Prolog
Plakkkk!!!
Suara tamparan itu menggema di dinding kamar hotel yang masih berantakan. Napas Flora memburu, wajahnya merah padam saat menatap adiknya yang masih meringkuk di balik selimut tebal dengan handuk kimono hotel seadanya.
"Kamu sengaja kan, Anneisa? Jawab!" teriak Flora histeris. "Kamu iri melihatku bahagia? Kamu mau menghancurkan rencana pernikahanku dan merebut Kenzo dariku?!"
Anneisa memegang pipinya yang berdenyut panas. Matanya yang sembap menatap tidak percaya pada kakak kandungnya. "Aku juga korban, Kak! Dia mengambil hal paling berharga milikku!" Anneisa berteriak di sela isak tangisnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam! Yang aku ingat, kepalaku berat karena mabuk dan Kak Kenzo datang menolongku. Itu saja!"
Di sudut ruangan, Kenzo duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Hatinya hancur, namun ingatannya lumpuh. "Kepalaku pening luar biasa semalam... aku hanya ingin mengantarnya ke kamar. Tapi saat bangun... semua sudah sekacau ini."
"Bohong!" Flora menjerit, mencoba menerjang Anneisa namun ditahan oleh orang tua mereka. "Kamu pasti menjebak Kenzo! Kamu memberinya obat perangsang, kan? Kamu haus kemewahan dan ingin menjadi nyonya di keluarga Pratama!"
Dira, ibu mereka, melangkah maju dengan wajah sedingin es. Tidak ada pelukan untuk Anneisa, hanya tatapan penuh jijik. "Cukup! Kita tidak punya waktu untuk drama murahan. Flora, tenanglah. Kenzo, dengarkan tante!"
Dira menarik napas panjang, memberikan putusan yang terasa seperti hukuman mati bagi Anneisa. "Kalian berdua akan menikah siri secara rahasia. Tunggu sampai dipastikan Anneisa hamil atau tidak. Jika tidak, pernikahan ini dibatalkan. Jika iya, Anneisa akan tinggal bersama Kenzo sampai bayi itu lahir. Setelah itu, Kenzo akan tetap menikahi Flora sesuai jadwal."
"Aku setuju!" Devy, ibu Kenzo ikut menimpali dengan cepat. "Semua orang sudah tahu Kenzo dan Flora adalah pasangan idaman. Pengumuman pernikahan sudah tersebar. Ini aib! Kita harus menutupi lubang ini sebelum baunya tercium media."
Bram dan Dio, para ayah yang terhormat, hanya diam mematung. Harga diri keluarga jauh lebih berharga daripada masa depan seorang anak perempuan bungsu.
"Aku juga korban!" Anneisa bangkit, tak peduli lagi dengan tubuhnya yang gemetar. "Lalu setelah melahirkan, kalian mau membuangku begitu saja? Mengambil anakku? Masa depanku hancur! Aku seharusnya mendaftar jadi pramugari bulan depan! Aku juga tidak mau ada di situasi ini!"
"Diam kamu, Anneisa!" bentak Dira tanpa ampun. "Jangan bersikap tidak sopan! Lagipula siapa yang menyuruhmu kegatelan? Mau-maunya dibantu kakak ipar saat mabuk? Kalau kamu tidak memberi celah, Kenzo tidak akan melakukan hal sehina ini!"
Air mata Anneisa luruh. "Dari dulu... selalu Kak Flora yang kalian sayangi. Aku selalu salah, aku selalu jadi sampah di mata kalian!"
Plakkk!!! Satu tamparan lagi mendarat. Kali ini dari ayahnya sendiri.
"Jaga mulutmu!" geram sang ayah. "Kamu bisa menata hidup lagi setelah melahirkan. Jadi pramugari, atau apa pun terserah! Tapi sekarang, tutup mulutmu. Aib ini harus disimpan rapat-rapat demi nama baik kita semua!"
Flora langsung menghambur ke pelukan Kenzo, menangis sesenggukan di d**a pria itu. Namun, di balik bahu Kenzo, senyum tipis yang sangat mengerikan tersungging di bibir Flora.
Ia tidak menyesal. Sebulan lalu, dokter memvonis rahimnya mandul. Sebuah fakta yang akan membuatnya ditendang dari silsilah keluarga Kenzo jika ketahuan. Namun kini, rencananya berjalan sempurna. Anneisa, adik kandungnya yang malang, hanyalah inkubator yang ia sewa secara paksa. Anak yang ada di rahim Anneisa nantinya akan menjadi tiket emas bagi Flora untuk tetap menjadi ratu.
"Kamu kok bisa setega itu sama Kakak? Kamu tahu, sejak remaja aku dan Kenzo sudah bersama. Aku bahkan sudah menyiapkan gaun bridesmaid tercantik untukmu. Aku selalu menyayangimu, Anneisa!" Flora meraung, air matanya jatuh dengan sangat meyakinkan, menyembunyikan senyum kemenangan yang tertelan di tenggorokan.
"Diam kamu, Kak!" Anneisa mendesis, suaranya parau namun tajam. "Berhenti bersikap sok paling tersakiti. Aku yang korban paling menderita di sini! Dari kecil kamu selalu mendapatkan semua kasih sayang, semua pujian, sementara aku hanya bayangan yang dipandang rendah! Bahkan sekarang, saat aku hancur, semua orang hanya peduli pada pernikahan agungmu itu!"
Saat Dira mengangkat tangan dengan emosi yang meluap untuk melayangkan tamparan pada putrinya, sebuah tangan kekar mencegatnya di udara.
"Sudah Tante!" Kenzo berdiri di depan Anneisa, memisahkan gadis itu dari amukan keluarganya. Ada sorot kasihan sekaligus rasa bersalah yang dalam di mata pria itu. "Aku akan bicarakan ini dengan Anneisa sesuai kemauan kalian. Menikah siri, mengambil anak itu nanti, dan setelahnya aku akan menanggung seluruh masa depannya."
Kenzo menarik napas berat, mencoba menstabilkan situasi yang sudah hancur. "Pernikahanku dengan Flora tetap berjalan sesuai jadwal tahun depan. Kita hanya perlu memastikan rahim Anneisa aman sampai waktunya tiba. Aku yakin, Anneisa juga tidak mau menjadi ibu tunggal dan menanggung malu seumur hidup. Menyerahkan anak itu pada aku dan Flora adalah solusi terbaik."
Kenzo menyembunyikan Anneisa di belakang punggungnya, melindunginya dari tatapan benci orang-orang di sana. Di belakang punggung kekar itu, Anneisa tiba-tiba berhenti terisak. Bahunya yang tadi gemetar kini tegak. Isak tangis yang memuakkan itu menghilang, digantikan oleh keheningan yang dingin.
Rasa perih di pipinya masih ada, namun rasa sakit di hatinya baru saja membeku menjadi baja. Ia menatap punggung Kenzo, lalu beralih pada Flora yang bersandar manja di lengan ayahnya, dan pada kedua orang tuanya yang menatapnya seolah ia adalah noda di kain putih.
Anneisa mengepalkan tangan kuat-kuat. Mimpi menjadi pramugari dan terbang tinggi di angkasa kini terasa seperti dongeng masa kecil yang naif. Ia tidak butuh terbang ke awan untuk menjadi kaya. Untuk mewujudkan cita-citanya! Masa depannya kini ada di sini, di balik dinding megah kediaman Pratama.
Ia akan menjadi parasit paling mahal, paling indah, dan paling mematikan yang pernah mereka pelihara.
****