Selasa (11.18), 16 Juni 2020
---------------------
“Bisakah kita pergi? Membangun rumah kecil di sebuah desa yang damai. Hanya kita berdua. Kau dan aku.”
Xavier tertegun.
Perlahan jemari Xavier terangkat lalu menangkup pipi Sintha yang tidak menyentuh pipinya. “Kau menangis?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Bisik Sintha.
“Kenapa?”
“Apalagi yang kau tunggu di sini? Semua orang membencimu. Kau sudah punya aku sekarang. Kita pergi saja.”
DEG.
Perasaan aneh yang sering merasuki hatinya sejak beberapa hari lalu, semakin terasa. Bahkan sekarang dadanya sesak karena dipenuhi perasaan itu.
Apa itu kebahagiaan? Haru? Bangga? Ataukah—cinta?
Xavier tidak berani mengartikannya terlalu jauh. Apalagi dia hanya mengenal Sintha sebentar.
“Sintha, lihat aku sekarang!”
Dengan enggan Sintha melepas pelukannya lalu berjalan memutar ke depan Xavier. Dia berlutut di hadapan Xavier lalu menggenggam erat kedua tangannya.
Lama mereka terdiam dengan saling memandang lekat. Perlahan jemari Xavier terangkat lalu kembali menangkup pipi Sintha. Ibu jarinya bergerak menghapus air mata Sintha yang masih bergulir.
“Kau bersedia hidup bersamaku? Bersama orang cacat sepertiku?” entah mengapa suara Xavier mendadak serak.
“Apa kau percaya jika aku berkata iya?”
“Kenapa? Apa yang kau lihat dariku? Yah, aku memang tampan,” Xavier tersenyum geli. “Tapi tanpa semua warisan papa, aku mungkin tidak sanggup memberimu nafkah dengan kondisi seperti sekarang.”
“Cinta tidak butuh alasan.”
“Cinta? Kau mencintaiku?” tanya Xavier tidak percaya.
“Aku bukan wanita yang rela menikah dengan lelaki yang tidak kucintai. Aku bersedia menikah denganmu karena aku mencintaimu, Xavier.”
Raut wajah Xavier menampakkan kebingungan dan rasa tidak percaya yang kental. Berbagai pertanyaan saling tumpang tindih di benaknya. Sebelum dia berhasil menemukan pertanyaan yang tepat untuk diajukan pertama kali, seseorang mengetuk pintu kamar.
Tangan Xavier yang masih berada di pipi Sintha ditarik kembali ke pangkuannya. Sementara Sintha buru-buru menghapus air mata di wajahnya.
“Biar aku yang buka.” Ujar Sintha seraya berdiri.
Setelah yakin wajahnya kering, Sintha segera membuka pintu. Seorang pelayan wanita tampak berdiri sedikit membungkuk di depan pintu.
“Ada apa?” Sintha bertanya.
“Maaf, Nyonya. Saya hanya hendak memberitahu bahwa makan siang sudah siap di meja makan.” Ujar pelayan itu.
“Iya, terima kasih. Aku dan suamiku akan segera keluar.”
Selesai berkata demikian Sintha segera menutup pintu kamar kembali lalu menghampiri Xavier yang masih duduk menghadap balkon.
“Waktunya makan siang.” Sintha memberitahu setelah ia kembali berlutut di hadapan Xavier.
“Sebaiknya kita segera ke ruang makan.” Ujar Xavier.
“Masih ada hal penting yang ingin kukatakan.”
“Setelah makan siang.” Tandas Xavier lalu memundurkan kursi roda ke meja kerjanya untuk meletakkan buku yang tadi ia baca sebelum Sintha datang.
Xavier memang bersyukur atas interupsi dari pelayannya. Pernyataan Sintha telah membuat hati dan otaknya kacau balau. Di satu sisi dirinya ingin percaya. Namun di sisi lain, masih ada keraguan.
Xavier takut. Dia takut jika dirinya percaya namun ternyata semua ini hanya kebohongan. Mungkin hatinya akan jadi bubur saking hancurnya.
Xavier butuh waktu untuk menelaah semua ini. Walau hanya sebentar, makan siang bisa membantunya menenangkan diri.
Selama perjalanan ke meja makan, Sintha dan Xavier sama sekali tidak bersuara. Mereka masih saling diam saat Sintha mengambilkan makanan ke piring Xavier seperti biasa. Barulah ketika mereka mulai makan, Xavier memecah keheningan.
“Dimana Ruby?”
Sebelum menikah, tidak jarang Xavier makan siang sendirian karena semua penghuni rumah pasti sedang beraktivitas. Tapi sejak Sintha menjadi bagian dari keluarga Abraham, makan siang akan dilewati oleh Xavier, Sintha dan Ruby sedangkan yang lain masih di kantor.
“Dia bilang hendak berbelanja.” Sintha memberitahu.
“Kenapa kau tidak ikut? Gunakan saja kartu kredit yang kuberikan itu.”
Sintha tersenyum karena ini pertama kalinya dia mendengar Xavier mengobrol di meja makan. Biasanya dia akan menjadi orang paling pendiam.
“Seperti yang kubilang. Ada hal penting yang ingin kuberitahukan padamu.”
“Tentang memiliki rumah di desa itu?” Xavier tidak mempercayai para pelayan di rumahnya. Karena itu dia tidak ingin berbicara terlalu terang-terangan kalau bukan di kamar.
“Bukan yang itu.” Sama seperti Xavier, Sintha juga tidak ingin berbicara terang-terangan di luar kamar. “Sudahlah. Nanti saja.”
Xavier hanya mengangguk sebagai jawaban. Ruangan kembali hening dan hanya sesekali suara denting peralatan makan yang terdengar karena tidak ada lagi yang berbicara.
Beberapa menit kemudian, Xavier dan Sintha sudah kembali berada di kamar. Tanpa kata, Xavier langsung menempatkan diri di balik meja kerjanya lalu berpura-pura sibuk bekerja. Dia sengaja menghindari Sintha karena Xavier pikir Sintha akan kembali membahas perasaan cintanya yang menurut Xavier terasa aneh.
Sintha tahu Xavier menghindarinya. Pasti karena pernyataan cintanya beberapa saat lalu. Tapi yang ingin dibicarakan Sintha sekarang berhubungan dengan masa depan Abraham Group yang akan ditentukan dari hasil rapat dua hari lagi.
Pertanyaan Sintha tentang membangun rumah di desa itu di luar rencana. Pemikiran itu muncul begitu saja saat Sintha memeluk Xavier.
Tapi bagaimanapun, Xavier harus mengetahui kebusukan orang-orang di dekatnya. Dan apapun keputusan Xavier, Sintha akan mendukungnya. Jika Xavier ingin menyerah, maka Sintha akan benar-benar mengajak Xavier tinggal di desa sesuai impiannya. Tapi jika Xavier bertekad melawan, Sintha akan berdiri di samping Xavier untuk membantu.
Setelah menghela nafas, Sintha mendekati meja kerja Xavier lalu duduk di kursi di seberangnya. “Apa kau tahu tentang panti asuhan Bina Kasih?” tanya Sintha langsung.
Xavier terdiam dengan kening berkerut karena pertanyaan Sintha di luar dugaan Xavier. Beberapa saat kemudian, barulah Xavier mendongak menatap Sintha. “Kenapa kau menanyakan itu?”
Sintha menatap Xavier kesal. “Bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku, bukannya malah balik bertanya?”
Xavier tidak suka dengan ucapan Sintha namun dia mengalah. Sejenak dia berpikir, mengingat-ingat tentang panti Bina Kasih. “Iya, aku ingat. Itu panti yang menggunakan salah satu gedung bekas pabrik milik Abraham Group sebagai tempat bernaung. Bahkan setiap bulan perusahaan selalu menyumbangkan dana untuk mereka atas wasiat papa.”
Sintha terdiam. Sepertinya Pak Iwan sempat menyebut tentang papa Xavier yang menjadi donatur terbesar di panti itu. “Jadi, sampai sekarang Abraham Group masih menjadi donatur panti Bina Kasih?”
“Sudah tidak lagi sejak tiga tahun terakhir karena pengurusnya sudah meninggal dan anak-anak panti pergi begitu saja.” Wajah Xavier berubah muram. “Sebenarnya aku bermaksud mengambil alih kepengurusan panti dan mengangkat orang lain sebagai pengurus. Tapi saat itu aku sudah terikat kursi roda dan Vero bilang tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari panti itu. Sungguh aku merasa bersalah pada papa karena sama seperti harta warisan ini, panti itu juga merupakan titipan papa yang seharusnya kujaga.”
Hati Sintha sakit. Ternyata Vero benar-benar busuk. Dia melakukan hal-hal buruk dan membiarkan Xavier yang menanggung akibatnya.
“Jadi surat penggusuran itu, memang atas perintahmu?”
Xavier menatap Sintha tajam. “Darimana kau tahu mengenai surat penggusuran bekas panti itu?”
“Jawab dulu pertanyaanku!” nada suara Sintha pelan namun perintahnya terdengar jelas.
“Iya. Vero bilang tempat itu kini dijadikan lokasi mabuk-mabukan dan judi. Jadi aku membuat surat perintah penggusuran dan berencana membuat pabrik yang baru di sana.”
“Lalu, apa kau sudah tahu bahwa beberapa pabrikmu membuang limbah sembarangan hingga mengakibatkan puluhan nyawa melayang?”
“Apa maksudmu?” nada suara Xavier meninggi. “Kalau hal semacam itu sampai terjadi, Vero pasti sudah memberitahuku.”
Sintha menjangkau tangan Xavier namun lelaki itu menolak sentuhan Sintha. Bahkan dia memalingkan wajah dari Sintha dengan rahang menegang.
Jemari Sintha saling meremas di atas meja. Dia jadi ragu untuk melanjutkan. Baru mendengar hal ini saja Xavier sudah tampak begitu marah. Lalu bagaimana jika dia mengetahui semua kebenarannya?
“Sebenarnya apa yang ingin kau beritahukan padaku?” tanya Xavier akhirnya setelah mereka terdiam lama.
Sintha menggigit bibir. Dia masih ragu. Tapi kemudian Sintha memutuskan untuk memberitahu Xavier sekarang. “Panti Bina Kasih, masih beroperasi sampai sekarang. Bahkan kini panti itu sudah semakin maju. Dengan uang dari hasil menjual kerajinan tangan, pendidikan semua anak telah terjamin. Panti itu tidak lagi tergantung pada uang pemberian donatur.” Sintha menghela nafas sebelum melanjutkan. “Dan pengurus utama panti yang dikenal papamu, beliau masih hidup dan sehat hingga sekarang.”
Xavier masih terdiam dengan pandangan kosong ke arah ranjang. Namun kini jemarinya mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Dia marah. Tapi berusaha menyembunyikannya.
“Darimana kau tahu?”
“Aku sudah mengenal panti itu dan semua yang tinggal di sana sejak mereka masih menggunakan bangunan bekas pabrik sebagai tempat bernaung. Bahkan mereka menganggapku sebagai salah satu pengurus walau aku jarang berada di sana. Lalu kemarin, aku mendapat pesan dari Pak Iwan—pengurus utama panti—agar segera datang ke sana karena ada situasi darurat. Rupanya situasi darurat itu berhubungan dengan rencana penggusuran panti oleh perusahaan Abraham Group. Dan dari beliau juga aku mendengar banyak cerita tentang kerugian yang diakibatkan perusahaan itu terhadap masyarakat. Dan tentu saja, semua yang terjadi atas perintah direktur utama, Xavierous Abraham.”
“Jadi, tadi kau pergi ke panti itu?” tanya Xavier dingin.
Sintha mengangguk. Dia tahu Xavier bisa melihatnya walau saat ini lelaki itu masih menolak menatapnya.
“Kalau benar seperti itu, mengapa aku tidak mendengar adanya keluhan?”
“Mungkin karena keluhan mereka tidak disampaikan padamu.”
Xavier terdiam dengan bibir mengatup rapat. Hatinya mendadak sakit ketika sebuah pemahaman merasuk ke dalam pikirannya.
“Apa menurutmu Vero terlibat?” berat rasanya mengeluarkan pertanyaan itu. Tapi Xavier harus mengetahuinya.
“Kurasa iya.” Jawab Sintha terus terang.
Tiba-tiba Xavier menatap Sintha. Jemarinya terangkat lalu mencengkeram rahang Sintha dengan menyakitkan. “Apa sekarang kau mencoba mengadu domba diriku dan sahabatku?”
Kalau boleh jujur, Xavier mempercayai ucapan Sintha. Pertanyaan itu hanya bentuk pertahanan diri Xavier. Dia berusaha melindungi hatinya yang mulai berdarah.
Sintha sama sekali tidak menjawab pertanyaan Xavier. Air matanya kembali berlinang ketika dia melihat kepedihan di mata Xavier.
“Beri aku satu alasan mengapa aku harus mempercayaimu!” mata Xavier berkilat marah. “Aku tahu kau dibayar Kelis agar mau menikah denganku. Tapi dengan mudahnya kau berbohong pada Kelis seolah aku menyiksamu. Lalu mendadak kau berkata bahwa dirimu bersedia menikah denganku karena cinta dan melemparkan informasi yang tidak masuk akal di hadapanku. Jadi katakan, bagaimana aku bisa mempercayaimu!”
Sintha tersenyum walau rahangnya terasa sangat sakit. “Seperti yang pernah kubilang, kau tidak perlu mempercayaiku.” Meski kesulitan karena cengkeraman Xavier yang tidak mengendur, Sintha tetap berusaha melanjutkan. “Dua hari lagi ada rapat besar di perusahaan untuk menggantikan posisimu. Banyak yang akan hadir termasuk perwakilan masyarakat dan mitra bisnis perusahaan yang merasa dirugikan, serta aparat polisi dan pemerintah setempat. Selain itu dewan direksi juga telah setuju agar jabatanmu digantikan.”
Tangan Sintha terangkat membelai punggung tangan Xavier yang masih berada di rahangnya. “Apapun pilihanmu, aku tidak akan dirugikan. Jika kau memutuskan membela diri dan mempertahankan hakmu, aku akan membantu karena dengan begitu aku akan tetap mendapat nafkah darimu. Tapi jika kau memilih menyerah, aku akan sangat senang karena impianku membangun rumah di desa akan terwujud.”
Cengkeraman Xavier mulai mengendur. Perlahan tapi pasti, dia menarik tangannya. Kemudian dia kembali menatap kosong ke arah ranjang.
Setelah cukup lama terdiam, Sintha mulai tidak sabar. Dengan lembut dia bertanya pada Xavier. “Jadi, apa pilihanmu?”
“Selama aku masih bernafas, aku tidak akan berhenti menjaga apa yang diamanatkan padaku.” Xavier menjawab mantap.
-------------------
♥ Aya Emily ♥