan hingga Dallen menatap mengernyit Sofia. “Papamu sudah pergi, kamu bisa pulang sekarang.” “Tolong temani aku, aku sedang sedih.” “Apa kamu akan membayarku lagi?” “Aku masih berhutang padamu. Aku tidak lagi punya uang. Aku hanya membual soal uangku banyak. Ya, aku punya 500 juta dan itu milikmu. Apa kamu hanya mau menemaniku jika aku membayarmu?” Dallen menatap sepasang mata dengan manik hitam yang tampak begitu bening dan indah dibalik kabut yang menyelimuti. Pria itu segera mengalihkan pandangan ke samping. Dia tidak mau berurusan dengan gadis ingusan. “Aku akan bekerja supaya bisa membayarmu.” “Kenapa aku? Bukankah pacarmu itu ingin kembali bersamamu?” Sofia mengerjap. “Kamu bisa menghubunginya. Aku yakin dia akan langsung datang untuk menjemputmu.” Sofia menahan lebih kuat jas yang dipakai oleh Dallen ketika merasakan pria itu hendak menjauh darinya. “Aku menyukaimu,” jujur Sofia, yang berhasil menarik perhatian Dallen dari sudut lain tempat mereka sedang berdiri berhadapan. “Aku menyukaimu, Dally.” “Tapi aku tidak menyukaimu, gadis ingusan,” sahut Dallen tanpa merasa perlu untuk menjaga perasaan Sofia. “Tapi aku menyukaimu.” “Itu urusanmu sendiri. Aku tidak menyukaimu.” Dallen mendesah kala melihat raut sedih Sofia. Sialan, kenapa juga hatinya lemah hanya karena melihat kesedihan di wajah Sofia? Sofia menganggukkan kepala. Gadis itu kemudian menunduk. Tangannya melepaskan jas Dallen. “Aku tahu. Tidak ada yang menyukaiku. Bahkan tidak papi ku sendiri, apalagi orang lain.” Sekali lagi Sofia menggerakkan kepala turun naik. Gadis yang masih berdiri dengan punggung menyandar dinding itu menegakkan posisi berdirinya. “Mungkin aku memang terlahir untuk tidak disukai.” Lalu Sofia menarik paksa garis bibirnya. “Maafkan aku. Aku akan meminta nomor rekeningmu besok setelah hatiku membaik. Sekarang aku sedang patah hati.” Lalu gadis itu menarik langkah ke samping, kemudian mengayun kedua kaki yang berbalut heels. Gadis itu berjalan tanpa semangat. Sofia nyaris terjatuh ketika heels di kaki kirinya tidak mendarat dengan baik ke atas lantai. Membuat gadis yang sedang patah hati itu mengumpat. Sofia melepas heels nya, membungkuk lalu mengambil sepasang sepatu dengan hak lancip tersebut. Sofia berjalan dengan menenteng heels di tangan kanan dan kirinya. Berpasang-pasang mata menatap gadis itu. Ada yang menatap aneh, ada yang menatap kasihan, ada yang menatap dengan sorot mata mengejek. Sofia tidak peduli. Tanpa menggunakan alas kaki, gadis itu berjalan keluar dari restoran. Nasibnya memang buruk. Terkadang ia bertanya pada Tuhan, untuk apa dia dilahirkan ke dunia. Gadis itu menghentikan langkah lalu mengangkat kepalanya. Menengadah, Sofia menatap langit yang malam itu gelap. Tak terlihat satu bintang pun di atas sana. “Sama seperti hatiku. Gelap. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Sofia bertanya pada dirinya sendiri. “Semua orang membenciku.” Sofia mengerjap, merasakan satu tetes air terjatuh di wajahnya. “Apa kamu sedang menangis untukku?” tanya nya seraya menatap kegelapan di atas sana. “Langit, kamu tahu aku sedang bersedih.” Lalu, tetes demi tetes kembali turun. Sofia memejamkan kedua kelopak matanya. “Dasar bodoh.” Sofia tersentak ketika merasakan tarikan di tangan kirinya. Sepasang mata gadis itu langsung terbuka lebar. Kakinya bergerak mengikuti tarikan tangan tersebut. Sofia menoleh, menatap sosok pria yang sedang menariknya. Sofia diam, berjalan mengikuti Dallen. Dallen membawa Sofia ke mobilnya. Tetes-tetes hujan semakin terasa. Pria itu segera menekan remot hingga kuncian pintu mobilnya terbuka. Dallen membelokkan ayunan kaki ke sisi kiri mobil. Pria itu menarik gagang pintu. “Masuk.” Sofia menurut. Gadis itu masuk ke dalam mobil. Dallen menutup kembali daun pintu sebelum berlari memutari kepala mobil dan masuk dari pintu pengemudi. Sofia menatap Dallen dengan sepasang bibir terkatup rapat. “Pakai sabuk pengamanmu.” Lagi-lagi Sofia hanya menurut tanpa mengatakan apapun. Sofia menarik sabuk pengaman, kemudian menancapkan ujung besi sabuk pengaman ke pengaitnya. Gadis itu kembali menatap Dallen. Suara mesin mobil terdengar halus. Dallen melepas rem tangan. Pria itu memutar kemudi seraya memperhatikan kondisi di belakang dari kaca spion. Kakinya menginjak pedal gas, membuat kereta besi tersebut berbelok kemudian melaju meninggalkan parkiran tempat makan. “Kamu bilang tidak menyukaiku, tapi kamu membantuku." “Aku melakukannya bukan karena menyukaimu, Gadis bodoh. Aku tidak akan pernah menyukaimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD