Bab 44

1040 Words

Lidia menarik napas panjang dan menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dari toilet. Langkah kakinya sempat ragu, seperti ada beban yang masih menahan dari dalam dirinya. Ia menoleh sejenak ke arah cermin di balik pintu, memastikan wajahnya tak lagi menampilkan emosi yang tadi dan sedang coba ia sembunyikan. Bekas merah di sudut matanya sudah lebih samar, walau tak sepenuhnya hilang. Foundation tipis yang biasa memberi kesan rapi kini sedikit luntur, memperlihatkan tekstur asli kulitnya yang lembut. Justru itulah yang membuat raut wajahnya tampak lebih nyata—bukan Lidia sekretaris yang selalu terlihat sempurna, melainkan Lidia manusia biasa yang kadang lelah dan rapuh menjalani hidup. Ada rasa dingin yang masih tertinggal di kulit pipi Lidia, sisa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD