Sabtu (14.23), 13 Juni 2020
-----------------------
Sarapan berlalu seperti hari sebelumnya. Tidak ada percakapan yang berarti. Dan seperti biasa, Xavier menjadi satu-satunya orang yang membisu di meja makan.
Selesai makan, Xavier ditemani Vero langsung menuju kamarnya untuk mendiskusikan beberapa dokumen yang akan dibawa Vero ke kantor hari itu. Sintha bermaksud turut menemani Xavier namun Xavier mengusirnya. Akhirnya Sintha memilih bergabung dengan Kelis, Ruby dan Mahesa yang sedang duduk santai di taman samping rumah.
“Kalian tidak ke kantor hari ini?” tanya Sintha kepada Kelis dan Mahesa begitu ia duduk.
“Tiga hari lagi kami akan mengikuti rapat penting. Sekarang kantor masih sibuk untuk mempersiapkan rapat itu.” Mahesa menjelaskan.
Sintha mengernyit akan jawaban Mahesa. “Memangnya rapat ini melibatkan seluruh bagian? Mengapa persiapannya sampai memakan waktu selama itu?”
Kelis tersenyum penuh arti, “Tentu saja karena ini menyangkut masa depan Abraham Group.”
Sintha sungguh penasaran namun ia berusaha keras menyembunyikannya. “Oh, jadi Xavier juga akan ikut rapat?” buru-buru Sintha menambahkan. “Semoga rapatnya memakan waktu seharian sehingga aku tidak perlu melihat wajah Xavier untuk hari itu.”
“Maaf mengecewakanmu, Sintha.” Ujar Mahesa dengan kilat geli di matanya. “Tapi Xavier tidak akan ikut rapat. Dan jangan sampai berita tentang rapat besar di Abraham Group terdengar oleh Xavier.”
Sintha tertegun tapi berhasil segera menguasai diri. Dia menampilkan wajah sedihnya. “Menyebalkan sekali. Kupikir aku akan punya hari libur.” Dia masih ingin bertanya banyak hal. Tapi sepertinya sudah cukup yang ia tanyakan sekarang.
“Sepertinya kau benar-benar menderita bersama Xavier.” Mahesa menatap Sintha dengan iba.
“Tanya saja pada mereka kalau kau ingin tahu apa yang dilakukannya padaku pagi ini.” Sintha mengedikkan dagu ke arah Kelis dan Ruby.
“Sudahlah, jangan diingat-ingat terus. Aku sudah menyiapkan kasur lantai untukmu.” Ruby berkata.
Sintha merengut. “Selesai satu masalah, dia pasti akan berusaha membuat masalah yang lain untukku.”
“Itu memang resikonya.” Kelis menegaskan. “Xavier pasti akan berusaha mati-matian membuatmu menderita sehingga kau meminta cerai.”
“Dalam dua hari dia sudah berhasil membuat hidupku seperti berada di neraka. Karena itu aku tidak akan menyerah sebelum mencapai tujuanku.”
“Itu bagus sekali. Jangan biarkan Xavier tertawa keras dan menatapmu lebih rendah lagi.” Mahesa mengepalkan jemarinya memberi semangat kepada Sintha.
“Tidak akan kubiarkan dia melakukan itu padaku.” Ujar Sintha dengan penuh tekad.
Baru beberapa detik kalimat Sintha berlalu, Ruby menendang kaki Sintha dari bawah meja. Sintha langsung menoleh menatap Ruby dengan pandangan bertanya. Dengan matanya, Ruby mengisyaratkan agar Sintha melihat ke arah pintu masuk menuju taman samping yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka duduk.
Sintha menoleh dan mendapati Xavier telah berada di sana. Dia melirik Kelis dan Mahesa yang berpura-pura menyibukkan diri. Pandangan Sintha beralih pada Ruby yang masih menatapnya iba.
“Berapa lama dia berada di sana?” bisik Sintha.
“Sepertinya baru saja. Tapi kurasa dia mendengar ketika kau mengatakan ‘hidupmu seperti di neraka’.”
Sintha menggigit bibir. “Astaga, pasti setelah ini dia akan membuat hidupku lebih buruk dari neraka. Kenapa kau baru bilang?”
“Tadinya aku tidak yakin.” Ruby membela diri.
“Sudahlah, hentikan! Cepat temui suamimu!” Kelis melotot ke arah Sintha.
“Tidak mau.” Ucap Sintha seperti anak kecil yang bandel.
“Kalau kau tidak ke sana sekarang, aku yang akan menyeretmu.” Kelis mulai kesal.
Sintha menatap Kelis dengan bibir mengerucut tapi lalu berdiri. Dia mendekati Xavier dengan senyum. “Apa kau sudah selesai dengan Vero?”
Xavier sama sekali tidak menoleh ke arah Sintha. Pandangannya tertuju pada Kelis dan Mahesa. “Kalian tidak ke kantor?” tanya Xavier dingin.
“Oh iy—iya.” Mahesa terbata.
“Kami ada meeting di luar kantor satu jam lagi.” Kelis buru-buru menjelaskan.
“Meeting dengan siapa?” selidik Xavier.
“Dengan penanggung jawab proyek pembangunan Mall yang baru.” Kelis tidak berbohong. Tapi yang tidak disampaikannya kepada Xavier, meeting tersebut ditunda hingga rapat selesai.
Setelah yakin ucapan Kelis tidak mengada-ada, Xavier menyerahkan secarik kertas kepada Sintha tanpa menoleh. “Carikan aku buku-buku itu! Aku akan menunggu di kamar.”
Setelahnya Xavier meninggalkan Sintha yang masih membaca kertas di tangannya dengan lesu.
***
Sintha menahan tangannya yang pegal karena harus membawa sepuluh buku ensiklopedia yang diminta Xavier. Selama perjalanan dari perpustakaan ke kamar, dia terus-menerus mengomel dalam hati.
Begitu sampai di depan kamar, nafas Sintha sudah terengah-engah. Dengan kasal dia menendang pintu seraya berteriak memanggil Xavier.
Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka. Xavier yang masih duduk tenang di depan pintu, berusaha menahan senyum melihat wajah Sintha yang memerah karena keringat dan kesal.
“Mundur atau aku akan menjatuhkan buku-buku ini ke atas kepalamu!” Sintha tidak mau berpura-pura manis setelah Xavier membuatnya berkeringat dan berantahkan seperti ini.
Mata Xavier menyipit tidak suka dengan nada ketus Sintha. “Kau berani memberiku perintah?”
“Mana mungkin aku berani.” namun nada suara Sintha terdengar mencemooh.
Xavier masih ingin mengkonfrontasi Sintha lebih lama. Tapi melihat wajah wanita itu yang kepayahan, Xavier merasa iba. Akhirnya dia memilih mundur memberi Sintha jalan.
Begitu Sintha melewatinya, Xavier kembali menutup pintu. Tidak seperti Sintha yang suka mengunci pintu, Xavier tidak pernah melakukannya karena itu akan mempermudah jika dirinya membutuhkan Vero atau pelayan.
Sintha menghempaskan dengan kasar tumpukan ensiklopedia tebal itu di atas meja kerja Xavier yang lebar lalu menjatuhkan diri ke ranjang.
“Aku—” Sintha menarik nafas sejenak. “—tidak terima.....diperlakukan seperti ini. Kau harus membayarnya dengan ciuman.” Ucap Sintha seraya menunjuk Xavier.
Xavier berdecak sebal namun tidak bisa dipungkiri jantungnya berdebar saat memikirkan dirinya mencium Sintha. “Selalu tidak jauh dari hal mesum.” Komentar Xavier yang kini sedang memilah ensiklopedia di mejanya.
Sintha duduk secara tiba-tiba dengan wajah berbinar. “Apa itu artinya iya?”
“Aku tidak bilang iya.” Jawab Xavier sambil lalu.
“Tapi kau juga tidak menolak.” Sintha bersikeras.
“Tidak. Sekarang aku sudah menolak.”
Sintha menatap Xavier kesal. “Dasar Xavier jelek dan menyebalkan.”
“Kau sendiri, w***********g, munafik dan tukang bohong.” Balas Xavier pedas.
“Aku tidak bohong.”
“Dengan mengatakan itu, kau sudah berbohong.”
“Aku tidak mengerti kau bicara apa.”
Xavier menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Sintha. “Kau berbicara pada mereka seolah aku menyiksamu di sini. Apa itu bukan bohong?”
“Kau memang menyiksaku.” Sintha meletakkan tangan di d**a. “Menyiksa secara batin. Kau selalu melontarkan kata-k********r dan tidak memberiku nafkah. Itu adalah bentuk penyiksaan yang sangat kejam terhadap istri.”
Xavier terdiam selama beberapa saat, lalu tawanya lepas. Bukan tawa keras. Hanya tawa kecil karena merasa geli atas ucapan Sintha.
