Bab 42

1259 Words

Lidia melangkah keluar dari restoran dengan langkah yang teratur, meski di balik sikap anggun itu dadanya masih bergetar hebat. Percakapan singkat dengan kakaknya Laras tadi seakan meninggalkan jejak yang sulit dihapus, bercampur rasa gundah, bingung dan rasa bersalah. Udara siang kembali menyambutnya dengan hangat ketika Lidia keluar dari restoran, angin semilir membawa aroma dedaunan dan sisa wangi masakan dari restoran. Lidia berhenti sejenak di tangga depan restoran, menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran hatinya sebelum kembali berhadapan dengan Roby. Ia tahu, pria itu bisa dengan mudah membaca gelagat sekecil apa pun—dan ia tidak ingin Roby curiga. Begitu kakinya melangkah memasuki area parkiran, matanya langsung menangkap siluet mobil hitam mengilap milik Roby. Mobil i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD