Ruang donor terasa lebih dingin hari ini.
Entah karena pendingin udara yang terlalu tinggi, atau karena tubuhku memang belum sepenuhnya pulih sejak kemarin.
Aku duduk di ranjang kecil dengan lengan baju digulung, menatap jarum yang belum juga menusuk kulitku.
Perawat sibuk menyiapkan alat, sementara aku mencoba mengatur napas.
“Ini donor lanjutan ya?” tanya perawat itu ramah.
Aku mengangguk. “Iya, Suster.”
“Kalau pusing atau mual, langsung bilang.”
“Iya.”
Jawabanku terdengar tenang, padahal di dalam d**a, ada sesuatu yang bergetar tidak jelas.
Aku melirik ke arah pintu. Setengah berharap Ethan akan masuk, berdiri di sana, atau setidaknya menanyakan keadaanku.
Pintu tetap tertutup.
Perawat membersihkan lenganku dengan kapas alkohol. Bau antiseptik kembali menusuk, sama seperti kemarin. Namun hari ini rasanya lebih menyengat.
Saat jarum akhirnya menusuk kulit, aku meringis pelan.
“Tarik napas,” kata perawat.
Aku menuruti.
Kantong darah perlahan terisi. Cairan merah tua itu mengalir keluar dari tubuhku, sedikit demi sedikit.
Aku memalingkan wajah, tidak ingin melihat terlalu lama.
Beberapa menit berlalu. Kepalaku mulai terasa ringan. Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang.
Ini hanya donor darah, kataku pada diri sendiri. Banyak orang melakukannya.
Namun kali ini berbeda.
Tubuhku terasa lebih lemah dari kemarin. Jantungku berdetak lebih cepat, dan ada rasa dingin yang merambat dari ujung jari.
Aku melirik jam di dinding. Sudah dua puluh menit.
“Suster,” panggilku pelan.
“Iya?”
“Apa suamiku datang?”
Perawat itu melirik ke arah pintu. “Belum, Bu. Tapi tadi saya lihat dia di ruang ICU.”
Ruang ICU. Tempat Lydia berada.
“Oh, begitu,” jawabku singkat.
Aku menutup mata.
Di ruang lain, beberapa meter dari tempatku berbaring, Ethan sedang duduk di sisi ranjang Lydia. Dia memang di sana. Bukan bersamaku.
Aku membuka mata ketika pandanganku mulai berkunang-kunang. Langit-langit putih di atasku tampak berputar pelan.
Aku menarik napas dalam-dalam, tapi udara terasa tidak cukup.
“Suster,” kataku lagi, kali ini lebih lemah.
Perawat itu segera mendekat. “Apa terasa 0using?”
“Sedikit.”
Perawat itu memeriksa alat, lalu tersenyum menenangkan. “Sudah hampir selesai. Sebentar lagi.”
Aku mengangguk.
Tanganku terasa dingin. Kakiku juga.
Aku menatap pintu lagi dan masih tertutup.
Dia pasti sibuk, pikirku. Dia pasti akan datang setelah ini.
Aku berpegang pada harapan kecil itu seperti orang tenggelam yang meraih serpihan kayu.
Ketika jarum akhirnya dilepas, tubuhku terasa jauh lebih ringan, terlalu ringan.
Perawat menekan bekas tusukan dengan kapas, lalu membantuku duduk.
“Pelan-pelan,” katanya.
Aku mencoba tersenyum. “Terima kasih.”
Perawat memberiku segelas air dan menyuruhku istirahat sejenak.
Aku duduk sendirian. Tidak ada langkah kaki yang mendekat. Tidak ada suara yang memanggil namaku.
Aku menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Aku mulai merasa dingin. Tanganku gemetar sedikit. Aku memeluk lenganku sendiri.
Akhirnya pintu terbuka, tapi bukan Ethan.
Seorang perawat lain masuk untuk mengambil kantong darah yang sudah penuh. Perawat itu mengangkatnya dengan hati-hati, seolah itu benda rapuh yang sangat berharga.
“Kami akan langsung membawanya ke pasien,” katanya.
Aku mengangguk pelan. “Tolong… jaga baik-baik.”
Perawat itu tersenyum singkat. “Tentu.”
Pintu kembali tertutup. Aku sendirian lagi. Ketika akhirnya aku berdiri, kakiku hampir menyerah.
Aku berpegangan pada dinding, berjalan pelan keluar ruangan. Lorong terasa lebih panjang dari biasanya.
Di kejauhan, aku melihat Ethan berdiri di depan ruang ICU sembari berbincang dengan dokter.
Aku melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa langkah sebelum sampai. Kakiku mendadak berat, seolah hatiku sudah tahu apa yang akan kulihat.
Dokter itu pergi setelah menjelaskan sesuatu. Ethan mengangguk berkali-kali, lalu tersenyum kecil.
Senyum lega. Senyum penuh harap. Senyum yang tidak pernah Ethan berikan padaku selama kami menikah.
Tanpa sadar, aku bersembunyi di balik dinding ketika Ethan membuka pintu ruang ICU.
Aku mengikutinya perlahan membuka sedikit pintu. Aku cukup dekat untuk mendengar karena posisi ranjang Lydia bersebelahan dengan pintu
“Dokter bilang hasilnya bagus.”
Suara Ethan lembut, jauh berbeda dari nada dinginnya padaku. “Kamu aman sekarang.”
“Aku takut,” jawab Lydia lirih. “Aku pikir… aku tidak akan bangun lagi.”
Ethan mendekat. Aku tahu tanpa melihat.
“Aku di sini,” katanya pelan. “Aku selalu di ada buat kamu.”
Ada jeda. Sunyi yang berat.
“Kalau bukan karena Elena...” Lydia terhenti.
Ethan menyela cepat. “Jangan pikirkan dia. Kamu hanya perlu fokus untuk sembuh.”
Dadaku menegang. Ethan tak menyebut namaku dengan rasa syukur. Hanya sebagai fakta yang ingin segera dilupakan.
Aku melangkah mundur tanpa suara. Aku tahu kalau aku bukan alasan senyumnya. Aku hanya jalan yang dia lewati demi perempuan lain.
Aku berbalik sebelum Ethan melihatku.
Aku masuk ke kamar mandi rumah sakit dan mengunci pintu.
Lampu putih menyala terang, memperlihatkan wajahku di cermin. Pucat, bibirku nyaris tak berwarna.
Aku menatap diriku sendiri lama. “Tidak apa-apa,” bisikku. “Ini memang tugasku.”
Aku membasuh wajah dengan air dingin. Begitu aku mengangkat kepala lagi, air mata jatuh tanpa peringatan.
Satu.
Lalu dua.
Lalu lebih banyak.
Aku menutup mulut dengan tangan, menahan isak agar tidak terdengar keluar. Bahuku bergetar. Dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku menangis bukan karena lelah tapi karena sendirian.
Aku tidak menangis karena jarum. Bukan karena darah. Melainkan karena aku sadar, di saat tubuhku paling lemah, aku bahkan bukan orang yang diingat.
Aku menyeka air mata kasar, mencoba berhenti. Namun, perasaan itu sudah telanjur pecah.
“Aku istrimu,” bisikku pada bayangan di cermin. “Kenapa aku merasa seperti orang asing?”
Tidak ada jawaban. Kami pulang malam itu tanpa banyak bicara.
Ethan mengantarku sampai rumah, lalu berkata, “Aku harus kembali ke rumah sakit. Lydia belum stabil.”
Aku berdiri di depan pintu, menahan pusing yang kembali datang. “Aku mengerti.”
Ethan menatapku sejenak lalu berkata, “Istirahatlah.”
Lalu ia pergi.
Aku menutup pintu dan bersandar di baliknya. Kunci berbunyi pelan, memisahkan aku dari dunia luar.
Kakiku akhirnya menyerah. Aku meluncur duduk ke lantai. Tangisku kali ini tidak kutahan. Tidak ada yang melihat dan tidak ada yang mendengar.
Mungkin… tidak ada yang peduli juga.
Aku memeluk lutut sendiri. Tubuhku menggigil pelan. Di dalam kesunyian rumah, aku akhirnya mengizinkan diri ini merasakan semuanya.
Sakit.
Kecewa.
Kosong.
Di luar sana, darahku mengalir di tubuh perempuan lain dan memberinya harapan hidup.
Sementara aku merasa kehilangan tempat di rumah sendiri.