Minggu (07.43), 14 Juni 2020
---------------------
“Sayang, boleh aku keluar rumah hari ini?” tanya Sintha setelah Xavier meminum obatnya.
“Tidak perlu menggunakan nada rayuan menjijikkan seperti itu. Aku tidak pernah melarangmu keluar rumah.”
Sintha merengut. “Padahal aku ingin kau melarangku.”
Xavier menatap Sintha heran. “Kau ini aneh sekali.”
“Aku suka lelaki yang over protective. Itu menandakan bahwa kau mengkhawatirkanku dan sangat menyayangiku.”
Xavier mendengus. “Aku sama sekali tidak peduli padamu.”
“Kalau aku tidak pulang bagaimana?”
“Aku akan menjadi orang yang paling senang di rumah ini.” Sahut Xavier tak acuh.
Mungkin ucapan Xavier benar. Sintha memang tidak bisa berharap banyak dari kebersamaan mereka yang baru sebentar.
“Contoh suami yang buruk.” Sintha hanya berkomentar seperti itu atas ucapan Xavier.
Sintha keluar sambil membawa nampan. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar untuk bersiap berangkat ke panti asuhan.
Xavier yang terlihat sibuk di meja kerjanya sesekali mencuri pandang ke arah Sintha yang sedang memoleskan make-up tipis. Xavier memang tidak bercanda dengan ucapannya bahwa dirinya akan menjadi orang yang paling senang jika Sintha tidak pulang. Tapi mungkin itu hanya untuk satu atau dua minggu. Kenyataannya, Xavier merasa keberadaan Sintha bisa meramaikan harinya yang sepi.
Xavier memang memiliki Vero. Satu-satunya orang yang ia anggap paling dekat dengannya. Tapi setelah kehadiran Sintha, Xavier merasa hubungannya dengan Vero tidak terlalu dekat.
Padahal dirinya dan Sintha lebih sering adu mulut dan saling mengejek. Sementara bersama Vero, tidak pernah sekalipun mereka bersilang pendapat hingga hubungan mereka selalu harmonis. Tapi tetap saja. Bersama Sintha, Xavier merasa lepas dan bebas.
“Kau pulang jam berapa?” tanya Xavier sambil berpura-pura sibuk membaca.
“Entahlah.” Sintha menatap Xavier dengan senyum lebar. “Apa kau mulai mengkhawatirkanku?”
“Aku hanya tidak ingin menjadi pihak yang disalahkan jika sesuatu yang buruk menimpa dirimu.”
“Ah, manisnya suamiku.”
Xavier menatap Sintha kesal. “Kau selalu bilang aku manis. Kau pikir aku gula?”
“Kau lebih manis dari gula dan lebih lezat dari cokelat.” Ucap Sintha seraya menyusurkan lidah di bibirnya.
Xavier terkekeh pelan lalu segera berdehem ketika menyadari kesalahannya. Entah mengapa di depan Sintha dia sangat mudah tersenyum.
“Jangan menahan senyum dan tawamu seperti itu. Aku sangat menyukainya.” Sintha menyeringai melihat Xavier semakin salah tingkah.
“Kau berangkat naik apa?” tanya Xavier mengalihkan pembicaraan.
“Naik taksi.”
Xavier mengeluarkan kunci mobil dari laci di meja kerjanya. “Gunakan mobilku dan untuk sementara, kau bisa pakai kartu kreditku.”
Sintha segera berdiri lalu menghampiri meja kerja Xavier. “Kau mempercayaiku untuk menggunakan benda-benda ini?” tanya Sintha terharu.
“Pakai saja. Toh aku nyaris tidak pernah menggunakannya.”
“Pantas saja pakaianmu kuno semua. Lain kali kita harus pergi berbelanja.” Ujar Sintha dengan riang seraya mengambil kartu kredit dan kunci mobil Xavier.
Lalu tiba-tiba, Sintha mengecup bibir Xavier sekilas. Sebelum Xavier berkomentar, wanita itu sudah menjauh dengan senyum lebar. Dia meraih tas yang sudah disiapkannya di ranjang, lalu berjalan ke pintu seraya memasukkan kartu kredit.
“Ehm, Sintha.”
Sintha menghentikan gerakannya membuka pintu karena panggilan Xavier. Dia langsung berbalik dan menunggu apa yang akan diucapkan lelaki itu.
“Hati-hati di jalan dan—jangan pulang malam.”
Senyum Sintha merekah karena ucapan Xavier. “Tentu, suamiku.” Sahut Sintha seraya keluar kamar dengan wajah berbinar.
***
Sintha baru saja memasuki halaman panti Bina Kasih yang sangat rapi dan terawat. Tidak banyak yang tahu bahwa Avalee—nama yang Sintha gunakan sebagai penulis—menggunakan seluruh uang hasil penjualan bukunya untuk kebutuhan sebuah panti asuhan yang merupakan satu-satunya di daerah itu.
Dulunya panti Bina Kasih terlihat sangat kumuh dengan bangunan yang nyaris ambruk sewaktu-waktu. Padahal ada lebih dari tiga ratus anak yang bernaung di bawah atap gedung bekas pabrik itu.
Memang panti Bina Kasih memiliki beberapa donatur. Tapi uang dari para donatur habis untuk keperluan sehari-hari. Padahal pengurus panti sama sekali tidak diberi upah. Banyaknya anak dan sedikitnya donatur membuat kondisi buruk itu tidak dapat dielakkan.
Namun semua berubah ketika Sintha datang. Wanita itu membantu mengembangkan bakat individu tiap anak lalu berusaha memenuhi fasilitas penunjang walau amat sederhana. Seperti cat dan kanvas untuk anak yang suka melukis. Sekotak pen dan buku tebal untuk yang suka menulis.
Selain itu, Sintha membagi anak-anak ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai minat dan bakat mereka lalu memberi tiap kelompok kegiatan yang berhubungan dengan kerajinan untuk dijual. Apa yang Sintha lakukan jelas membuat panti Bina Kasih tidak lagi bergantung pada pemberian para donatur. Mereka mulai mampu menghidupi diri sendiri.
Sedangkan uang hasil penjualan bukunya, Sintha gunakan untuk membangun hunian yang layak bagi penghuni panti. Sekarang panti itu telah berubah menjadi rumah besar yang indah dengan taman luas penuh bunga. Bahkan mereka menyulap halaman samping menjadi kebun buah, sayur dan kolam ikan. Kini tidak ada lagi anak penghuni panti itu yang kelaparan.
“Itu Kak Avalee.” Salah satu anak penghuni panti berteriak, membuat anak yang lain segera menghampiri mobil Sintha.
Mereka sudah hafal bahwa kedatangan Sintha juga berarti akan ada banyak oleh-oleh terutama makanan dan mainan. Karena itu mereka sangat antusias terutama anak-anak yang masih kecil.
Sintha tersenyum seraya keluar dari mobil. “Wah, adik-adik kakak yang cantik dan tampan. Siapa yang mau makanan dan mainan?”
Anak-anak itu langsung serentak berkata ‘aku’. Beberapa bahkan melompat-lompat saking senangnya.
“Oke, semuanya akan dapat bagian. Tapi janji jangan berebut.”
Setelah mendengar anak-anak itu berjanji dengan mantap, Sintha berjalan ke bagasi. Beberapa anak yang sudah SMP dan SMA membantu Sintha mengeluarkan oleh-oleh lalu membaginya kepada anak-anak kecil yang langsung berbaris rapi tanpa diatur. Itu salah satu yang diajarkan pengurus panti. Berbaris rapi ketika akan mendapatkan jatah apapun agar tidak terjadi rebutan. Sekarang hal itu sudah menjadi budaya bagi anak-anak panti Bina Kasih.
Setelah masing-masing anak mendapat bagian, pengurus utama di panti yang kemarin mengirimi Sintha pesan mengajak Sintha untuk mengobrol di ruang kerjanya.
