Malam itu hujan turun pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup membuat rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aku tahu ada yang berbeda sejak Ethan pulang lebih awal. Dia tidak langsung masuk kamar. Langkahnya terhenti di ruang tamu.
Aku bisa mendengar napasnya yang berat, tertahan, seperti seseorang yang membawa beban yang terlalu lama dipanggul sendirian.
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut masih lembap. Ethan duduk di sofa, jas masih melekat, dasi belum dilepas.
Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya saling menggenggam. Lelaki itu tampak lelah dengan cara yang tidak pernah bisa kuobati sepenuhnya.
“Kamu capek,” kataku pelan.
Ethan menoleh dan tatapan kami bertemu, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu yang jarang muncul, keraguan.
Aku mendekat, berdiri di belakang sofa. Tanganku terangkat ragu, lalu menyentuh bahunya. Tubuhnya menegang lalu mengendur perlahan.
“Mungkin,” kataku dengan suara yang nyaris berbisik, “pijatanku bisa sedikit menenangkanmu.”
Ethan diam beberapa detik. Aku menunggu, menahan napas, berharap diq memilihku walau sekali saja.
Akhirnya Ethan berdiri dan melepas jasnya. Gerakan sederhana itu membuat dadaku menghangat, seolah aku baru saja memenangkan sesuatu yang rapuh.
Kami masuk ke kamar. Lampu kuredupkan. Ethan duduk di tepi ranjang, membelakangiku.
Aku memijat pundaknya perlahan, merasakan otot-otot yang keras oleh kecemasan. Napasnya terdengar berat.
“Kamu belum tidur?” tanyaku.
Ethan menggeleng. “Belum.”
Aku tahu alasannya, tapi tetap bertanya, bodoh dan berharap. “Karena Lydia?”
Ethan mengangguk.
Tanganku sempat berhenti, lalu kulanjutkan dengan sentuhan yang lebih lembut.
“Kamu juga sakit,” kataku. “Kelelahanmu nyata.”
Ethan menghela napas panjang. “Terima kasih, Elena.”
Dua kata itu sederhana, tapi jarang kudengar. Aku bergerak lebih dekat, melingkarkan tangan di dadanya dari belakang. Pipiku menyentuh bahunya.
Ethan tidak menolak. Bahkan bersandar sedikit, seolah menyerahkan diri pada kelelahan.
“Aku di sini,” bisikku. “Aku istrimu.”
Ethan memejamkan mata. Tangannya naik, menyentuh tanganku di lengannya sendiri.
Detik itu membuat jantungku berdegup terlalu cepat. Aku berani berharap mungkin malam ini aku dipilih.
Ethan memejamkan mata. Tangannya naik, menyentuh tanganku di lengannya sendiri.
Aku menahan napas.
“Ethan…” Suaraku pelan dan hampir ragu.
Ethan tidak menjawab. Hanya menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang tercerai di dadanya.
Detik itu membuat jantungku berdegup terlalu cepat. Aku berani berharap mungkin malam ini aku dipilih.
Ethan berbalik perlahan. Jarak kami tinggal sejengkal. Napas kami saling bertemu.
Aku bisa melihat garis lelah di wajahnya. Mata itu, mata yang terlalu sering menatap ke arah lain.
“Lihat aku,” pintaku lirih.
Ethan menatapku, bukan sekilas atau sambil berpikir. Dia benar-benar menatapku lekat.
“Elena…” Suaranya serak.
Aku tidak menjawab. Aku takut suaraku akan merusak momen ini. Tangannya bergerak ke pinggangku, ragu lalu berhenti.
“Kamu dingin?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Tidak.”
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk. “Aku di sini.”
Kalimat sederhana itu seolah membuka sesuatu.
Ethan mendekat. Ciuman itu datang tanpa aba-aba. Singkat, lembut dan seperti menyentuh sesuatu yang mudah pecah.
Aku terdiam sesaat, lalu membalasnya dengan pelan dan hati-hati.
“Ethan…” bisikku di sela napas.
Ethan tidak menjauh. Tangannya sedikit mengencang, lalu kembali longgar. Seolah ia ingin lebih, tapi menahan diri.
“Aku--” katanya terputus.
Aku menempelkan keningku ke keningnya. “Tidak apa-apa.”
Kami terdiam. Napasnya berat.
Tanganku mencengkeram ujung kemejanya. “Tinggallah sebentar.”
Ethan mengangguk kecil. Ciuman itu berlanjut, masih lembut, masih rapuh. Tidak ada desakan. Tidak ada tuntutan.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah dan ingin merasa tidak sendirian. Namun di antara jeda napas itu, aku merasakannya, keraguan dan jarak yang tak kasatmata.
Aku membuka mata lebih dulu.
Ethan masih dekat, tapi aku tahu kalau pikirannya tidak sepenuhnya di sini.
Aku membuka mata lebih dulu.
Ethan masih sangat dekat. Napasnya menyentuh pipiku. Tapi tatapannya… kosong. Seperti jendela yang terbuka ke arah lain.
“Ethan,” panggilku pelan.
“Hm?” jawabnya tanpa benar-benar fokus.
“Kamu di sini?” tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ethan terdiam sesaat. “Aku… iya.”
Jawaban itu tidak meyakinkanku.
Di situlah aku tahu, bahkan saat bibirnya masih menyentuh bibirku, pikirannya tidak sepenuhnya bersamaku.
Aku masih menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.
Aku mencengkeram ujung kemejanya, jariku sedikit gemetar.
“Jangan pergi,” bisikku. “Setidaknya malam ini.”
Tangannya di pinggangku mengencang sejenak. Sentuhan itu membuatku lupa, hanya sesaat, bahwa aku selalu berada di urutan kedua.
“Elena…” katanya lirih, seperti permintaan maaf yang tidak selesai.
“Aku tidak minta banyak,” kataku pelan. “Aku cuma ingin kamu bersamaku. Sekarang.”
Ethan tidak menjawab. Kami larut dalam buaian. Aku yakin kalau malam ini aku bisa sepenuhnya menjadi istri. Namun tiba-tiba Ethan berbisik.
“Lydia…”
Satu nama itu menghentikan segalanya.
Tubuhku membeku. Aku menarik diri selangkah, senyumku runtuh perlahan.
Ethan tersadar, wajahnya berubah pucat. Tangannya menjauh seolah baru saja melakukan kesalahan besar.
“Elena, aku...” katanya terbata.
“Tidak apa-apa,” kataku cepat, bahkan terlalu cepat. “Kamu capek.”
Ethan mencoba mendekat. “Aku tidak bermaksud...”
“Tidak perlu dijelaskan,” potongku.
Suaraku tenang, tapi dadaku kosong. Aku berbalik, ingin pergi, ingin menyelamatkan sisa harga diriku.
“Tunggu,” katanya.
Aku berhenti.
Ada ketegangan di wajah suamiku saat dia berbicara. “Kondisi Lydia semakin memburuk.”
Aku menutup mata sejenak. “Bukankah transfusi darah terakhir sudah membantu?”
“Tidak cukup,” jawabnya. “Penyakitnya berkembang lebih cepat.”
Aku tertawa kecil, tawa yang tak punya suara. “Dan dokter punya opsi lain?"
Ethan mengangguk. “Donor sumsum tulang belakang.”
Aku menatapnya.
“Kamu cocok,” ucapnya lirih. Lalu keheningan menjadi jawabannya.
“Kamu sudah tes?” tanyaku datar.
“Sudah.” Ethan melangkah mendekat.
“Tentu,” bisikku.
“Ini satu-satunya peluang,” jelas Ethan.
“Dan bagaimana denganku?” tanyaku pelan. “Apakah aku hanya peluang yang kebetulan ada?”
Wajahnya menyiratkan rasa bersalah tapi bukan penyesalan. “Aku tidak akan memaksamu.”
Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu.
“Aku tahu,” jawabku.
Aku menelan pahit. Adegan tadi, sentuhan dan ciuman itu ternyata hanya jeda singkat sebelum aku kembali diminta memberi.
“Beri aku waktu,” kataku akhirnya.
Ethan mengangguk. “Aku menunggu jawabanmu.”
Saat Ethan pergi, kamar itu masih menyimpan hangat tubuh kami. Hangat yang kini terasa asing.
Aku duduk di tepi ranjang, menekan dadaku yang sesak.
Ternyata, bahkan ketika aku mencoba merayu suamiku, aku tetap kalah oleh perempuan yang tidak ada di ruangan ini.
Dan aku belum tahu bahwa keputusan setelah malam ini akan mengubah seluruh hidupku.