Penjahat Kaya

1114 Words
"Kamu kenapa?" Suara berat Kenzo membelah hiruk-pikuk dentum musik yang memekakkan telinga. Dengan gerakan cekatan, ia menangkap tubuh Anneisa tepat sebelum wanita itu mencium lantai marmer yang dingin. Calon adik iparnya itu terhuyung, nyaris tak mampu menumpu berat badannya sendiri. Suasana pesta kolaborasi antar perusahaan itu sudah tidak lagi terkendali. Aroma alkohol yang menyengat bercampur dengan parfum mahal yang menyesakkan. Di tengah aula, orang-orang berpakaian formal kini kehilangan wibawa, berjoget ria mengikuti tempo musik yang semakin liar. "Sebentar lagi aku terbang tinggi! Kamu, coba katakan, apa aku sudah cocok jadi pramugari?" Anneisa tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar kosong. Ia menatap Kenzo dengan mata sayu yang kehilangan fokus. "Dengan kecantikanku? Body-ku yang bagus? Rambutku yang indah? Aku memang diciptakan untuk terbang seperti bidadari, bukan?" Anneisa menepuk pundak Kenzo dengan manja, jari-jemarinya yang lentur sempat mengusap kerah kemeja pria itu, tanpa menyadari siapa sosok yang sedang ia goda. Kenzo menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan aroma manis yang menguar dari napas Anneisa. "Kamu mabuk? Ayo aku antar ke kamarmu. Kamu menginap di nomor berapa?" "Kamu harus ingat umur!" Anneisa tiba-tiba menuding d**a Kenzo sambil terkikik. "Wajahmu memang tampan, tapi kalau dilihat-lihat, kamu sudah seumuran kakakku! Sudah tiga puluhan! Aku baru dua puluh dua tahun! Masa depanku masih panjang, Om! Jadi stop modus! Berhenti peluk-peluk aku!" Kenzo tidak menjawab. Ia tahu berdebat dengan orang mabuk hanya membuang waktu. Dengan satu gerakan tegas, ia membimbing, setengah memapah Anneisa keluar dari keramaian. Namun, saat mencapai lorong kamar, kepala Kenzo mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mengabur sejenak. Ia merasa ada yang salah dengan minuman yang sempat ia teguk di bar tadi. Tanpa pikir panjang, ia membawa Anneisa masuk ke kamar terdekat yang merupakan miliknya sendiri. Namun, tepat saat daun pintu tertutup, ada bunyi klik yang dingin terdengar. Seseorang telah menguncinya dari luar. "Kenapa tiba-tiba rasanya panas..." suara Anneisa memecah kesunyian kamar yang remang. Di bawah pengaruh alkohol yang ternyata bercampur zat lain, kesadaran Anneisa benar-benar luntur. Ia mulai melucuti gaun sutranya, membiarkannya tergeletak tak berdaya di lantai, menyisakan pemandangan yang membuat napas Kenzo tercekat. "Anneisa, berhenti..." Kenzo mengerang. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Rasa panas yang tidak wajar mulai membakar pembuluh darahnya, mengikis kewarasan yang tersisa. Anneisa mendekat, kulitnya yang terasa sejuk di bawah suhu ruangan membuat ia mencari kenyamanan. Ia memeluk Kenzo erat, menyandarkan kepalanya di d**a pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya itu. "Anneisa, ini salah! Ayo menjauhlah!" Kenzo berusaha mendorong bahu wanita itu, namun tangannya justru terasa lemas, seolah seluruh syarafnya telah dikhianati oleh nafsunya sendiri. Anneisa tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, sementara otaknya seolah direndam dalam cairan panas yang melumpuhkan logika. Ia hanya terus mencari perlindungan di dalam pelukan Kenzo, mengeratkan jemarinya pada kemeja pria itu hingga buku-buku jarinya memutih. Aroma maskulin Kenzo yang bercampur alkohol, terasa seperti candu yang mematikan. Hingga akhirnya, Anneisa mendongak. Dengan mata sayu yang nyaris tertutup, ia menempelkan bibirnya yang bergetar dengan lembut di bibir Kenzo. Sentuhan itu adalah pemicu ledakan. Benteng pertahanan terakhir Kenzo runtuh sepenuhnya. Kenzo spontan membalas ciuman itu dengan sangat rakus, sebuah ciuman yang tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Kesadarannya sudah benar-benar kabur. Ia bukan lagi pria terhormat calon kakak ipar, melainkan seorang tawanan dari zat kimia yang meracuni darahnya. Dengan gerakan kasar yang tak tertahankan, ia menuntun Anneisa ke ranjang besar di tengah kamar remang itu. Suara gesekan