Sintha terpesona melihat tawa Xavier. Wajah lelaki itu berubah sangat cerah dan semakin menawan. Sintha bahkan tidak menyadari bibirnya yang terbuka dengan tatapan lembutnya yang mengarah pada Xavier. Sedangkan pipinya menempel di punggung tangan yang saling mengatup rapat, seperti posisi tangan orang yang mengisyaratkan tidur.
“Suamiku sangat tampan.” Gumam Sintha. “Aku sungguh tidak menyesali takdir yang mempertemukan kita.”
Gumaman Sintha membuat Xavier tersadar. Dia berdehem dengan salah tingkah lalu segera mengalihkan pandangan kembali ke ensiklopedia di hadapannya.
“Ehm, ingatkan aku untuk membuatkan kartu kredit atas namamu setelah Vero pulang.”
Sintha kaget. Sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh mengenai nafkah. Sintha masih sanggup membiayai kebutuhannya sendiri. “Kau benar-benar akan memberiku nafkah?”
“Seburuk apapun hubungan kita, kau tetaplah istriku. Jadi sudah kewajibanku memberimu nafkah.” Jelas Xavier.
“Walau aku dibayar keluarga tirimu untuk membantu melawanmu?” tanya Sintha dengan nada tidak percaya.
Xavier menghentikan kegiatannya lalu kembali menoleh ke arah Sintha. “Kau istriku. Secara hukum dan agama. Sebesar apapun keinginanku untuk menyiksamu, aku tetap akan berusaha memenuhi kewajibanku sebagai suami.”
Seandainya Sintha belum mencintai Xavier, pasti dia akan langsung jatuh cinta terhadap lelaki itu setelah mendengar ucapannya tadi. Tapi beruntungnya Sintha karena dia sudah jatuh cinta pada Xavier sejak membaca surat sederhana dari lelaki itu.
Buru-buru Sintha turun dari ranjang mendekati Xavier lalu memeluknya. “Suamiku terdengar sangat manis.”
Xavier gugup namun dia membiarkan Sintha terus memeluknya. Entah mengapa, hati kecil Xavier memintanya untuk percaya terhadap wanita itu.
Setelah puas memeluk, Sintha memundurkan tubuh tapi lengannya tetap mengait di leher Xavier. “Mana jatah ciumanku?” rengek Sintha dengan manja.
Xavier harus mendongak karena Sintha berdiri di hadapannya. “Cepatlah sebelum aku berubah pikiran.”
“Benarkah?” Sintha sungguh tidak percaya Xavier akan mengatakan itu.
“Aku berubah pikiran.”
Sintha buru-buru menunduk untuk menyatukan bibir mereka. Dia sengaja diam, menunggu Xavier yang bereaksi. Ternyata penantiannya tidak lama karena bibir Xavier mulai bergerak. Lembut dan hangat. Mencecap seluruh permukaan bibir Sintha tanpa terlewat. Namun ketika bibir Sintha merekah, Xavier melepas ciuman mereka.
Perlahan Xavier juga melepas rangkulan Sintha di lehernya lalu kembali memfokuskan pandangan pada buku di mejanya. Dia tidak ingin Sintha melihat wajahnya yang pasti sudah semerah udang rebus. Terutama di saat jantungnya berdebar tidak karuan seperti sekarang.
“Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan. Sekarang biarkan aku bekerja.”
Sintha sama sekali tidak kecewa karena Xavier tidak memperdalam ciuman mereka. Dia sudah cukup senang kali ini Xavier membalas ciumannya. “Aku tidak akan mengganggu. Aku akan tiduran saja di ranjang. Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan di luar.” Ujar Sintha seraya berjalan kembali ke ranjang lalu merebahkan diri.
“Kau bisa menemui Ruby lalu melanjutkan gosip kalian. Pasti kau memiliki kebohongan baru yang ingin kau ceritakan padanya.”
“Tapi aku belum memiliki ide cerita lain.” mendadak Sintha terkikik geli. “Rupanya aku pandai mengarang. Mungkin kalau aku jadi penulis, dalam sekejap karyaku pasti digemari.”
Xavier mendengus. “Kau terlalu mengkhayal. Bahkan penulis best seller pun perlu proses untuk mencapai kesuksesannya.” Berbicara tentang penulis membuat Xavier teringat novel karya Avalee. “Apa kau suka novel? Aku punya beberapa novel yang bisa kau baca. Lagipula sekarang masih terlalu pagi untuk tidur.”
Sintha tersenyum geli ketika melihat sampul novel yang ditunjukkan Xavier. Tapi dia tetap turun dan mengambil novel itu walau Sintha sudah hafal tiap kalimat yang ditulis. “Avalee. Nama yang hebat. Pasti dia cantik seperti diriku.” Gumam Sintha seraya kembali ke ranjang.
Lagi-lagi Xavier mendengus namun tidak berkomentar. Kini dia sudah tenggelam dalam bacaannya.
Sintha hanya sanggup membaca dua lembar karena tiba-tiba pembicaraan dengan Mahesa dan Kelis mengganggu pikirannya. “Xavier, apa kau tidak pernah ke perusahaan?”
“Memangnya kenapa?” tanya Xavier tanpa menatap Sintha.
“Aku selalu melihatmu bekerja dari rumah sementara Vero, Kelis dan Mahesa bolak-balik ke perusahaan.”
“Kau sudah menjawab sendiri pertanyaanmu.”
Sungguh Sintha merasa geram namun ia mengendalikan diri. “Baiklah. Kau memang tidak pernah ke perusahaan. Jadi, kau menyerahkan semua urusan pekerjaan ke tangan Vero?”
“Hmm.” Xavier hanya berdehem sebagai jawaban.
“Lalu bagaimana jika ada rapat penting yang membutuhkan kehadiranmu?”
“Vero akan memberitahuku.”
“Lalu kau akan menghadirinya walau kondisimu seperti sekarang?”
“Tidak ada yang aneh dengan kondisiku.”
Sintha terdiam. Jika rapat yang dimaksud Mahesa dan Kelis benar-benar berhubungan dengan masa depan Abraham Group, mana mungkin Vero tidak tahu. Padahal dia yang diberi tanggung jawab penuh oleh Xavier. Tentu semua yang terjadi di perusahaan harus menunggu persetujuan darinya. Dan dia sendiri, harus menunggu persetujuan Xavier. Kalau begitu, mengapa Vero tidak mengatakan apapun mengenai rapat itu pada Xavier?
Mendadak sebuah pemikiran buruk merasuk ke benak Sintha. Jemarinya saling meremas ketika memikirkan cara mengorek informasi dari Xavier.
“Xavier, apa kau mengenal Vero sudah lama?”
“Sejak SMP.”
Pantas saja Xavier begitu mempercayai Vero, batin Sintha.
“Apa kalian pernah—” Sintha bingung bagaimana menanyakannya. “bertengkar, mungkin.”
Xavier mendongak lalu menatap Sintha tajam. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya penasaran karena kalian terlihat lebih akrab daripada saudara. Aku sendiri juga memiliki sahabat. Tapi kadang-kadang kami berselisih paham. Bukan hanya itu. Walau aku sangat menyayangi kakak-kakakku dan begitu pula mereka, kami juga sering kali bertengkar. Jadi aku penasaran dengan kalian.”
Xavier tampak menerawang mengingat kebersamaannya dengan Vero. Tanpa sadar dia tersenyum. “Kami tidak pernah bertengkar. Mungkin karena kami sudah saling mengerti.”
Senyum Xavier kali ini membuat hati Sintha sakit. Dia menggelengkan kepala untuk menghentikan pikiran buruknya.
“Kenapa kau geleng-geleng seperti itu?” tanya Xavier heran.
“Ah, itu. Senyumanmu membuatku terpesona.” Ujar Sintha dengan gaya menggoda untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kapan aku tersenyum?” wajah Xavier mulai terasa panas karena malu.
“Tadi.”
“Kau harus segera memeriksakan matamu. Mungkin kau sudah rabun.”
Sintha terkikik mendengar ucapan Xavier. “Mana mungkin aku rabun. Aku masih bisa melihat dengan jelas wajahmu yang memerah seperti gadis.”
Dalam hati Xavier mengutuki wajahnya yang gampang memerah ketika malu. “Terserah apa katamu.”
Sintha ingin sekali tertawa keras tapi dia menahan diri agar suara tawanya tidak terdengar keluar kamar. Sementara Sintha masih tertawa, Xavier yang semakin merasa malu lebih memilih menunduk di atas bukunya seolah sedang membaca.
Tawa Sintha baru reda ketika ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Dia mengeluarkan ponsel dari saku lalu membaca pesan.
----------------------
Avalee,
Bisakah kau datang ke panti asuhan besok? Ada masalah darurat di sini.
------------------------
♥ Aya Emily ♥