Bab 174

4071 Words

Bola mata Melati membulat sempurna, napasnya tertahan sejenak sebelum jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari biasanya. Baru sekali mencoba, dan ia sudah membuat kesalahan yang tidak bisa dianggap sepele. Kemeja yang seharusnya dikenakan Biantara pagi ini—yang ia siapkan dengan penuh niat—justru rusak di tangannya sendiri. “Ya, Tuhan…” serunya pelan, tertahan, namun jelas dipenuhi kepanikan. Wajahnya langsung pucat, pikirannya berantakan, tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki situasi yang sudah terlanjur terjadi. Refleks, Melati menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding ruang laundry. Jarumnya tepat menunjukkan pukul tujuh. Waktu terasa seperti musuh yang terus berjalan tanpa mau menunggu. Meeting Biantara dimulai pukul delapan kurang lima belas menit, dan perjalanan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD