Biantara membuka pintu. Tangannya mendorong pelan, namun bunyi engsel tetap terdengar jelas di tengah sunyi. Ia melangkah masuk tanpa ragu. Sementara itu, Melati berhenti di ambang pintu. Kakinya seolah tertahan. Ia memandang ke dalam dengan napas yang tidak stabil, ragu untuk ikut masuk. Dari tempatnya berdiri, Melati mengamati setiap gerakan suaminya. Langkah Biantara tidak lagi tegas seperti biasanya. Gontai. Berat. Seolah setiap pijakan membutuhkan tenaga lebih. Ia berjalan menuju meja rias, tanpa menoleh, tanpa memperhatikan apa pun di sekitarnya. Tangannya terangkat, mengambil satu foto yang terletak di sana. Foto Kania. Begitu foto itu berada di tangannya, Biantara langsung memeluknya erat. Ditekan ke d**a, seolah takut benda itu ikut hilang jika ia melepaskannya. Tubuhnya kemu

