Bab 41

1116 Words

Lidia duduk kembali di kursinya setelah Roby meninggalkan ruangan. Kursi itu terasa dingin di punggungnya, seolah menyerap gugup yang berputar di dadanya. Ruang privat restoran yang tadinya dipenuhi percakapan bisnis kini berubah wajah. Keheningan menebal, menyelip di antara dinding berlapis kayu dan ornamen elegan yang tadinya terasa hangat, kini bagai penjara kecil yang menahan dua perempuan dengan beban masing-masing. Hanya ada suara halus pendingin ruangan yang terus menderu, dan alunan musik instrumental yang mengalir samar dari pengeras suara di sudut langit-langit—lagu klasik yang seharusnya menenangkan, tapi justru menambah berat hening di antara Lidia dan Laras. Lidia menunduk. Matanya jatuh pada tablet dan buku catatan di depannya, jari-jarinya meraba pena yang sudah tidak lagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD