Bab 166

3381 Words

Biantara terbangun. Matanya mengerjap cepat, menyesuaikan cahaya matahari pagi yang merangsek masuk melalui celah tirai kamar tidur. Sorot terang itu langsung mengenai wajahnya, membuatnya menyipit sesaat sebelum benar-benar sadar. Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul sembilan. Jarang sekali ia bangun sesiang ini. Alisnya sedikit berkerut. Tubuhnya terasa berat, kepalanya masih penuh sisa kelelahan. Mungkin, efek semalam—ia tertidur tanpa benar-benar menutup semua yang berisik di kepalanya. Biantara beranjak bangkit. Tangannya refleks menyentuh sisi ranjang yang kosong. Dingin. Melati sudah tidak ada di sana. Ia hanya melirik sekilas, tanpa benar-benar memikirkan ke mana istrinya pergi. Langkah gontai Biantara membawanya masuk ke kamar mandi. Air mengalir, membasuh wajah dan tubuhn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD