“Cukup jawab,” tegas Yasmin, tatapannya menajam tanpa memberi ruang untuk menghindar. “Kamu pasti paham apa maksud ucapan Mba.” Melati menunduk, kedua tangannya di pangkuan saling menggenggam erat hingga buku jarinya memutih, sementara kegelisahan perlahan merayap, menyisir ketenangannya yang semakin pudar; ia tahu, jika Kania masih hidup, ia tidak akan setenang ini, mungkin justru sudah hancur lebih dulu, mungkin akan cemburu, marah, bahkan kehilangan kendali, terlebih sejak semua berubah setelah insiden itu—saat Kania dibawa ke rumah sakit karena kecelakaan, saat operasi berlangsung dan Biantara memilih berdiri di sana, di sisi Kania, menemani gadis itu bertaruh nyawa untuk melahirkan anak-anaknya, tanpa peduli bagaimana syoknya dirinya saat itu—hingga akhirnya kematian itu datang dan