Pengurus utama panti Bina Kasih adalah lelaki berusia awal tujuh puluhan yang masih tampak sehat dan bugar. Dia memilih mendedikasikan hidupnya untuk mengasuh anak terlantar sejak anak dan istrinya tewas dalam sebuah kecelakaan.
“Jadi hal darurat apa yang terjadi, Pak Iwan?” Sintha bertanya tanpa basa-basi begitu mereka sudah duduk di sofa ruang kerja pengurus utama panti. “Tadinya kupikir anak-anak sakit. Tapi tampaknya mereka baik-baik saja.”
Pak Iwan mendesah. “Ini berhubungan dengan tanah yang kita tempati ini. Pemilik tanah bermaksud menggusur bangunan panti karena hendak membangun pabrik yang baru.”
“Bukannya dulu Bapak bilang pemilik tanah sudah sepenuhnya menyerahkan tanah ini untuk dibangun panti asuhan?” tanya Sintha dengan nada kaget.
“Iya. Masalahnya yang menyerahkan tanah ini sudah meninggal. Orang yang sekarang menuntut tanah ini kembali adalah anak dari pemilik tanah sebelumnya.”
Otak Sintha langsung berputar cepat. “Tunggu, Bapak tidak punya dokumen-dokumen perjanjian mengenai tanah ini?”
Raut Pak Iwan berubah lesu. “Itu kesalahan Bapak. Bapak tidak berpikir jauh ke depan hingga mengabaikan dokumen perjanjian atas diserahkannya tanah ini untuk dibangun panti asuhan.”
Jemari Sintha saling meremas. “Apa orang itu tidak menyediakan tempat pengganti?”
Pak Iwan hanya menggeleng.
Sintha mulai naik darah. “Siapa orang itu? Apa dia tidak melihat ada ratusan anak di sini? Kalau panti ini digusur, anak-anak akan tinggal dimana?”
“Surat peringatannya ditulis atas nama perusahaan.” Kemudian Pak Iwan menyodorkan selembar surat kepada Sintha. “Kami diberi waktu dua minggu untuk pindah.”
Sintha kaget setelah membaca surat itu. Dia sampai membaca berulang-ulang untuk memastikan tidak ada yang salah. Ternyata tanah ini milik Abraham Group dan surat peringatan ini ditanda-tangani langsung oleh sang Direktur Utama. Xavierous Abraham.
Sintha yakin ada yang salah di sini. Dia tahu persis Xavier adalah orang yang berhati lembut. Tidak mungkin dia melakukan hal serendah ini. Apalagi Abraham Group bukan perusahaan kecil. Kehilangan tanah ini tidak akan berpengaruh apapun.
“Apa Bapak sudah menemui langsung Direktur Utamanya untuk membicarakan hal ini?” tanya Sintha kemudian.
“Bapak sudah mencoba. Tapi Direktur Utama itu tidak mau menemui Bapak. Bapak hanya bisa berbicara dengan asistennya.”
DEG.
Sintha menelan ludah. Dalam hati dia berdoa semoga kecurigaannya salah. Semoga ada kesalahpahaman di sini yang bisa segera diatasi.
“Apa, apa yang dikatakan asistennya?” entah mengapa Sintha jadi takut untuk mendengar jawabannya.
“Yah, dia cuma bilang keputusan Tuan Xavierous sudah final dan dia tidak bersedia menemui Bapak.”
Sintha terdiam. Benaknya berkecamuk memikirkan banyak hal.
“Tuan Xavierous sungguh tidak seperti almarhum ayahnya. Padahal Tuan Jason Abraham sangat baik dan pemurah. Dulu beliau juga adalah donatur terbesar panti ini. Tapi sejak tiga tahun terakhir, Abraham Group menghentikan kucuran dana entah apa alasannya.”
Sintha diam menyimak cerita Pak Iwan.