pakaian yang dilepaskan dengan terburu-buru dan deru napas yang memburu memenuhi ruangan yang terkunci rapat dari luar. Kenzo mengingat malam itu dengan memijit keningnya kuat-kuat. Bayangan-bayangan samar tentang sentuhan panas dan erangan halus yang menghancurkan kewarasannya terus berputar di kepalanya. Di hadapannya, Anneisa, wanita yang beberapa jam lalu menangis histeris karena dihakimi banyak orang kini duduk santai. Ia menyandarkan punggungnya di kursi beludru mahal milik keluarga Pratama, seraya memakan butiran anggur dari mangkok besar dengan gerakan yang hampir terlihat provokatif. "Aku tidak mengerti kenapa aku bisa terpengaruh obat. Tapi yang pasti, aku tidak percaya padamu. Aku curiga ini jebakanmu!" Kenzo bersuara, nadanya rendah dan penuh penekanan. "Aku tidak pernah menyukaimu, Anneisa. Bagiku, kamu tetap adik dari wanita yang kucintai. Kamu sudah mendengar sendiri apa keputusan orang tua kita. Pernikahan siri kita nanti hanya formalitas, sampai anak itu lahir." Anneisa menghentikan gerakan tangannya. Ia menelan anggur itu perlahan, lalu menatap Kenzo dengan binar mata yang kini tak lagi menyimpan ketakutan. Hanya ada kedinginan yang tajam di sana. "Kalian bisa ya, seenaknya ngomong seolah hanya kamu dan Flora yang jadi korban?" Anneisa terkekeh sinis, suaranya terdengar merdu namun menyakitkan. "Tapi aku? Kamu sudah mengambil milikku, Kenzo! Aku yakin otak kotormu itu mengingat betapa buasnya kamu semalam!" Ia berdiri, melangkah mendekat ke arah Kenzo hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum Kenzo yang semalam membuatnya gila, kini hanya memicu amarah di dadanya. "Darah di ranjang kita tadi sudah cukup membuktikan bahwa kamu adalah orang pertama yang merusak hidupku!" Anneisa menuding d**a Kenzo dengan telunjuknya. "Jangan bersikap seolah kamu yang paling menderita hanya karena harus menikahiku. Aku yang kehilangan masa depanku! Jika kamu mau memastikan aku yang menjebak atau bukan, segera selidki!" Kenzo membuang muka, rahangnya mengeras. "Aku akan memberi kompensasi. Kamu tidak akan kekurangan satu sen pun." "Kompensasi?" Anneisa tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Bagus. Karena mulai detik ini, harga diriku sudah mati. Dan sebagai gantinya, aku ingin hidupmu dan keluargamu tidak tenang." Ia kembali ke kursinya, mengambil butiran anggur terakhir dan mengangkatnya tinggi. Alih-alih memakannya, ia menjatuhkannya ke lantai lalu menginjaknya dengan kaki telanjang. "Ingat ini, Kenzo. Kalian memintaku menjadi wadah untuk pewaris kalian? Maka aku akan menjadi wadah paling mahal yang pernah ada. Siapkan limit kartu kreditmu, karena aku tidak berniat menjadi istri siri yang hemat. Setiap luka yang kudapatkan dari makian kalian semua, akan aku tukar dengan angka di saldo rekeningku." Anneisa tersenyum manis, namun matanya tetap sedingin es. "Dan ya, aku harap kamu jadi suami yang baik saat aku hamil nanti." Kenzo menatap Anneisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara kemarahan yang tertahan dan rasa muak. "Jadi ini rencanamu, kan? Menjebakku, pura-pura jadi korban, lalu menguras hartaku? Menghancurkan pernikahanku dengan kakakmu?" Anneisa tidak lantas meledak. Ia justru menyesap jus jeruk di atas meja dengan tenang, seolah tuduhan Kenzo hanyalah angin lalu. Setelah meletakkan gelasnya dengan dentingan yang sengaja dikeraskan, ia mencondongkan tubuh ke depan. "Terserah apa katamu, Kenzo! Mau aku membela diri seribu kali pun, mau aku bersumpah di bawah kitab suci sekalipun, kalian juga akan tetap membuangku dan memperlakukanku dengan tidak adil, kan?" suara Anneisa mendadak merendah, namun setiap katanya tajam seperti sembilu. "Kalian sudah melabeliku sebagai pelakor, wanita kegatelan, dan penghancur kebahagiaan kakakku sendiri. Jadi buat apa aku membuang energi untuk terlihat baik di matamu?" Anneisa mengedikkan bahu dengan acuh tak acuh. "Kalau aku harus menjadi penjahat di cerita kalian, maka aku akan menjadi penjahat yang paling kaya. Itu adil, bukan?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD