Kobaran api menjulang tinggi, menelan dinding dan atap, melumat segala sesuatu yang pernah menjadi sebuah bangunan kokoh, hingga langit siang nampak berubah merah menyala bagai neraka terbuka. Asap hitam pekat menggulung, menyesakkan udara, membuat setiap tarikan napas seperti menelan bara yang panas. Suara kayu yang patah disertai letupan kaca dan desingan logam panas berpadu menjadi simfoni bencana yang begitu riuh sekaligus menakutkan. Di tengah kepungan itu, seorang anak gadis kecil berlari terhuyung. Langkahnya gontai, napasnya berat, dad4 terasa seperti terbakar setiap kali ia menghirup udara yang penuh asap. Keringat bercampur dengan air mata di wajahnya, menetes bersama jelaga yang menodai kulitnya. Ia bahkan tak lagi mampu membedakan mana yang lebih panas—air matanya, atau hawa a