Kamis (10.02), 25 Juni 2020
Masih ada yang nungguin kah?
---------------------
“Selama aku masih bernafas, aku tidak akan berhenti menjaga apa yang diamanatkan padaku.” Xavier menjawab mantap.
Sintha tersenyum bangga. Dia tahu Xavier tidak akan diam saja ketika dirinya diinjak-injak. “Kita hanya memiliki waktu sampai besok. Jadi apa rencanamu sekarang?”
Perlahan Xavier menoleh ke arah Sintha lalu menatapnya tajam. “Kita?”
Jauh dalam hatinya, Xavier mempercayai Sintha. Tapi kenyataan yang baru saja menghantamnya adalah pengkhianatan dari orang yang paling Xavier percaya. Jadi jangan salahkan Xavier jika sekarang dia tidak bisa lagi percaya pada siapapun, terutama Sintha yang di depan matanya sendiri ia melihatnya berwajah dua. Di hadapan Xavier, Sintha berkata ‘a’, tapi di hadapan keluarga tirinya dia berkata ‘b’.
“Tentu saja, kita.” Sintha berkata dengan nada tersinggung. “Kau kira aku akan membiarkan suamiku berjuang sendirian?”
“Aku tidak percaya padamu.”
“Aku tidak butuh kepercayaanmu.” Jawab Sintha menantang.
“Sudah jelas, kan. Aku tidak akan bekerja sama dengan orang yang tidak kupercaya.”
Sintha mendesah kesal. Dia memang tidak bisa menyalahkan Xavier. Lelaki itu dikelilingi para pengkhianat. Wajar jika dia menjadi begitu waspada dan tidak mempercayai siapapun.
“Begini saja. Kau sendiri yang bilang bahwa aku adalah jalang bermuka dua. Pastinya tidak sulit membayangkan jalang sepertiku berusaha mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Jika membantu mereka aku hanya mendapat sejumlah uang, maka dengan membantu suamiku aku akan mendapat harta lebih banyak. Iya, kan?”
Xavier mendengus. “Memangnya aku mau memberimu harta?”
Sintha menyeringai. “Buktinya sekarang aku sudah mendapat kartu kredit. Dan rencananya dalam waktu dekat aku akan menguras hartamu dengan mengajak suamiku tersayang pergi berbelanja.” Sintha mengibaskan rambutnya dengan gaya dramatis. “Jangan anggap remeh kemampuanku menghabiskan uang untuk berbelanja. Seleraku sangat mahal dan berkelas.”
Tawa kecil Xavier lepas begitu saja. Tapi lalu ia berdehem. “Terserah kau sajalah.”
Sintha masih ingin menggoda Xavier tapi ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dilakukan. “Jika terserah padaku, sekarang kau harus ikut bersamaku ke panti Bina Kasih. Mereka harus mengenalmu secara langsung.”
Sebenarnya Xavier juga berencana seperti itu. Namun dirinya masih ragu untuk mempercayai Sintha. Orang yang dikenalnya selama bertahun-tahun saja sanggup berkhianat, apalagi hanya orang yang baru dikenalnya beberapa hari.
“Astaga, Xavier. Buka matamu!” jemarinya Sintha mengepal di depan wajah Xavier seperti hendak mencengkeram wajah lelaki itu. Dia sungguh merasa gemas.
Xavier tersentak kaget karena gerakan tangan Sintha di depan wajahnya. Memang cukup jauh, kira-kira dua jengkal. Tapi Sintha benar-benar sudah bersikap kurang ajar padanya. “Apa-apaan kau? Begitu kelakuanmu pada suamimu?” Xavier melotot.
“Oh, sekarang kau bersedia mengakui bahwa dirimu adalah suamiku. Tapi suami macam apa yang meragukan istrinya sampai seperti ini? Seharusnya kita bercerai saja.” Sintha berkata dengan nada tinggi.
“Ide bagus. Kita bercerai sekarang!”
Seketika wajah Sintha berubah menyedihkan. Kedua alisnya meyatu. Matanya berkaca-kaca dan sudut bibirnya melengkung ke bawah. Bibirnya bawahnya maju seperti anak kecil yang siap menangis keras.
Keseluruhan ekspresi Sintha sekarang menyerupai anjing malang yang diusir majikannya. Seandainya Sintha memiliki telinga panjang layaknya anjing, pasti kedua telinganya menekuk ke bawah dengan memelas.
“Jangan.” Ujar Sintha pelan di sela bibirnya yang semakin maju.
Dua detik setelah Sintha berucap, tawa keras Xavier lepas. Lelaki itu terus tertawa hingga sudut matanya berair.
Sintha yang melihatnya tersenyum senang. Dia sengaja mengatakan ‘cerai’ karena sudah menduga jawaban Xavier. Memang Sintha berniat untuk membuat Xavier tertawa. Tapi yang tidak disangkanya, lelaki itu bisa tertawa begitu lepas tanpa ditahan-tahan lagi.
“Aku yakin tidak akan pernah bosan melihatmu tertawa dan tersenyum walau rambut kita sudah memutih dan tubuh kita mulai ringkih.” Ujar Sintha setengah melamun dengan pandangan tertuju pada wajah Xavier.
Xavier yang mendengar ucapan Sintha, perlahan tawanya reda. Sungguh wajahnya terasa panas karena malu dan salah tingkah. “Sok puitis sekali.”
“Aku serius.” Ucap Sintha dengan senyum lembutnya.
“Sudahlah,” Xavier mengibaskan tangan. “Hentikan obrolan tidak berguna ini.”
“Kau yang mulai.” Sergah Sintha.
“Siapa yang mengungkit tentang perceraian?” balas Xavier tidak mau kalah.
“Siapa yang lebih dulu susah percaya padaku? Padahal kalau kau mau berpikir sedikit saja, memangnya kau bisa menghentikan mereka seorang diri? Kau butuh seseorang sebagai kaki dan tanganmu.” Sintha melemparkan fakta yang berusaha disangkal Xavier.
“Baiklah, kau menang.”
“Jadi, apa hadiahku?” tanya Sintha dengan nada menggoda.
Xavier menatap Sintha malas. “Aku akan memberimu kesempatan. Sekarang antarkan aku ke panti Bina Kasih.”
Senyum Sintha merekah. Dia langsung melonjak dari kursinya seperti anak kecil lalu berjalan cepat mengitari meja dan berdiri di belakang kursi Xavier. Tanpa aba-aba dia memeluk Xavier dari belakang.
“Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan, suamiku.” Ucap Sintha lembut lalu mengecup pipi Xavier.
Xavier sendiri tidak menoleh perlakuan Sintha. Bahkan bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dia tidak bisa menyangkal perasaan nyaman yang melingkupi dirinya ketika berada dalam pelukan Sintha.
***
Mobil mewah yang baru memasuki pintu gerbang panti Bina Kasih langsung menjadi pusat perhatian. Seluruh penghuni sudah tahu siapa yang akan berkunjung karena Sintha mengirim pesan kepada pengurus utama panti mengenai kunjungannya bersama sang suami.
Tidak seperti biasa, semua anak diam membisu dan memilih tetap berdiri di tempat ketika Sintha turun dari mobil. Sintha sendiri juga tidak langsung menghambur ke arah anak-anak karena dia segera memutar ke kursi sebelah untuk membuka pintu bagi Xavier.
Kali ini Sintha meminta sopir dan pelayan khusus yang biasa membantu Xavier berpindah tempat untuk ikut serta. Dengan sigap si pelayan sudah menyiapkan kursi roda Xavier lalu membantu lelaki itu pindah.
Sintha menggigit bibir sambil meringis melihat wajah Xavier yang berusaha menyembunyikan rasa sakit. Mata Sintha panas karena air mata yang memaksa keluar. Namun dia menahan diri. Dia tidak boleh terlihat cengeng disaat Xavier sendiri berusaha menunjukkan bahwa dirinya kuat.
Setelah Xavier duduk nyaman di kursi roda, Sintha langsung berjalan ke belakang Xavier lalu mendorong kursi lelaki itu menghampiri penghuni panti yang berbaris seperti kerumunan massa.
“Hai, semua!” Sintha menyapa karena semua orang masih terdiam.
“Hai, Kak!” jawab anak-anak itu kompak. Tapi setelah sapaan singkat itu, suasana kembali hening.
Sejenak Sintha menatap seluruh penghuni panti yang masih fokus menatap Xavier. “Hari ini Kakak datang bersama Mr. Xavierous Abraham.” Lagi-lagi Sintha memecah keheningan. “Ayo sapa Mr. Xavier!”
“Hai, Mr. Xavier.” Anak-anak kembali menjawab kompak. Tapi seperti tadi, suasana kembali hening setelah sapaan itu.
Kesal, Sintha berdiri di samping Xavier dengan kedua tangan di pinggang. “Pak Iwan, otak mereka ditanami chip ya? Kenapa berubah menjadi robot seperti ini?”
Xavier menoleh menatap Sintha. “Kau terlalu banyak menonton film.”
“Daripada kau hanya bolak-balik mengecek berkas perusahaan hingga kepalamu botak.” Sergah Sintha sambil menjulurkan lidah.
Otomatis jemari Xavier terangkat menyentuh rambut tebalnya. “Aku tidak botak.”
“Darimana kau tahu? Kuperhatikan kau sudah lama tidak berkaca.”
“Aku tidak butuh kaca untuk tahu bahwa aku botak atau tidak.”
Mendadak perdebatan mereka terhenti karena tawa keras anak-anak sementara penghuni yang lebih dewasa berusaha menahan senyum geli.
Seketika wajah Xavier berubah merah dan dia menjadi salah tingkah. Sintha memang selalu berhasil memancing emosinya. Bahkan sekarang Xavier melupakan keadaan sekeliling hingga bisa dengan mudah adu pendapat konyol dengan Sintha di hadapan orang banyak.
Berbeda dengan Xavier, Sintha sama sekali tidak merasa malu. Dia sudah biasa bertingkah aneh dan konyol untuk menghibur anak-anak.
Sintha berbalik kembali ke arah penghuni panti lalu memasang wajah garang. “Apa ini? Kalian menertawakan suamiku?”
“Hah, suami?” celetuk salah satu anak usia SMP yang juga duduk di kursi roda.
Pertanyaan anak itu juga memancing rasa penasaran anak yang lain.
“Iya, suami.” Ujar Sintha seraya menoleh ke arah Xavier dengan senyum bangga.
“Kapan Kak Avalee menikah? Kenapa kami tidak diundang?” tanya salah satu anak.
Sintha tersenyum hendak menjelaskan tapi kata-katanya terhenti karena pertanyaan Xavier.
“Avalee?”
DEG.
Sintha menelan ludah panik. Dia lupa bahwa semua penghuni panti mengenalnya sebagai Avalee. Perlahan dia mengintip takut ke arah Xavier yang sudah melotot. “Nanti. Kita bicarakan ini di rumah.” Janjinya.
“Kak Avalee, kenapa kami tidak diundang?” anak yang tadi kembali bertanya. Kini matanya berkaca-kaca.
Sintha segera menghampiri anak itu lalu memeluknya. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu bernama Amel. Dia memang sangat dekat dengan Sintha. Pasti dia merasa diabaikan karena Sintha tidak mengundangnya ke pernikahan.
“Cup, Sayang.” Lalu Sintha sedikit mengeraskan suara agar semuanya mendengar. “Pernikahan kakak waktu itu hanya acara sederhana yang dihadiri keluarga. Setelah ini kakak akan mengadakan pesta pernikahan lagi dan kalian semua akan menjadi tamu undangan.”
Xavier melongo. Apa yang dilakukan wanita itu? Dia merencanakan pesta pernikahan tanpa meminta persetujuan darinya. Memangnya hanya dia sendiri yang akan menikah?
Anak-anak yang mendengar ucapan Sintha langsung melonjak senang. Kini mereka tidak lagi bersikap kaku seperti tadi.
Anak yang juga menggunakan kursi roda mendekati Xavier sementara teman-temannya asyik berbincang dengan Sintha atau hanya diam memperhatikan Xavier.
“Tuan Xavier, bagaimana caramu bisa menikah dengan wanita secantik kak Avalee?” tanya anak itu setengah berbisik.
Xavier menatap anak itu tanpa senyuman tapi keningnya berkerut menandakan dirinya merasa heran atas pertanyaan si anak. “Siapa namamu?” lebih dulu Xavier menanyakan nama si anak.
Anak itu berdehem lalu menegakkan punggung seraya mengulurkan tangan ke arah Xavier. Tadi pengurus utama panti sudah memberitahu bahwa orang yang akan berkunjung adalah pemilik perusahaan besar Abraham Group. Jadi dia merasa bangga karena Xavier menanyakan namanya. “Nama saya Kiki, Tuan Xavier.” Jelas anak itu tegas.
Sudut bibir Xavier terangkat. Dia kagum pada keberanian anak itu. Padahal orang dewasa saja biasanya gentar berhadapan dengan Xavier yang hanya menampilkan wajah dingin dan datar. Terutama melihat anak yang berani menatap matanya langsung itu juga duduk di atas kursi roda seperti dirinya.
“Baiklah, Kiki.” Xavier mengingat kembali pertanyaan Kiki. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Kiki tersenyum malu. “Yah, Anda pasti mengerti kan? Orang cacat biasanya sulit mencari pasangan.”
Kali ini Xavier tersenyum. “Aku sama sekali tidak mencarinya. Dia sendiri yang datang menemuiku.”
“Oh, maksud Anda ini berhubungan dengan takdir?” tanya Kiki antusias.
“Mungkin saja.”
“Hey, kalian berdua bicara apa?” Sintha yang baru saja mendekati mereka bertanya.
Buru-buru Kiki menggeleng. “Tidak, Kak. Kami tidak membicarakan Kakak.” Kiki mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Kiki, kalau kau berkata seperti itu, dia jadi tahu bahwa tadi kita sedang membicarakan dirinya.” Sahut Xavier sambil berdecak.
“Oh, jadi kalian membicarakanku ya?” tebak Sintha dengan mata menyipit. “Kenapa? Apa karena aku cantik?”
“Kau terlalu percaya diri.”
“Bagaimana Kakak tahu?”
Xavier dan Kiki menyahut bersamaan.
Sekali lagi Xavier menatap Kiki kesal. “Kau itu terlalu jujur.”
“Kau itu yang terlalu pintar berpura-pura.” Balas Sintha. “Sudahlah, sekarang ayo kita masuk. Tuan Xavier sudah membelikan banyak oleh-oleh.”
Setelahnya suasana menjadi gaduh karena sorak dan pekik seluruh penghuni panti Bina Kasih. Terutama ketika sopir dan pelayan pribadi Xavier mengeluarkan banyak barang dari mobil yang dibantu penghuni panti.
----------------------
♥ Aya Emily ♥