“Tapi ternyata bukan hanya panti ini yang mengalami perlakuan buruk Abraham Group yang dipimpin Tuan Xavierous Abraham. Beberapa pemukiman warga yang dekat dengan pabrik milik Abraham Group juga sudah mengajukan keluhan atas limbah pabrik yang dibuang sembarangan hingga menyebabkan penyakit parah. Lalu ada banyak juga perusahaan-perusahaan kecil yang mengalami kerugian besar hingga mengakibatkan kebangkrutan setelah menjalin kerjasama dengan Abraham Group. Sementara itu, sang Direktur Utama seolah lepas tangan dan tidak mau tahu mengenai kerugian yang diakibatkannya. Dia bersembunyi di balik punggung asistennya.”
Sintha semakin takut untuk mendengar lanjutannya tapi dia harus tahu. “Tidak mungkin mereka diam saja. Harusnya mereka menuntut dengan tegas agar Direktur Utama mau bertatap muka dengan orang-orang yang dirugikan itu.”
Pak Iwan mengangguk. “Mereka sudah melakukan itu namun si Direktur tetap tidak mau keluar. Hampir saja masalah ini mereka sebarkan ke media tapi beruntung pemerintah setempat, aparat polisi, serta dewan direksi yang tidak setuju dengan kepemimpinan Tuan Xavierous Abraham sepakat untuk mengadakan rapat besar.”
Sintha langsung teringat rapat yang dibicarakan Mahesa dan Kelis. “Kira-kira apa yang akan dibahas dalam rapat itu?”
“Rencana untuk mengganti kepemimpinan Tuan Xavierous Abraham dengan Mario Abraham, anak ketiga Tuan Jason Abraham.”
Sintha sudah bisa mengaitkan semua informasi. Tapi yang terasa tidak masuk akal adalah keterlibatan Vero. Ada apa dengan sahabat Xavier itu? Mengapa dia bisa begitu tega mengkhianati Xavier yang tulus mempercayainya?
“Tapi apa itu mungkin seandainya surat wasiat dari almarhum Jason Abraham memilih Xavierous sebagai penerus perusahaan?”
“Mungkin saja jika mengingat banyaknya kerugian yang terjadi. Lagipula masyarakat, pemerintah setempat, aparat polisi dan dewan direksi juga telah sepakat.” Pak Iwan mendesah. “Kau tahu? Sudah puluhan nyawa melayang akibat ulah Xavierous Abraham. Fakta ini saja sudah bisa membuat dia diseret ke penjara. Tapi karena jasa-jasa Jason Abraham yang tak kalah besar, maka mereka hanya akan menyingkirkan Xavierous dari perusahaan.”
Tubuh Sintha terasa lemas. Dia bersandar di sofa dengan wajah sedih. Dia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Xavier jika mengetahui semua ini. Terutama jika suaminya itu mengetahui tentang Vero.
“Avalee, kenapa wajahmu terlihat seperti itu?”
Sintha menegakkan punggung lalu berusaha menampilkan senyuman. “Tidak apa-apa. Aku turut sedih dengan masalah yang menimpa panti ini.”
“Sintha, kita sudah saling mengenal bukan hanya setahun dua tahun. Bapak sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Bapak tahu kesedihanmu bukan berhubungan dengan nasib panti.”
Senyum Sintha perlahan luntur. Memang selain keluarganya, hanya Pak Iwan yang tahu bahwa nama asli Avalee adalah Sintha.
“Beberapa hari yang lalu, aku menikah. Hanya acara kecil-kecilan. Karena itu aku tidak mengundang Bapak.” Akhirnya Sintha memilih bercerita.
“Sepertinya bukan itu yang menjadi masalah hingga kau terlihat sedih.” Tebak Pak Iwan.
Sintha tersenyum. Memang Pak Iwan dikenal sangat peka terhadap perasaan orang lain sehingga anak asuhnya suka sekali mencurahkan isi hati padanya. Tidak terkecuali Sintha yang memang suka bercerita banyak hal pada lelaki berwajah ramah itu.
“Lelaki yang menikah denganku adalah Direktur Utama Abraham Group. Xavierous Abraham.”
Raut wajah Pak Iwan terlihat kaget. Dia seperti ingin bertanya sesuatu namun tidak ada suara yang keluar.
“Pasti Bapak ingin bertanya banyak hal. Tanyakan saja.” Ujar Sintha.
“Apa dia memang seperti yang dikatakan orang-orang? Lelaki tak berperasaan?”
Sintha tersenyum atas pertanyaan Pak Iwan. “Sama sekali tidak. Sebenarnya pernikahan kami memiliki maksud tertentu. Kebetulan aku mengenal salah satu adik Xavier tapi beda ibu yang bernama Ruby. Dengan berpura-pura bahwa keluargaku bermasalah dengan keuangan, Ruby serta ibunya menawariku menikah dengan Xavier. Tujuannya agar aku bisa mendapat tanda tangan Xavier untuk mengalihkan harta warisan ke tangan keluarga tirinya.”
Pak Iwan ternganga.
“Lalu Xavier,” Sintha melanjutkan. “Dia orang paling baik yang pernah kukenal.” Entah mengapa air mata Sintha menitik. ‘Baik’ saja tidak bisa menggambarkan sosok Xavier. Tapi Sintha tidak bisa menemukan kata yang tepat.
“Kau bilang, kau berpura-pura keluargamu bermasalah dengan keuangan. Berarti kau memang berniat menikah dengan Xavier?”
Sintha mengangguk. “Aku sudah jatuh cinta padanya ketika dia mengirim sepucuk surat untuk Avalee.”
Pak Iwan tampak berpikir. Mendengar cerita Sintha, bahkan sampai melihat Sintha menangis untuk pertama kalinya, jelas dia merasa bahwa tuduhan semua orang terhadap Xavierous Abraham salah besar. “Apa mungkin, selama ini Tuan Xavierous tidak tahu mengenai kerugian yang disebabkan perusahaannya?”
“Xavier nyaris tidak pernah keluar rumah sejak kakinya yang lumpuh semakin terasa sakit. Dia bahkan tidak tahu bahwa akan ada rapat besar di perusahaannya dua hari lagi.”
Jemari Pak Iwan mengepal. “Kalau begitu, ini tidak bisa dibiarkan. Kau harus segera memberitahunya.”
“Masalahnya, Xavier sangat mempercayai asistennya. Satu-satunya orang yang benar-benar dia anggap sahabat. Dia pasti akan sangat terluka jika mengetahui pengkhianatan sahabatnya.”
Pak Iwan mengerti. Dia mendekat lalu menggenggam jemari Sintha erat. “Lebih baik dia tahu sekarang daripada dia tahu ketika dirinya sudah kalah. Setidaknya sekarang dia masih memiliki pilihan. Melawan atau diam.”
***
Sintha memarkir mobil secara asal di depan rumah kemudian bergegas masuk. Di pintu depan, dia berpapasan dengan Ruby yang tampak rapi. Mati-matian Sintha berusaha mengulas senyum walau tubuhnya serasa gemetar karena adrenalin. Dia harus segera menemui Xavier.
“Mau kemana?” tanya Sintha basa-basi.
“Oh, aku ingin berbelanja. Kau mau ikut?” Ruby menawarkan.
“Kurasa tidak.”
“Baiklah. Urus suamimu yang benar agar kita bisa segera mendapatkan tanda tangannya.”
Sintha hanya mengangguk sebagai tanggapan lalu kembali berjalan menuju kamar. Tanpa mengetuk, dia membuka pintu lalu melempar tasnya ke ranjang. Kemudian dia diam di tengah ruangan memperhatikan belakang kepala Xavier yang sedang duduk menghadap balkon kamar.
“Kau sudah pulang?” Xavier bertanya tanpa menoleh.
Sintha baru menyadari dirinya menangis ketika penglihatannya mendadak buram. Tanpa kata dia mendekati Xavier lalu melingkarkan lengan di leher lelaki itu dari belakang.
Xavier yang sedang membaca buku kaget atas pelukan tiba-tiba Sintha. Terutama karena pipi Sintha yang menempel di pipinya terasa basah.
“Kau baik-baik saja?” tanya Xavier dengan bingung.
“Bisakah kita pergi? Membangun rumah kecil di sebuah desa yang damai. Hanya kita berdua. Kau dan aku.”
----------------------
♥ Aya Emily ♥