Bab 172

4013 Words

Meskipun ragu, Mba Yanti akhirnya menarik kursi di dekat Melati dan duduk dengan tubuh sedikit menunduk, menunggu dengan gelisah apa yang hendak dibicarakan sang nyonya, sementara suasana di antara mereka terasa berat bahkan sebelum percakapan benar-benar dimulai. “Kenapa kamu nggak pernah bilang sama saya kalau Mas Bian kayak gitu, Mba?” Pertanyaan itu jatuh tanpa jeda, tajam, langsung menekan. Mba Yanti menelan ludah berat, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan suara, terlebih saat tatapan Melati yang sarat kemarahan menahannya di tempat, membuatnya hanya bisa menunduk semakin dalam. “Mba sekongkol sama almarhumah Kania buat menyembunyikan semuanya dari saya?” Nada Melati tetap terkendali, tetapi jelas mengandung tekanan yang tidak bisa diabaikan. Suasana langsung menegang. Mba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD